Mudik, Lebih dari Sekadar Pulang

Dalam hitungan hari Ramadan akan segera berakhir. Geliat masyarakat mulai terlihat sibuk untuk mempersiapkan ritual dan tradisi yang lazimnya terjadi setiap tahun. Ya, perayaan lebaran yang identik dengan adanya silaturahmi, berbagi, dan mudik untuk bertemu kerabat dan orang tua.

Momen setiap tahun yang memiliki kisahnya sendiri. Tentang anak-anak yang sudah beranjak dewasa dan naik jenjang pendidikan, tentang pekerjaan baru, pernikahan, kelahiran,  kematian, dan yang kembali dari rantau. Lebaran menjadi tempat kita kembali mengingat dari mana kita berasal.

Setiap menjelang Idul Fitri, jalan-jalan di Indonesia berubah menjadi sungai manusia. Mobil, motor, bus, kereta, hingga pesawat bergerak dalam satu arah yang sama, pulang. Mereka yang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun hidup di kota, mendadak merasa ada panggilan kuat yang tak bisa ditunda, kembali ke kampung halaman. Itulah yang kita kenal sebagai mudik.

Mudik bukan sekadar perjalanan geografis dari kota menuju desa. Ia adalah perjalanan emosional yang membawa manusia kembali kepada akar kehidupannya. Di dalamnya tersimpan kerinduan kepada orang tua, rumah masa kecil, aroma dapur yang akrab, serta suara-suara sederhana yang dulu membentuk kenangan.

Fenomena ini unik. Di banyak negara, libur keagamaan memang menjadi momentum berkumpul keluarga, tetapi tidak selalu disertai perpindahan manusia dalam skala raksasa seperti di Indonesia. Setiap tahun, puluhan bahkan ratusan juta orang bergerak hampir bersamaan. Jalan tol dipadati kendaraan, stasiun dan terminal dipenuhi penumpang, bandara tak pernah benar-benar sepi. Seolah seluruh negeri sedang melakukan satu ritual yang sama, pulang.

Saya pribadi menyadari, memiliki empat anak laki-laki  yang kelak akan memiliki kehidupannya sendiri, berkeluarga dan menulis takdirnya, mengembara dan menetap di manapun di muka bumi kelak yang tidak bisa saya perkirakan. Saya hanya bisa mengingatkan dan menanamkan ingatan pada mereka tentang dari mana mereka berasal. Idul Fitri menjadi momen untuk menegaskannya.

Sudah lama saya  tak lagi memiliki ritual mudik, sebab sejak 4 tahun lalu saya sudah tinggal di rumah  kelahiran saya. Saya kembali berada di tengah lingkungan yang membesarkan saya. Namun kali ini saya hadir dengan anak-anak. Mudik dalam cerita-cerita yang mengusung kelelahan saat di perjalanan, membawa rasa rindu pada orang tua dan kerabat, juga beban mental menghadirkan kesuksesan tipis-tipis sebagai bahan perbincangan saat silaturahmi juga menjadi kerisauan tersendiri.

Tak semua kisah mudik menghadirkan kebahagiaan, jika kita tidak lagi bercermin kembali pada esensi budaya mudik yang ada di Indonesia. Mudik tak harus membawa beban keberhasilan hidup yang harus diceritakan, karena tidak semua momen hari raya membawa cerita yang indah.

Tentang kehilangan, tentang proses yang belum selesai, tentang ikatan yang perlu dijalin kembali, tentang patah yang perlu disembuhkan, tentang cobaan yang perlu dikuatkan, tentang isakan yang ingin ditenangkan, tentang keberhasilan yang menunggu diapresiasi, dan usaha yang didoakan. Idul fitri adalah momen saling memberi maaf, saling bertemu, dan saling mendoakan.

Tradisi mudik sendiri tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari sejarah panjang masyarakat Nusantara yang terbiasa merantau. Sejak masa kolonial hingga era industrialisasi, kota-kota besar menjadi magnet ekonomi yang menarik penduduk desa untuk mencari penghidupan. Namun ikatan dengan kampung halaman tidak pernah benar-benar putus. Ketika Ramadan berakhir dan Idul Fitri tiba, kerinduan yang lama tertahan itu menemukan jalannya.

Karena itu mudik bukan hanya soal perjalanan, tetapi juga soal identitas. Ia menjadi cara bagi para perantau untuk menegaskan kembali dari mana mereka berasal. Di kampung halaman itulah seseorang kembali menjadi anak, saudara, tetangga, bukan sekadar pekerja, pegawai, atau perantau.

Lebaran juga menghadirkan satu tradisi khas Indonesia yang memperkuat makna pulang ini yakni  halal bihalal. Tradisi yang dipopulerkan pada masa Presiden Soekarno ini menjadi ruang sosial untuk saling memaafkan, memperbaiki hubungan, dan menyambung kembali silaturahmi yang mungkin sempat renggang.

Dalam konteks itulah mudik dapat dipahami sebagai lebih dari sekadar perjalanan tahunan. Ia adalah ritual sosial yang menghubungkan agama, budaya, dan kehidupan keluarga. Sebuah perjalanan yang tidak hanya membawa manusia kembali ke kampung halaman, tetapi juga mengembalikan mereka kepada makna kebersamaan yang sering hilang dalam hiruk-pikuk kehidupan kota.

Jika melihat riuhnya dentuman rudal-rudal Iran membombardir Israel sepanjang hari, melihat tangis dan amarah yang bertarung dalam malam-malam yang Allah akan menurunkan jutaan malaikat dalam Lailatul Qadar, saya masih menghangatkan rasa syukur atas keadaan yang  dianugerahkan dalam hidup saya saat ini. Negeriku tidak bergejolak. Setiap sore masih banyak orang-orang berburu takjil, anak-anakku sudah berkirim kabar kepulangan, dan rencana-rencana kecil saya sekadar menghidupkan Hari Raya, agar semua hati bisa merasakan kebahagiaan meski sederhana.***

Kota Mojokerto, 16 Maret 2026