Bumi Menangis, Kita Masih Lalai

Bumi Menangis, Kita Masih Lalai
Sumber Gambar: AI

Lingkungan adalah rumah bersama. Ia menyediakan udara yang kita hirup, air yang kita minum, tanah tempat kita berpijak. Dan, hamparan laut yang menjadi ruang hidup sekaligus jalur penghubung bangsa. Namun, di tengah kesibukan modern dan gegap gempita pembangunan, perhatian kita terhadap lingkungan masih sangat minim. Survei menunjukkan hanya sekitar 15 persen masyarakat Indonesia yang benar-benar peduli pada isu lingkungan. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cermin betapa kita sebagai bangsa belum sepenuhnya menyadari gentingnya situasi yang ada.

Lingkungan: Warisan yang Terabaikan

Saya sering mengingat masa kecil, ketika sawah masih hijau membentang, sungai jernih mengalir, dan anak-anak bebas bermain tanpa khawatir limbah beracun. Hari ini, saya sulit menemukan pemandangan semacam itu. Sampah plastik memenuhi sungai-sungai, udara kota besar tercemar asap kendaraan dan industri, penebangan hutan untuk membuka jalan pembangunan terus berlangsung. Selain itu, laut sebagai sumber kehidupan, perlahan berubah menjadi tempat pembuangan.

Ironisnya, kerusakan itu terjadi di depan mata, namun perhatian masyarakat masih rendah. Banyak yang menganggap isu lingkungan hanya milik aktivis, peneliti, atau pemerintah. Padahal, kerusakan alam akan menimpa kita semua, tanpa pandang bulu.

Mengapa Kita Acuh?

Ada beberapa alasan mengapa kepedulian lingkungan sulit tumbuh subur. Pertama, karena dampaknya sering terasa tidak langsung. Sampah plastik yang kita buang sembarangan hari ini, baru akan kembali menghantui anak cucu kita bertahun-tahun kemudian. Kedua, gaya hidup konsumtif membuat banyak orang merasa lebih nyaman membeli baru daripada menjaga atau mendaur ulang. Ketiga, lemahnya edukasi dan teladan. Anak-anak jarang menerima pengajaran tentang mencintai lingkungan melalui tindakan nyata.

Selain itu, faktor ekonomi sering menjadi alasan berikutnya. Banyak yang berkata, “Buat apa peduli lingkungan kalau perut saja masih lapar?” Kita bisa memahami kalimat tersebut, namun pada saat yang sama menjadi alarm, bahwa kerusakan lingkungan justru akan memperparah kemiskinan. Banjir, gagal panen, dan krisis air adalah bukti nyata.

Alam yang Balas Dendam

Kita sering menyebut banjir, longsor, atau kekeringan sebagai bencana alam. Namun sejatinya, sebagian besar adalah bencana karena kelalaian manusia. Sungai meluap karena hutan di hulu sudah gundul. Tanah longsor karena eksploitasi lereng bukit tanpa memikirkan daya dukungnya. Kekeringan terjadi karena penghisapan air tanah tanpa kendali.
Alam tidak pernah salah. Alam hanya merespons sesuai hukum yang sudah Tuhan tetapkan. Ketika keseimbangannya rusak, ia akan mencari cara untuk kembali stabil, meskipun harus dengan cara yang menyakitkan bagi manusia.

Lingkungan dalam Perspektif Maritim

Sebagai orang yang tumbuh dekat dengan laut, saya sering melihat betapa pesisir menjadi saksi dari kelalaian kita. Membuang plastik ke daratan, akhirnya bermuara ke laut. Kapal nelayan kecil kerap mengeluh hasil tangkapan menurun, bukan hanya karena overfishing, tetapi juga karena laut makin kotor. Bahkan di pelabuhan-pelabuhan besar, aroma solar bercampur sampah plastik seolah menjadi hal yang lumrah.

Padahal laut adalah nadi bangsa ini. Jika laut sakit, maka kehidupan bangsa maritim pun terancam. Sayangnya terdapat anggapan, bahwa isu tersebut masih “terlalu jauh” bagi sebagian masyarakat yang tinggal di daratan.

Menumbuhkan Kepedulian: Dari Diri Sendiri

Kepedulian lingkungan tidak selalu harus berawal dari program besar atau kebijakan nasional. Kita bisa mengawali dari tindakan sederhana. Tidak membuang sampah sembarangan. Mengurangi plastik sekali pakai. Menanam pohon di halaman. Menghemat listrik dan air.

Menulis tentang lingkungan pun adalah sebuah bentuk kepedulian. Kata-kata bisa membuka mata, menggerakkan hati, dan menyalakan kesadaran. Sama halnya seperti tetes air yang jika terus menerus menimpa batu, lama-lama akan membuat cekungan. Begitu pula dengan pesan-pesan tentang kepedulian lingkungan.

Peran Negara dan Generasi Muda

Meski kesadaran individu penting, negara tidak bisa lepas tangan. Pemerintah harus lebih serius mengedukasi, memberikan teladan, sekaligus menegakkan aturan. Jangan sampai aturan lingkungan hanya jadi teks di atas kertas. Penegakan hukum atas perusak lingkungan harus tegas, tanpa pandang bulu.

Generasi muda juga memegang peranan penting. Mereka tumbuh di era digital, dengan akses informasi yang luas. Jika kepedulian tertanam sejak dini, mereka akan menjadi agen perubahan yang lebih militan. Bayangkan jika kampanye lingkungan bisa viral layaknya tren hiburan, betapa besar dampaknya bagi masa depan.

Refleksi: Menulis Sebagai Jejak

Menulis tentang lingkungan bagi saya adalah bagian dari tanggung jawab moral. Saya mungkin tidak bisa menghentikan penebangan hutan atau menutup pabrik pencemar udara. Tetapi, saya bisa meninggalkan jejak kata-kata yang mengingatkan orang lain.

Saya percaya, kata-kata adalah ombak kecil yang bisa menumbangkan karang besar jika terus menerus datang. Opini ini mungkin hanya satu dari ribuan. Namun, jika terus digemakan, akan ada hati yang tersentuh, lalu bergerak, dan akhirnya melahirkan perubahan.

Penutup: Jangan Tunggu Besok

Kepedulian lingkungan tidak bisa ditunda. Bumi tidak menunggu kita siap. Ia terus berputar, dengan luka-luka yang semakin dalam. Jika kita tidak segera bertindak, maka generasi berikutnya hanya akan mewarisi puing-puing.
Mari kita mulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dari sekarang. Karena bumi tidak butuh kita untuk bertahan hidup, tetapi kita yang butuh bumi untuk tetap ada.