Belajar dari Jatuhnya Satu Nyawa

Diplomasi Bermula di Tangga Pandu
Perwira Pandu (Ilustrasi by Google)

Angin pelabuhan malam itu bertiup tenang, namun langit tampak menyimpan gelisah. Sebuah kapal kargo asing masih bersandar di dermaga, menanti rampungnya proses clearance out. Di atas dek, cahaya lampu temaram menorehkan siluet pada geladak yang sepi. Perwira Pandu, Kapten Bima, berdiri di sisi kapal, bersiap untuk melakukan pemanduan keluar setelah semua dokumen lengkap. Tiba-tiba suasana berubah. Langkah tergesa dan seruan panik terdengar dari arah dermaga.

“Seseorang jatuh! Gunakan tangga monyet! Tidak muncul lagi!”

Refleks, Kapten Bima menoleh. “Siapa yang jatuh?” tanyanya tegas. Petugas menjawab, salah satu kru darat. Diduga, ia menuruni kapal dengan tangga monyet—bukan tangga pandu standar—dan tanpa pendamping. Informasi awal menyebutkan, korban tampak dalam kondisi tidak sadar penuh, kemungkinan besar akibat pengaruh alkohol.

Pencarian berlangsung hingga hampir tiga jam. Suasana pelabuhan berubah mencekam. Cahaya lampu dari kapal patroli menyisir permukaan air yang gelap dan dalam. Ketika korban akhirnya muncul tak bernyawa, suasana larut dalam hening. Sebuah nyawa terenggut, bukan oleh badai atau gelombang, tetapi oleh kecerobohan yang semestinya tidak terjadi.

Pandangan Seorang Pandu

Malam itu, Kapten Bima tidak langsung pulang. Ia menyendiri di ruang pandu, mencoba memahami dan mengurai kejadian. Ia tahu, alasan kepraktisan kerap menggunakan tangga monyet atau jacob ladder, meski jauh dari kata aman. Menurut pandangannya, saat kapal masih sandar di dermaga menggunakan safety net atau jalur gangway lebih prioritas. Atau, setidaknya memakai tangga pandu yang memiliki desain terstruktur dan pengaman khusus, ketimbang tangga monyet yang rawan goyah.

“Kejadian ini bukan hanya kecelakaan kerja,” gumamnya. “Ini bukti adanya celah dalam budaya keselamatan, pengawasan hingga disiplin teknis.”

Sebagai Pandu, ia tak ingin tragedi ini berlalu tanpa makna. Esoknya, ia menyusun laporan yang tidak hanya mencatat kejadian, tetapi juga memberikan usulan. Ia merekomendasikan pelarangan penggunaan tangga monyet oleh kru darat, dan memperketat pengawasan saat naik-turun kapal. Selain itu, menyarankan program edukasi keselamatan menyeluruh bagi seluruh unsur pelabuhan, termasuk pihak agensi dan tenaga lepas. “Keselamatan harus menjadi milik semua insan pelabuhan,” tulisnya di akhir laporan. “Bukan sekadar protokol, tapi budaya yang hidup.”

Ketika Tanggung Jawab Lebih Dalam dari Laut

Tragedi itu menjadi catatan penting dalam perjalanan karier Kapten Bima. Ia sadar, dalam dunia pelayaran, tangga bukan hanya alat naik turun, ia bisa jadi jalan hidup, atau jalan maut. Dan, tanggung jawab Pandu bukan hanya mengarahkan haluan kapal, tetapi turut membentuk arah budaya keselamatan di pelabuhan. Malam itu, suara laut menyampaikan teguran sunyi, bukan pada satu orang, tetapi pada seluruh sistem:

“Keselamatan adalah cerminan sikap. Ia lahir dari kepedulian, dan tumbuh dari tanggung jawab bersama.”

Tragedi Sebagai Titik Awal Perubahan

Beberapa hari berlalu sejak insiden itu, namun suasana pelabuhan masih dalam keheningan dan percakapan berbisik. Petugas keamanan, awak kapal, hingga rekan kerja korban masih membahas kejadian yang mengejutkan tersebut. Di balik rasa duka, muncul sebuah kesadaran yang mulai menyusup pelan. Bahwa, kecelakaan bukan hanya soal siapa yang terjatuh, tetapi juga siapa yang abai terhadap pencegahannya.

Kapten Bima memutuskan untuk mengajak tim Pandu berbicara dalam suasana santai. Berdiskusi ringan, tidak untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk menggali makna dari tragedi ini. Ia membuka diskusi malam itu di ruang jaga dengan satu pertanyaan yang menggugah.

“Apa saja yang bisa kita hindari jika lebih peka dan sigap?”

Beragam pandangan pun bermunculan. Ada yang mengusulkan penyusunan SOP antara Pandu, agen kapal, dan otoritas pelabuhan, untuk mengatur prosedur penggunaan alat naik-turun kapal. Beberapa menyampaikan pentingnya pemeriksaan rutin terhadap tangga akses, kelengkapan spreader, dan pemasangan safety net. Bahkan ada gagasan membentuk unit pengawas keselamatan yang siaga di malam hari, saat risiko kerap luput dari perhatian. Kapten Bima tak sekadar menyimak, ia bertindak. Ia menyiapkan laporan resmi dan mengajukannya ke instansi terkait. Ia menyadari, perubahan besar tidak bisa terjadi seketika, namun diam bukanlah pilihan.

Bukan Hanya Tentang Naik-Turun

Renungan itu terus menghantui pikirannya. Di tengah riuhnya aktivitas pelabuhan, perhatian terhadap keselamatan manusia kerap tenggelam di bawah tumpukan dokumen dan tenggat waktu. Namun sebagai seorang Pandu, satu nyawa tetap lebih penting daripada ribuan ton muatan.

Dengan semangat itu, ia menyusun sebuah program pelatihan internal bertajuk “Dari Tangga Menuju Tanggung Jawab”. Materinya tak muluk-muluk. Di antaranya, tentang pemahaman alat akses seperti pilot ladder, jacob ladder, gangway, serta safety net. Tetapi yang lebih utama adalah membangun kesadaran, bahwa setiap peralatan keselamatan mencerminkan penghargaan terhadap kehidupan.

Sikap yang Menjadi Warisan

Seorang Perwira Pandu bukan hanya pengendali kapal, tapi juga penjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam sistem kerja pelabuhan. Peristiwa malam itu memang menyisakan luka, namun bisa menjadi awal bagi perbaikan yang lebih luas. Kapten Bima yakin, bahwa laut akan tetap menjadi jalur kehidupan. Dan, kapal terus berlabuh dan bertolak, maka, selalu membutuhkan satu suara yang peduli.

“Pastikan tangganya aman. Karena di pelabuhan ini, tugas kita bukan sekadar membimbing kapal, melainkan memastikan semua kembali dengan selamat.”