Belajar Menjadi Mercusuar, Bukan Nahkoda

Belajar Menjadi Mercusuar, Bukan Nakhoda
Kapal di Tengah Badai & Cahaya Kapal (Gambar ILustrasi: OpenAI)

Belajar Menjadi Mercusuar, Bukan Nahkoda. Di banyak rumah hari ini, percakapan tidak selalu berlangsung dengan nada yang sama seperti dulu. Tekanan ekonomi, ritme kerja yang cepat, arus informasi yang nyaris tanpa jeda, semuanya membentuk gelombang baru dalam kehidupan keluarga muda. Tidak ada rumah tangga yang sepenuhnya kebal dari gesekan. Yang berbeda hanyalah bagaimana setiap keluarga mengelolanya.

Di tengah perubahan zaman itu, generasi orang tua sering berada di posisi yang tidak sederhana. Ia menyaksikan, merasakan, namun tidak selalu leluasa untuk campur tangan. Ada keinginan melindungi, adanya dorongan menenangkan, tetapi terselip kesadaran bahwa setiap rumah tangga memiliki otonomi untuk belajar dari riaknya sendiri.

Di laut, badai bukan peristiwa luar biasa, ia bagian dari perjalanan. Angin datang tak selalu seizin nakhoda, gelombang naik tanpa aba-aba. Yang membedakan kapal yang selamat dan yang karam bukanlah absennya badai, melainkan cara menghadapi badai itu. Keluarga pun demikian.

Ada masa ketika suara menjadi lebih tinggi dari biasanya. Ada hari ketika diam terasa lebih panjang dari yang seharusnya. Namun selama ini, dari yang tampak, komunikasi di antara keduanya masih berjalan. Percakapan belum berhenti. Itu pertanda penting. Sebab dalam dunia pelayaran, selama radio masih menyala, harapan selalu ada.

Yang kadang mengusik justru bukan peristiwa besar, melainkan bayangannya. Kekhawatiran sering berlayar lebih cepat daripada fakta. Ia datang membawa cerita-cerita yang belum tentu terjadi, tetapi terasa begitu nyata. Barangkali itu naluri seorang ayah. Naluri yang tak pernah benar-benar pensiun.

Anak-anak mereka masih kecil. Jarak kelahiran yang sangat dekat membuat keduanya masih membutuhkan perhatian penuh, kehadiran utuh, dan suasana rumah yang teduh. Pada usia seperti itu, mereka belum mengerti makna perdebatan, tetapi sangat peka terhadap nada suara dan perubahan udara di dalam rumah.

Rumah, seperti kapal, adalah ruang hidup yang tertutup. Jika kemudi goyah, semua yang ada di dalamnya ikut merasakan. Namun kehidupan berumah tangga memang bukan pelayaran di danau yang tenang. Ia lebih menyerupai samudra luas, ada arus bawah, angin silang, dan kabut yang mengaburkan jarak pandang. Bahkan nakhoda paling berpengalaman pun pernah salah membaca arah angin.

Yang penting bukan tidak pernah berselisih. Yang penting adalah tidak membiarkan perselisihan menjadi jurang. Tidak membiarkan ombak kecil seolah pertanda tenggelam. Dalam dunia maritim, ada satu prinsip lama, ketika badai datang, jangan saling menyalahkan angin, periksa layar, cek tali-temali. Lantas, pastikan kompas masih menunjuk ke utara.

Barangkali dalam keluarga pun demikian. Saat ketegangan hadir, jangan jaga gengsi, melainkan jaga erat tujuan bersama. Mengingat kembali alasan dulu berlayar bersama. Dan, ingat bahwa bangunan kapal bukan untuk satu orang, melainkan untuk perjalanan bersama.

Kekhawatiran adalah tanda cinta. Tetapi cinta yang matang tidak hanya cemas, ia juga percaya. Percaya bahwa setiap generasi memiliki caranya sendiri belajar menjadi dewasa. Yakin bahwa setiap pasangan memiliki ruang untuk menyelesaikan riaknya.

Peran orang tua mungkin bukan mengambil alih kemudi, melainkan menjadi mercusuar. Tidak mengatur arah kapal, tetapi memberi cahaya ketika jarak pandang menurun. Tanpa menghakimi, tiada memaksa, dan hanya hadir dengan keteduhan. Karena pada akhirnya, setiap kapal harus belajar menaklukkan lautnya sendiri. Dan setiap orang tua, perlahan, belajar bahwa tugas terbesar bukan lagi mengemudikan, melainkan merelakan.

Namun merelakan bukan berarti berhenti peduli. Ia justru bentuk kepedulian yang lebih dewasa. Ia adalah kesediaan untuk tetap membuka pintu, tanpa memaksa orang masuk. Ia adalah doa yang tak selalu terdengar, tetapi tak pernah absen.

Setiap keluarga menyimpan riwayat ombaknya sendiri. Suatu ketika angin keras menerpanya, lalu selamat. Ada yang sempat retak, lantas mereka memperbaikinya pelan-pelan. Dan, ada pula yang cepat belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tak satu pun perjalanan identik, tetapi semuanya membutuhkan ruang untuk bertumbuh.

Barangkali yang paling dibutuhkan bukan nasihat panjang, melainkan kehadiran yang tenang. Satu percakapan yang jernih. Satu sentuhan yang tidak menghakimi. Satu keyakinan bahwa rumah adalah tempat kembali, bukan ruang sidang untuk saling menyalahkan.

Anak-anak kecil itu kelak akan tumbuh. Mereka mungkin tidak mengingat detail percakapan orang tuanya hari ini. Namun mereka akan mengingat suasana. Mereka akan mengingat apakah rumah mereka lebih sering dipenuhi ketegangan atau pengertian. Di situlah masa depan diam-diam dibentuk.

Maka, sebelum ombak ditafsirkan sebagai ancaman, mungkin perlu diingat, laut memang bergelombang, tetapi kapal diciptakan untuk mengarunginya. Dan, cinta jika dirawat dengan rendah hati, sering kali lebih kuat daripada badai yang paling bising. Pada akhirnya, yang menyelamatkan bukanlah siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling setia menjaga haluan bersama.