Pagi menyapa Pelabuhan Belawan dengan angin lembut dari selatan. Dua sosok berdiri berdampingan di dermaga, ialah Kapten Radit dan Kapten Aryo. Radit adalah Perwira Pandu senior dengan pengalaman tiga dekade di balik layar pemanduan. Dan, Aryo adalah Pandu muda dengan semangat membara serta keunggulan ber-teknologi navigasi terkini.
Di hadapan mereka, kapal tanker MV Ocean Legacy bersiap meninggalkan kolam sandar. Dengan panjang hampir tiga lapangan sepak bola, kapal itu membutuhkan manuver presisi. Cuaca mendung tipis, arus makin terasa di permukaan. Radar menunjukkan angka 2 knot. Tapi Kapten Radit, tanpa melihat layar, sudah mencium gelagat lain dari suara angin dan riak kecil yang menabrak lambung.
“Ambil sudut lebih tajam dari biasa. Arus akan dorong haluan ke kiri,” ucapnya sambil menahan nyeri yang biasa menyerang punggungnya belakangan ini.
Aryo menoleh ke layar navigasi. Data belum mendukung koreksi sebesar itu. Ia ragu, namun tak langsung membantah. “Sinyalnya belum menunjukkan perlu koreksi, Pak,” ujarnya pelan.
Kemampuan yang Tidak Tertulis
Dalam dunia pemanduan kapal, di kelas manapun jarang mengajarkan satu keterampilan krusial, yaitu guesstimation. Yaitu, seni memperkirakan dengan cermat. Ini bukan sekadar tebakan, tapi hasil dari ketajaman intuisi yang terasah puluhan tahun menghadapi keputusan dadakan dalam kondisi ekstrem.
Kapten Radit bukan sembarang menebak. Ia tahu kapan angin di pelabuhan berubah arah meski tak terasa oleh layar digital. Ia pun tahu respon lambat tugboat saat menarik muatan penuh, dan bisa membaca “perasaan tali” hanya dari getaran kecil geladak.
Namun tubuhnya kini tak lagi sekuat dulu. Ia menghindari menuruni tangga monyet jika tidak perlu. Dan, kadang ia harus menarik napas panjang sebelum berjalan cepat ke haluan.
Muda Berenergi, Tua Berintuisi
Aryo punya kelebihan besar, fisik prima, respon cepat, dan reflek tajam. Tapi ia sadar, tak mampu menghitung semua hal. Ia tidak bisa menjelaskan perasaan yang justru menjadi keputusan terbaik. Contohnya, bagaimana mengetahui kapal mulai melawan arus hanya dari cara suara mesin terpantul.
“Kalau saya bisa pinjam naluri Pak Radit sebentar saja…” batinnya.
Sementara Kapten Radit juga pernah berujar, “Kalau saja tenaga saya seperti Aryo, saya bisa pandu kapal-kapal besar 2x sehari.”
Antara Intuisi, Pantulan Air, dan Keputusan
Menjelang matahari tenggelam, MV Ocean Legacy bersiap meninggalkan kolam sandar. Dari anjungan, Kapten Radit berdiri tenang di sisi kiri, matanya tajam mengamati pantulan cahaya di permukaan air. Ia melirik Aryo, Pandu muda yang menggenggam alat komunikasi dengan gugup.
“Lihat baik-baik pantulan di bawah haluan. Ombaknya tidak tenang, itu tanda arus balik mulai main,” ujarnya lirih.
Aryo mengikuti isyarat itu. Di layar radar, tak ada tanda mencurigakan. Tapi gerak haluan yang perlahan miring tak bisa diabaikan. Kapten Radit, tanpa menyentuh alat bantu apapun, mengangguk singkat pada Aryo.
“Geser haluan dua meter ke kanan. Tahan. Tugboat tarik perlahan ke kiri!” ujarnya pelan.
Aba-aba sederhana itu membuat manuver kapal kembali stabil. Aryo menahan napas. Ia sadar, bukan teknologi yang menyelamatkan situasi, tapi naluri. Intinya, seseorang yang tahu persis apa yang akan terjadi, bahkan sebelum kapal bergerak.
Sore itu menjadi titik balik. Aryo, yang terbiasa berpikir dalam angka dan layar, mulai memahami bahwa ketepatan bukan hanya hasil perhitungan, tapi juga hasil penghayatan. Kapten Radit memperkirakan jarak dari pantulan air, menafsir arus dari tekanan suara mesin, dan membaca reaksi tugboat melalui gerakan tali.
Seluruhnya terlihat biasa, tapi hanya orang yang sudah lama hidup di tengah ketidakpastian laut mampu melakukan hal tersebut.
Kecermatan dalam Ketidaksempurnaan
Kapten Radit tak pernah membanggakan dirinya, tapi, setiap geraknya menyiratkan pengalaman panjang. Di masa ketika radar tak akurat, lampu sorot terganggu kabut, atau sinyal GPS mendadak hilang, ia tetap tenang. Radit paham yang menyelamatkan bukan hanya alat, melainkan seribu pengalaman yang membentuk intuisi.
Aryo mulai mencatat lebih dari sekadar instruksi. Ia menyimak pola arus, waktu jeda mesin, dan isyarat nonverbal di anjungan. Tak semuanya ia pahami seketika. Kapten Aryo mulai belajar, bahwa seorang Pandu tak hanya menilai dari grafik, tapi dari getaran dalam dada.
Suatu hari, ia bertanya, “Bagaimana Bapak tahu kapal akan overrun bahkan sebelum throttle naik penuh?”
Kapten Radit menatap ke arah dermaga yang perlahan menjauh. “Karena saya pernah biarkan itu terjadi. Dan saya tak pernah lupa rasanya.”
Saat Generasi Saling Mengisi
Pemanduan sejatinya bukan soal siapa yang lebih pintar atau kuat. Ini adalah simfoni pengalaman dan energi, antara intuisi yang tak tergantikan dan daya tahan yang masih menyala.
Guesstimation adalah jembatan antara data dan insting. Saat Pandu muda belajar mendengar isyarat laut dengan hati. Kemudian, Pandu senior memberi ruang bagi yang lebih gesit untuk bergerak. Di sanalah, seni pemanduan menjadi utuh.
Karena kadang, keputusan terbaik lahir bukan dari akurasi alat, tapi dari kepercayaan yang terbangun oleh lintas generasi.















Tinggalkan Balasan