Srawung di Bawah Lampion Merah

Srawung di Bawah Lampion Merah
Sumber Ilustrasi: OpenAI

Srawung di Bawah Lampion Merah. Pernikahan keponakan saya ini, mendadak terasa seperti sebuah ekspedisi budaya. Bukan perjalanan darat yang damai, melainkan pelayaran, dengan angin yang tak selalu searah. Ombak yang kadang datang tiba-tiba, dan kompas yang terus berputar mencari keseimbangan.

Di meja keluarga, topik “hajatan” tetiba berubah menjadi obrolan maritim, antara kapal Jawa yang teguh dan bahtera Tiongkok yang elegan. Dan saya, sebagai paman yang sudah terlalu lama mencium aroma garam laut, langsung paham, bahwa ini bukan hanya pesta perkawinan. Melainkan sebuah bahtera yang akan menghadapi tabrakan dua arus samudra, namun sekaligus saling mengisi.

Srawung di Bawah Lampion Merah
Koleksi Foto: Pribadi

Jejak Kapal Tua dari Timur

Sejak awal, saya sudah melihat kehadiran siluet Cheng Ho dalam perjalanan ini. Bukan Cheng Ho secara harfiah tentu saja, melainkan spiritnya. Rombongan calon mempelai perempuan datang ke rumah kami dengan senyum ramah dan bingkisan yang tertata rapi. Bak ibarat misi diplomasi lembut sang laksamana besar melakukan kunjungan ke Jawa berabad-abad lalu.

Di meja ruang tamu, kue keranjang berjejer rapi. Di sampingnya, jenang pasar, rengginang, dan wajik. Dua tradisi manis yang berbeda tapi sama-sama melambangkan harapan baik. Saya hampir berkomentar;

“Ini sudah mirip pertemuan Sam Po Kong dengan tradisi keraton,” tapi saya tahan (takut) orang menganggap overdosis sejarah.

Pesta dengan Ruh Pelabuhan

Yang paling menarik dari rencana hajatan ini adalah cara kedua keluarga menyatukan konsep dekorasi. Alih-alih memilih tema standar, mereka mengambil inspirasi dari dunia maritim, laut sebagai ruang perjumpaan. Sebuah ide dekorasi tercetus saat kami duduk santai;

“Gimana kalau panggungnya seperti dermaga Jawa kuno, di mana sebuah kapal Tiongkok merapat dengan tenang?”

Mata saya langsung berbinar. Laut adalah entitas yang paling toleran dalam sejarah Nusantara. Ia menerima siapa saja yang berlayar di atasnya, Arab, India, Tionghoa, Eropa, bahkan kapal nelayan kampung sebelah. Di laut, identitas menjadi cair, bahasa menjadi isyarat tangan, dan budaya menjadi bekal yang bisa saling berakulturasi.

Pesta ini, perlahan, mulai meminjam filosofi itu. Lampion merah tergantung berjejer seperti lampu-lampu pelabuhan yang menyambut kapal datang malam hari. Sementara di sisi lain, ukiran lung-lungan Jawa menambat sebagai ornamen, simbol tanah yang menerima siapa pun yang tiba.

Ritme Samudra di Balik Musik dan Tradisi

Setelah dekorasi, giliran musik menjadi lahan diskusi. Awalnya hanya gamelan, lalu masuk usulan guzheng, kecapi Tiongkok. Bukan untuk menggantikan, tapi untuk mengiringi. Kombinasi yang terdengar mustahil di atas kertas, tapi justru mempesona di kepala saya.

Bayangkan:

  • tabuhan kendang seperti deru ombak
  • petikan guzheng seperti angin yang datang dari utara
  • bunyi saron sebagai denyut tanah Jawa
  • denting guqin sebagai bisik budaya Tiongkok

Semua berpadu seperti dua kapal berbeda yang berenang di arus yang sama. Di sinilah maritim bekerja bukan sebagai latar belakang, tapi sebagai roh yang menyatukan.

Bahasa Cinta yang Berlayar

Keluarga calon mempelai perempuan membawa tradisi teapai. Keluarga mempelai laki-laki membawa tradisi sungkeman. Pada awalnya, keduanya terlihat tak mungkin menyatu. Namun di titik tertentu, seseorang bercanda:

“Sungkeman itu ibarat kapal Jawa sandar dulu. Teapai itu kapal Tiongkok kirim hormat balasan.”

Semua tertawa. Tapi dari tawa itu lahir pemahaman baru, bahwa bukan mempertentangkan tradisi, melainkan untuk merayakannya bersama. Dan, seperti dua pelaut yang bertemu di tengah selat, mereka akhirnya sepakat, lakukan dua-duanya, dengan ritme yang mengalir.

Laut Adalah Rumah Kita

Saya selalu percaya, dalam sejarah Nusantara, laut bukan pemisah, melainkan perekat. Orang Jawa dan Tionghoa telah bertemu berabad-abad lalu, bertukar rempah, bahasa, nama, bahkan cinta. Pernikahan keponakan saya ini hanyalah kelanjutan alami dari gelombang panjang itu.

Sebuah gelombang yang pernah membawa:

  • kapal-kapal jung besar
  • pedagang keramik
  • pelaut Jawa
  • komunitas Lasem
  • dan generasi baru yang tumbuh sebagai anak-anak dua budaya

Kini gelombang itu berlanjut dalam bentuk sepasang anak muda yang memutuskan untuk berlayar dalam satu kapal.

Penutup yang Menghangatkan

Dan kelak, ketika lampion merah menyala bersama ukiran Jawa, ketika gamelan dan guzheng berkelindan dalam satu nada. Dan, saat keluarga besar duduk bersama seperti penumpang kapal yang menikmati perjalanan panjang. Di situlah saya tahu bahwa laut kembali mengajarkan kita sesuatu:

“Cinta yang baik adalah cinta yang berani berlayar jauh, tanpa melupakan pelabuhan utamanya.”

Pada akhirnya, setiap pernikahan adalah pelayaran lintas cakrawala. Yaitu, tempat dua hati yang tertaut oleh tradisi berbeda, sembari belajar membaca angin yang sama. Di antara aroma laut yang menggantung samar di ingatan dan cahaya lampion merah yang menggoyang lembut malam hari. Saya melihat dua budaya itu tidak sekadar menyatu, tetapi saling menuntun, seperti dua bintang yang memandu kapal di tengah gelap.

Mungkin, begitulah hakikat hidup. Bukan mencari pelabuhan yang paling mirip dengan diri kita, melainkan menemukan seseorang yang bersedia menyalakan lentera ketika ombak meninggi. Dan, tetap bertahan di geladak ketika arah angin berubah. Di bawah langit yang luas ini, cinta mereka adalah kapal yang telah memilih untuk berlayar. Bukan karena lautnya pasti tenang, tetapi karena mereka percaya pada perjalanan yang akan ditempuh bersama.