Namanya Ela. Malam mulai turun di Mojokerto. Jalanan dipenuhi kendaraan yang berlomba pulang. Di pojok trotoar sebuah perempatan, seorang gadis kecil berumur sekitar sepuluh tahun terlihat duduk menyender di tiang lampu jalan. Di pangkuannya ada kotak plastik berisi jajanan seperti keripik pedas dan gorengan yang belum banyak terjual sejak sore tadi.
Namanya bukan Ela, tapi untuk melindungi identitasnya, sebut saja demikian.
Seharusnya, Ela kini sedang belajar menulis kaligrafi sederhana atau menggambar rumah dengan langit cerah dan matahari tersenyum. Namun kenyataan hidupnya berbeda jauh. Sejak sang ayah pergi meninggalkan keluarganya dua tahun silam, hidup Ela dan ibunya berubah total. Ibunya kini mengandalkan suara parau dan sebuah gitar lusuh untuk mengamen dari kendaraan ke kendaraan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun hasilnya tetap tak mencukupi.
“Bantu Mama, ya, La,” ucap ibunya suatu malam ketika Ela baru kelas tiga sekolah dasar. “Kalau kamu bisa bantu jualan, kita bisa makan lebih layak, bisa bayar sewa tempat tinggal.”
Ela mengangguk. Ia tidak tahu cara menolak. Meski terlalu kecil untuk mengerti arti keadilan, ia cukup paham apa itu rasa lapar.
Sejak saat itu, malam-malam Ela bukan lagi tentang dongeng atau tontonan anak-anak. Ia berdiri di bawah sinar lampu jalan, menjajakan camilan pada orang-orang yang melintas. Kadang hanya tiga bungkus terjual, kadang tidak satu pun. Bahkan, tak jarang ia menerima tatapan tajam atau hardikan yang membuatnya ciut.
Hari ini adalah 1 Mei—Hari Buruh Sedunia. Di televisi, para tokoh bicara tentang upah minimum, hak-hak pekerja, dan kesejahteraan buruh. Namun, tidak ada satu pun yang menyebut nama Ela.
Karena dalam dunia mereka, Ela bukan seorang buruh.
Padahal, Ela mengerti apa itu kelelahan. Ia tahu bagaimana rasanya menahan kantuk karena belum cukup uang untuk pulang, tahu pahitnya menangis diam-diam saat sepatu satu-satunya rusak dan tak terganti. Ia bahkan sudah terbiasa memaksakan senyum meski hatinya ingin menangis.
Ela memang bukan pekerja pabrik atau penjaga toko. Tapi ia bekerja—karena tuntutan hidup, tekanan ekonomi, dan keadaan yang memaksa.
Ketika malam menunjukkan pukul delapan, ibunya menghampiri dengan napas terengah dan gitar di pundak. “Capek, La?” tanyanya dengan suara lembut.
Ela hanya menjawab dengan anggukan kecil.
Bersama, mereka menghitung uang receh hasil jerih payah hari itu, lalu melangkah menuju kontrakan kecil di gang sempit. Tak ada perayaan Hari Buruh, tak ada spanduk atau orasi. Hanya langit malam dan bintang-bintang yang menjadi saksi perjuangan sunyi dua jiwa yang tidak pernah masuk berita, tak pernah dipanggil ke mimbar, dan luput dari perhatian.
Namun, jauh di dalam hati Ela, ada harapan. Suatu hari nanti, ia ingin menjadi suara bagi anak-anak yang kehilangan masa kecil karena hidup memaksa mereka dewasa sebelum waktunya.
Malam itu, hujan datang tanpa peringatan. Deras dan membasahi setiap sudut kota. Ela dan ibunya belum sempat tiba di tempat tinggal mereka ketika angin kencang menerbangkan kantong plastik dagangan mereka. Kotak berisi camilan terjatuh ke aspal yang tergenang, isinya berserakan. Beberapa bungkus rusak, dan sisanya tak lagi layak untuk dijual.
Ela memandangi makanan yang tercecer dengan mata sembab, lalu menunduk. Tubuhnya menggigil kedinginan. Ia ingin menangis, namun suaranya tercekat.
Sang ibu segera menggandengnya, mencari tempat berteduh di bawah emper toko yang sudah tutup. “Maafkan Mama, La… Mama keliru,” ucapnya lirih.
Ela tak menjawab. Ia hanya memeluk lututnya sendiri, tangannya gemetar. Dalam benaknya, berbagai perasaan berkecamuk—letih, dingin, sedih, dan perlahan-lahan, rasa perih karena ketidakadilan yang mulai ia pahami.
Beberapa meter dari mereka, seorang pria keluar dari mobilnya. Berbalut jas hujan dan membawa payung, ia berjalan mendekat dengan tatapan penuh tanya.
“Dek, kalian nggak apa-apa?” sapanya dengan nada lembut.
Sang ibu buru-buru mengangguk, berusaha terlihat tenang. “Iya, Pak. Kami cuma berteduh sebentar.”
Namun pandangan pria itu menangkap lebih dari sekadar kata-kata.
Ia melihat jajanan yang rusak, gitar tua yang basah, dan seorang anak kecil yang semestinya tidak berada di jalanan malam-malam dalam keadaan seperti ini.
Beberapa hari berselang, sebuah mobil berhenti di depan kontrakan sederhana tempat Ela tinggal. Pria yang sama turun dari kendaraan, kali ini ditemani petugas dari dinas sosial. Bukan untuk menegur, melainkan menawarkan bantuan.
“Ibu, kami ingin membantu,” ucapnya dengan hati-hati. “Ada program pembinaan untuk anak-anak seperti Ela. Ia bisa kembali ke sekolah, dan Ibu bisa ikut pelatihan keterampilan…”
Ela terdiam, menatap mereka penuh bingung. Dunia yang selama ini terasa berat, perlahan menampakkan secercah kemungkinan—sebuah harapan.
Ibunya sempat ragu, dibayangi rasa malu dan ketakutan. Namun tatapan Ela yang kini menyiratkan harapan membuatnya mengangguk pelan.
Waktu pun berlalu.
Ela kini kembali duduk di bangku sekolah, meskipun sedikit tertinggal dibanding teman-temannya. Ia belajar dengan semangat, menggambar rumah, langit cerah, dan matahari yang tersenyum seperti dalam mimpinya dulu.
Sementara itu, sang ibu kini bekerja di dapur umum yang dikelola koperasi warga. Memang gajinya tak besar, tapi cukup untuk hidup sederhana—tanpa perlu lagi menjadikan Ela sebagai penyambung hidup.
Setiap Hari Buruh, Ela duduk di kelas bersama teman-temannya. Di papan tulis tertulis: “Masa Kecil untuk Tumbuh, Bukan untuk Bekerja.”
Ia menyalin kalimat itu ke bukunya, lalu memandang jendela.
Di luar sana, masih ada anak-anak yang pernah berjalan di jalan yang sama. Pastinya Ela tahu itu. Tapi ia juga percaya, satu suara kecil bisa jadi gema besar—asal tidak dibungkam.
Dalam diam, Ela berjanji: suatu hari nanti, ia akan menjadi suara itu.















Tinggalkan Balasan