Sepatu Nomor Tujuh

“Jangan pernah berharap mengenakan sepatu itu kalau mentalmu cuma seperti sandal jepit.”

Kata-kata itu menusuk tajam seperti kerikil di sepatu Gilang. Ia baru saja diumumkan sebagai penerima sepatu nomor tujuh—sepatu istimewa untuk pasukan inti pengibar bendera di SMA Negeri 2 Karangjati.

Hari itu panas menyengat. Lapangan sekolah penuh suara sorak dan riuh ucapan selamat. Tapi di antara pelukan dan tepuk tangan, terdengar pula desisan.

“Yakin bukan karena kasihan?” bisik Raka, siswa kelas XI yang gagal seleksi tahun ini.

“Anaknya tukang tambal ban di pinggir terminal, tiba-tiba dapat sepatu kehormatan? Ngimpi,” timpal Sinta, dengan nada geli yang tak disembunyikan.

Gilang menunduk. Jari-jarinya menggenggam kotak sepatu yang masih baru dan belum sempat dibuka. Sepatu berukuran 42, berbahan kulit hitam mengkilap, serta solnya tebal dan kaku. Sepatu itu akan membawanya melangkah paling depan saat upacara kemerdekaan nanti. Akan tetapi, ia merasa langkah pertamanya saja sudah terasa berat.

Gilang bukan siapa-siapa di sekolah itu. Ia bukan ketua OSIS, bukan juara lomba apapun, bukan juga siswa populer. Setiap hari ia datang lebih pagi karena harus ikut membantu ayahnya menambal ban motor pelanggan. Bau solar, tangan hitam, kadang seragamnya masih beraroma karet panas. Tapi ia tak pernah bolos latihan. Ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah telat pula.

Di ruang pelatih, Pak Kusno mengetuk papan tulis dengan spidol.

“Sepatu nomor tujuh hanya untuk satu orang. Yang paling pantas, bukan yang paling kuat.”

Ia melirik Gilang yang berdiri paling ujung.

“Kalian punya waktu tiga minggu untuk membuktikan, bahwa kalian layak berjalan dengan kepala tegak, bukan dengan mulut penuh omong kosong.”

Setelah pengumuman resmi itu, surat protes datang. Orang tua murid mengirim pesan ke kepala sekolah untuk mempertanyakan dasar pemilihan.

“Anak saya lebih tinggi.”

“Lebih atletis.”

“Lebih pantas secara prestasi akademik.”

Ada yang bahkan secara terang-terangan berkata, “Kenapa harus anak tambal ban?”

Hari-hari latihan makin keras. Gilang sering mendapat tugas ganda. Kadang harus menyapu lapangan sebelum yang lain datang. Kadang disuruh jaga peralatan sampai malam. Tak sedikit yang mengejeknya diam-diam.

Suatu hari, Gilang menemukan sepatunya hilang. Kotaknya masih ada, namun kosong.
Di dalamnya, hanya tersisa secarik kertas yang mengatakan, “Kau nggak layak pakai ini. Kembalilah ke bengkel, bukan ke barisan.”

Gilang tak bilang siapa-siapa. Ia pinjam sepatu latihan dari anak kelas X yang sudah gugur. Terlalu sempit, tapi ia tetap ikut baris. Langkahnya miring, tapi sorot matanya lurus. Pak Kusno memperhatikannya dari jauh sambil menyipitkan mata.

Malam sebelum upacara, semua pasukan mengikuti karantina. Mereka harus bermalam di sekolah. Gilang duduk sendiri di sudut aula, memandangi seragam putihnya yang sudah disetrika. Sepatu nomor tujuh entah di mana, bahkan ia belum pernah mencobanya.

“Gilang ….” suara itu membuatnya menoleh.

Pak Kusno duduk di sampingnya, membawa sebuah kotak. Bukan kotak sepatu biasa. Lebih tua, usang, tapi masih utuh.

“Dulu, waktu saya masih muda, saya juga dikasih sepatu ini,” katanya pelan. “Sepatu nomor tujuh. Tapi waktu itu saya juga bukan siapa-siapa. Saya cuma anak dari seorang pejuang yang bahkan tak sempat diakui negara. Orang pikir saya titipan, atau korban belas kasihan. Tapi saya tunjukkan, saya bisa berdiri lebih tegak dari siapa pun yang mencemooh.”

Gilang diam.

“Ayahnya Pak Kusno pejuang juga?” tanyanya lirih.

Pak Kusno tersenyum samar.

“Tidak. Apakah kamu tahu kenapa aku pilih kamu?”

Gilang menggeleng.

“Karena kamu anak dari seseorang yang pernah menyelamatkan nyawa anakku saat ban motornya pecah di jalan tol dua tahun lalu. Ayahmu berhenti, padahal hujan dan suasana sudah malam. Dia tidak minta bayaran.”

Gilang menahan napas. “Tapi Ayah nggak pernah cerita, Pak.”

“Karena orang baik nggak pernah butuh panggung. Dan hari ini, kamu akan melangkah dengan sepatu yang pantas. Bukan karena kasihan. Tapi karena warisan kehormatan.”

Tanggal 17 Agustus pun tiba. Matahari menggantung terang di atas lapangan. Semua pasukan berdiri tegak dengan berseragam putih. Sorban merah putih turut menghiasi tubuhnya. Barisan pun tertata rapi.

Gilang memimpin di depan. Langkah pertamanya mantap. Sepatu nomor tujuh kini pas di kaki. Satu demi satu langkahnya menggetarkan tanah. Sorak penonton senyap, semua mata tertuju padanya.

Saat bendera mulai ditarik, angin berembus tenang. Warna merah putih membentang di udara.

Dan pada detik itulah, suara mikrofon sekolah menyala.

“Perhatian, kami ingin mengumumkan sesuatu.” Suara Pak Kusno terdengar jelas.

Semua hadirin menoleh. Upacara sejenak terhenti.

“Sepatu nomor tujuh yang dikenakan pemimpin pasukan kita hari ini bukan milik sekolah. Tapi milik seorang mantan pengibar bendera dua puluh lima tahun lalu—ayah kandung Gilang. Sepatu ini ditemukan di ruang pelatih, disimpan dengan baik. Hari ini, ia kembali melangkah.”

Sontak, lapangan terdiam. Beberapa guru saling pandang. Ibu kepala sekolah menutup mulut, raut mukanya tampak terkejut.

Ayah Gilang berdiri jauh di pinggir pagar, mengenakan kaus lusuh dan topi tambal ban. Matanya basah, ia tiba-tiba menangis. Ia angkat tangan, lalu menunduk.

Gilang tak hanya membawa bendera merah putih ke langit. Ia juga mengangkat nama seorang ayah yang selama ini bekerja dalam diam—dengan kehormatan, tanpa pernah meminta disorot.

Sepatu nomor tujuh itu bukan tentang status, tapi tentang langkah. Dan Gilang telah melangkah lebih jauh dari siapa pun hari itu.

 

TAMAT

Cerpen ditulis oleh Anik Zahra, Guru MTsN 15 Jombang dan Pegiat Literasi Jombang.