Langit malam tampak kelabu di atas perairan pelabuhan saat sebuah kapal kargo asing mendekati dermaga. Kapal itu baru saja melewati laut terbuka dan badai panjang. Di sisi lain, di dermaga timur, Perwira Pandu Ananta bersiap menjalankan tugas. Helm putih menempel di kepala, tas navigasi di tangan, dan radio komunikasi menyala. Namun hari itu, tantangan utamanya bukan soal cuaca atau arus laut, melainkan soal pilihan nurani.
Ketika kapal mendekat, kru menurunkan tangga pandu, akses utama menuju kapal dari kapal pandu. Dari kejauhan, Ananta langsung menyadari ada yang tak beres, tali pengikat kendur, posisi tangga miring, dan ketinggiannya melebihi batas aman. Setelah mendekat dan memeriksa lebih detail, kekhawatirannya terbukti. Tangga tersebut tidak memenuhi persyaratan keselamatan sebagaimana ketentuan SOLAS dan IMO.
Ananta berada dalam posisi genting, antara melanjutkan tugas atau menjaga keselamatan diri. Lalu, ia mengangkat radio dan menyampaikan kepada nakhoda dengan nada tenang dan tegas.
“Mohon maaf Kapten, tangga pandu yang disiapkan tidak memenuhi ketentuan keselamatan. Saya tidak dapat naik sampai kondisi diperbaiki.”
Ketegangan pun muncul. Agen kapal, pengatur lalu lintas kapal (VTS), dan jadwal sandar mulai memberi tekanan. Namun Ananta sadar, ini bukan tentang membantah perintah, melainkan menjunjung tinggi keselamatan.
Menolak dengan Alasan, Bukan Membantah
Sebagai seorang Perwira Pandu, Ananta memiliki keahlian teknis sekaligus tanggung jawab moral. Yaitu, tanggung jawab menegakkan SOLAS Bab V Aturan 23 serta kebijakan pelabuhan. Di mana, Ananta berhak menolak naik ke kapal, jika sarana naik-turun tidak memenuhi syarat.
Menolak perintah bukan berarti tidak patuh. Karena, hal itu justru cerminan dari kepatuhan terhadap regulasi dan kepedulian. Terutama, kepedulian terhadap keselamatan nyawa dan operasional pelabuhan.
Cara Menolak secara Profesional
Penolakan tidak perlu dengan cara konfrontatif. Terdapat beberapa langkah bijak yang senantiasa Ananta terapkan:
- Komunikasikan secara sopan dan jelas. Gunakan nada profesional dan hindari emosi;
- Jelaskan dasar hukum. Sertakan referensi aturan SOLAS atau standar pelabuhan;
- Berikan alternatif. “Silakan periksa dan pasang tangga alternatif yang aman. Saya akan menunggu dalam waktu yang wajar”;
- Lakukan pelaporan resmi. Dokumentasikan kondisi, ambil bukti foto, dan laporkan ke pihak otoritas pelabuhan.
Akhirnya, setelah hampir satu jam, tangga pengganti yang layak pun turun dari lambung kapal di bawah angin. Ananta naik ke kapal, menyelesaikan pemanduan, dan kapal berhasil bersandar dengan aman. Namun keberhasilan hari itu bukan hanya soal navigasi, melainkan karena berhasil menegakkan prinsip keselamatan.
Beberapa hari setelah insiden tersebut, Ananta mendapat undangan untuk menjadi pembicara dalam forum internal dari otoritas pelabuhan. Tema diskusi saat itu adalah, “Membangun Budaya Keselamatan dalam Dunia Pemanduan.” Ia berkesempatan membagikan kisah nyata yang dialami. Yaitu, bagaimana menjaga ketegasan dalam menjalankan standar keselamatan, tanpa merusak hubungan kerja dengan pihak kapal.
Di hadapan rekan-rekannya, Ananta menyampaikan pesan yang sederhana namun penting. “Keselamatan bukan hanya soal berani bertindak, tapi juga soal konsistensi. Tidak bisa hari ini kita patuh, lalu besok kita kompromi hanya karena situasi mendesak.”
Sikap profesional Ananta mendapat penghargaan, tak hanya dari sesama pandu, tapi juga dari manajemen pelabuhan dan operator kapal. Insiden itu mendorong adanya pengetatan pengawasan tangga pandu sebelum kapal sandar. Dan, selanjutnya pihak otoritas mengeluarkan surat edaran, agar agen lebih memperhatikan kesiapan tangga pandu sesuai aturan internasional.
Ananta pun menyarankan agar para pandu mengikuti pelatihan komunikasi di situasi krisis. Ia percaya bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup. Karena, keberhasilan seorang pandu juga terletak pada keteguhan hati dan integritas.
“Pandu bukan sekadar penunjuk arah kapal. Kita ini penjaga standar, wajah keselamatan pelayaran. Kalau kita mengalah demi kenyamanan, kita sedang menggadaikan nyawa,” ujarnya.
Beberapa minggu setelah forum itu, seorang pandu muda menghubunginya. Ia mengalami kejadian serupa, dan dengan tenang memutuskan untuk menolak naik ke kapal karena tangga yang tak layak. Pandu muda itu berkata, “Saya ingat kisah Bapak. Itu yang membuat saya yakin.”
Ananta hanya tersenyum. Bagi dirinya, itu adalah bentuk warisan terbaik. Adalah, nilai-nilai hidup, bukan lewat dokumen, tapi lewat contoh nyata.
Penutup
Dalam dunia pemanduan, keberanian sejati tak selalu berarti menghadapi ombak besar. Kadang, keberanian itu tampak saat seorang perwira pandu berani mengatakan “tidak” ketika nyawa dipertaruhkan.
Menolak naik ke kapal yang tak aman bukanlah bentuk pelarian dari tanggung jawab, melainkan wujud tertinggi dari dedikasi terhadap profesi. Sebab, tak ada pelayaran yang layak, tanpa mengabaikan aspek keselamatan.
Di tengah gelombang tantangan dunia maritim, keberanian untuk menegakkan keselamatan adalah jangkar yang membuat segalanya tetap seimbang. Dan, selama masih ada pandu yang memegang teguh nilai itu, laut akan selalu menjadi tempat yang aman untuk berlayar.















Tinggalkan Balasan