Pak Raka, sosok ramping dengan otot kaki yang terlatih dan senyum tenang di wajahnya. Ia adalah pandu senior yang selalu gesit. Selama puluhan tahun, Raka sudah menaiki berbagai tangga kapal. Mulai dari kapal kargo tua buatan Eropa Timur, hingga kapal mewah negara-negara tropis. Ia sering terlihat di dermaga, memutar kunci motor sambil menanti giliran bertugas, sambil melakukan peregangan tubuh.
“Feeling itu bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul, tapi pembiasaan,” ucapnya berulang kali kepada pandu-pandu muda.
Suatu hari, ia bertugas bersama Danar, pandu muda bertubuh besar yang baru beberapa tahun bertugas. Nafas Danar kerap ngos-ngosan saat menaiki tangga kapal.
“Saya menguasai teknologi navigasi,” kilahnya suatu kali.
Pak Raka hanya membalas dengan anggukan tipis.
Rasa yang Tumbuh di Jalanan
Masa muda Pak Raka tumbuh di desa nelayan. Tanpa bantuan alat canggih, ia belajar mengenali arah angin dari rimbunnya dedaunan. Ia mengukur pasang surut melalui aroma tanah, dan membaca warna laut untuk menebak kedalaman. Ia berjalan kaki ke sekolah, mengayuh sepeda ke ladang, dan membantu ayahnya menambatkan perahu kala senja. Semua kebiasaan itu, perlahan-lahan, membentuk ketajaman indera dan naluri.
Irama Tangga dan Napas yang Dalam
Hari itu mereka harus naik kapal LNG besar dengan tangga pandu yang cukup menantang. Ombak mengayun, tangga berderit. Danar menatap ke atas, ragu. Nafasnya berat sebelum mulai.
“Jangan pikirkan tingginya, fokus pada irama langkahmu. Naik tangga itu seperti berdansa,” ujar Pak Raka.
Ia menapaki tangga dengan lincah, mencapai dek dalam sekejap. Danar pun mulai memanjat. Setelah belasan anak tangga, ia terhenti, berkeringat, memegang tali erat-erat.
“Yang terpenting bukan kekuatan otot, tapi kepercayaan pada tubuh sendiri!” teriak Pak Raka.
Dengan susah payah, Danar tiba di dek. Pak Raka menyambutnya dengan tepukan hangat.
“Kamu kelelahan bukan karena ukuran tubuhmu, tapi karena tubuhmu tak terbiasa menghadapi tekanan.”
Teknologi Canggih Tak Gantikan Medan Nyata
Dua puluh tahun berlalu, Danar menjadi pengajar utama di Pendidikan & Pelatihan Pandu. Tubuhnya kini lebih ramping, hasil dari kebiasaan bersepeda pagi, naik tangga gedung, dan tidak menyerahkan setir kepada sopir.
Diklat tempatnya mengajar punya fasilitas simulator canggih, tangga virtual yang bisa mensimulasikan gelombang laut dan angin. Tapi setiap akhir pekan, Danar tetap membawa murid-muridnya ke pelabuhan sungguhan.
“Kalian tidak bisa mengunduh feeling dari server,” katanya. “Kalian harus terbiasa dengan keringat dan ketegangan otot, bukan hanya lewat layar.”
Ia masih menyimpan video Pak Raka yang mendaki tangga terakhirnya di usia pensiun, tubuhnya masih lincah, dengan suara khasnya.
“Yang membuat kita renta bukan usia, tapi keengganan untuk bergerak.”
Tubuh sebagai Indra, Gerak sebagai Bahasa
Kepekaan dalam dunia pemanduan bukan semata bakat. Ia tumbuh dari pengalaman fisik, gerakan berulang, dan keakraban tubuh terhadap tantangan nyata. Seperti pelaut tradisional yang membaca arah tanpa kompas, pandu sejati menangkap sinyal dari ayunan air, irama gelombang, dan goyangan tangga.
Ilmu fisiologi menunjukkan bahwa kekuatan otot lutut dan kapasitas jantung berkaitan erat dengan refleks, keseimbangan, dan gerakan spontan. Kesemuanya penting saat menghadapi tangga kapal yang bergerak terus-menerus.
Latihan sederhana seperti jalan kaki cepat, mengemudi motor atau mobil sendiri, hingga naik tangga, dapat melatih kebugaran. Selain itu juga ketepatan rasa, refleks, dan keberanian bereaksi. Hal tersebut adalah fondasi sejati dari “feeling” seorang pandu.
Jejak Rasa di Setiap Anak Tangga
Kini, di ruang pelatihan simulator, Danar menaruh sepasang sepatu tua Pak Raka. Sebuah tulisan kecil tersemat di bawahnya:
“Laut selalu berubah, tapi tubuhmu bisa kau latih untuk mengimbanginya. Langkah demi langkah, rasa demi rasa.”
Danar mengangguk. Ia tahu, feeling bukan warisan. Ia hasil dari ketekunan. Dan selama masih ada tangga untuk dinaiki, rasa itu harus terus diasah.
Siswa Pandu tak hanya belajar membaca peta digital, atau mengenali simbol-simbol navigasi di layar. Mereka juga perlu merasakan langsung suasana lapangan. Mulai, berjalan di dermaga licin menjelang fajar, menghirup aroma solar yang menusuk, dan mengamati ritme gelombang yang tak pernah sama. Di situ, ketajaman rasa mulai terbentuk.
Suatu hari, seorang murid bernama Bima bertanya, “Pak, kenapa Bapak tetap mengemudi sendiri ke pelabuhan? Padahal ada sopir diklat yang siap sedia.”
Danar tersenyum, lalu menjawab, “Kalau kamu terus-menerus diantar, kamu akan kehilangan momen-momen kecil yang penting. Contohnya, menyesuaikan laju saat melintasi jalan rusak, mengantisipasi tikungan tajam, atau mengelola stres saat nyaris terlambat. Semuanya untuk melatih kepekaan.”
Baginya, hidup yang terlalu nyaman dapat menumpulkan naluri. Sedangkan pandu, layaknya penyair laut, dituntut untuk selalu peka terhadap perubahan, dan sigap dalam ketidakpastian.
Sejak kepergian Pak Raka, Danar makin paham, setiap kali menapaki tangga kapal, itu bukan sekadar rutinitas kerja. Itu juga bentuk penghargaan terhadap hidup yang dinamis, penuh tantangan, penuh pelajaran.
Selama laut masih bergelombang, dan tangga-tangga kapal masih menjuntai dari lambung, alasan untuk terus melatih kepekaan tidak akan sirna. Sebab tugas sejati seorang pandu bukan hanya memandu kapal merapat. Dan, selain itu membimbing dirinya sendiri untuk tetap tajam, awas, dan hidup sepenuhnya.















1 Comment