Mengenal Rino
Rino, Kisah Seorang Anak Autis. Pagi itu, di ruang kepala sekolah, seorang wanita dengan wajah lembut duduk berhadapan dengan Bu Marta, Bu Olif (guru BK), dan Pak Wiryawan, kepala sekolah. Di sebelahnya, seorang anak laki-laki bertubuh besar dan tinggi duduk dengan gelisah.
Pertama-tama, namanya Rino. Selanjutnya, kulitnya sawo matang, rambutnya sedikit berantakan, dan posturnya lebih besar dibanding anak-anak seusianya. Tapi meskipun tubuhnya terlihat kuat, Rino justru sangat pemalu. Kemudian, Ia selalu menunduk, menghindari tatapan orang-orang di ruangan itu, dan meremas kain kecil yang dibawanya, kain kesayangannya yang selalu ada di genggaman saat ia merasa cemas.
Namun, ada satu hal yang tak bisa disangkal: Rino tidak bisa diam.
Ia menggoyangkan kaki, mengetuk-ngetukkan jari ke meja, lalu tiba-tiba berdiri, berjalan beberapa langkah, dan kembali duduk, seolah kursinya terlalu panas untuk diduduki terlalu lama.
“Aduh, Rino, duduk dulu,” kata Ibu Rino dengan suara lembut.
Rino langsung menunduk. “Tapi, Bu… duduknya lama banget.”
Pak Wiryawan tertawa kecil. “Tidak apa-apa, Rino. Kamu boleh berdiri kalau merasa lebih nyaman.”
Kemudian, ibu Rino tersenyum canggung, lalu mulai berbicara. “Jadi begini, Pak Wiryawan, Bu Marta, Bu Olif, Saya ingin Rino bersekolah di sini, di sekolah umum. Banyak yang menyarankan agar Rino ke SLB, tapi saya ingin dia belajar beradaptasi dengan lingkungan yang lebih luas.”
Selanjutnya, bu Marta mengangguk paham. “Tentu, Bu. Tapi kami ingin tahu lebih banyak tentang Rino agar bisa membantunya dengan baik.”
Bu Olif menambahkan, “Setiap anak istimewa, termasuk Rino. Apa ada tantangan tertentu yang biasanya terjadi di rumah atau di lingkungan sebelumnya?”
Kemudian, ibu Rino menghela napas. “Rino ini anak yang sangat aktif. Selanjutnya, dia nggak bisa diam terlalu lama dan mudah gelisah kalau suasananya terlalu ramai atau ada suara keras. Selain itu, dia juga sangat pemalu, tidak suka bertatap mata dengan orang lain. Kalau ada orang baru, dia lebih suka menunduk atau bersembunyi di belakang saya.”
Rino tiba-tiba menyahut, “Saya bukan pemalu, Bu. Saya cuma nggak suka lihat mata orang lama-lama. Rasanya kayak… kayak mereka mau makan saya!”
Semua orang tertawa kecil.
“Rino, orang-orang tidak akan memakanmu hanya karena menatapmu,” kata Bu Olif sambil tersenyum.
“Tapi rasanya aneh, Bu!” Rino membantah sambil menutupi wajahnya dengan kain. “Kenapa sih orang suka lihat-lihat? Saya kan bukan pameran.”
Pak Wiryawan menahan tawa. “Baik, baik. Kita tidak akan memaksamu untuk menatap mata orang lain kalau itu membuatmu tidak nyaman.”
Ibu Rino kembali berbicara. “Tapi Rino ini juga punya kelebihan. Dia sangat cepat mengingat sesuatu, terutama angka. Dan dia juga suka menggambar pola-pola unik yang kadang saya sendiri tidak mengerti.”
Bu Marta tersenyum. “Wah, itu luar biasa, Rino. Berarti kamu pintar dalam pola dan angka?”
Rino langsung menegakkan tubuhnya dengan bangga. “Iya! Saya bisa ingat tanggal ulang tahun semua orang di rumah. Termasuk ulang tahun kucing tetangga!”
Bu Olif terkikik. “Kucing tetangga? Wah, itu kemampuan yang unik!”
Ibu Rino mengangguk. “Itulah kenapa saya ingin dia bersekolah di sini. Saya ingin dia bisa berkembang di lingkungan yang lebih luas. Tapi saya juga khawatir… Apakah sekolah ini bisa menerima dan memahami kondisinya?”
Pak Wiryawan menghela napas, lalu menatap Bu Marta dan Bu Olif. “Saya percaya setiap anak berhak mendapat pendidikan terbaik, selama kita bisa menemukan metode yang tepat. Kalau Bu Marta dan Bu Olif siap membantu, saya pikir kita bisa mencoba menyesuaikan cara belajar Rino.”
Bu Marta tersenyum. “Saya siap, Pak. Saya akan membantu Rino beradaptasi di kelas.”
Rino tiba-tiba mengangkat tangan. “Tapi Bu, kalau saya bosan di kelas, saya boleh lari keliling sekolah nggak?”
“RINO!” Ibu Rino menatapnya kaget.
Bu Marta tertawa. “Bukan lari keliling sekolah, tapi kita bisa cari cara supaya kamu tetap bisa bergerak tanpa mengganggu pelajaran.”
Rino menatapnya curiga. “Hmmm… boleh berdiri sambil belajar?”
“Tentu,” jawab Bu Olif.
“Boleh pakai bola kecil buat dipencet biar tangan saya nggak gatal mau gerak?”
“Bisa,” kata Bu Marta sambil tersenyum.
“Di ijinkan nggak ngerjain PR kalau saya capek?”
“Yang itu nggak boleh,” kata Pak Wiryawan tegas.
Rino langsung mendesah panjang. “Haduuuh…”
Seluruh ruangan tertawa.
Ibu Rino tersenyum lega. “Terima kasih, Pak Wiryawan, Bu Marta, Bu Olif. Saya senang sekali mendengar ini.”
Pak Wiryawan mengangguk. “Kami akan bekerja sama untuk memastikan Rino bisa belajar dengan nyaman.”
Rino mengangkat tangan lagi. “Satu pertanyaan lagi!”
“Apa itu, Rino?” tanya Bu Marta.
“Kalau saya tiba-tiba mau nyanyi di kelas, boleh nggak?”
Seluruh ruangan terdiam sesaat, lalu serempak tertawa.
Bu Marta mengacak rambut Rino. “Kita lihat nanti, ya, Rino. Yang penting, kamu siap untuk sekolah besok?”
Rino menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Ya… tapi jangan suruh saya lihat mata orang lama-lama, ya.”
Bu Marta tersenyum hangat. “Janji.”
Dan begitulah awal mula perjalanan Rino di sekolah umum, dengan segala kegelisahan, keunikan, dan kejenakaannya yang membuat semua orang tersenyum















Tinggalkan Balasan