Pensiun Bukan Titik Akhir Dedikasi

Pensiun Bukan Titik Akhir Dedikasi
Retirement (Sumber Foto : Pixabay)

Oleh: Wahyu Agung Prihartanto (*)

Dalam perjalanan karier, tidak jarang seseorang bergerak jauh dari titik awalnya. Begitu pula yang saya alami. Awal bergabung dengan Pelindo, saya memulai sebagai seorang pandu kapal. Sebuah profesi yang menuntut ketajaman analisis, intuisi maritim, serta tanggung jawab besar terhadap keselamatan pelayaran. Namun, sekitar dua dekade terakhir, saya mengemban amanah dalam jalur struktural hingga menjelang masa pensiun saya tahun ini.

Sekitar enam bulan sebelum masa bakti saya berakhir, saya memilih langkah yang mungkin jarang diambil oleh mereka yang telah lama berada dalam posisi manajerial. Saya kembali turun ke lapangan, menajamkan kembali keahlian teknis pemanduan kapal. Di tengah kesibukan administratif, saya menyempatkan diri untuk belajar dari pandu-pandu muda. Saya mengikuti sesi simulasi, dan memahami kembali medan kerja yang dahulu sangat saya cintai.

Langkah ini tentu bukan tanpa pertimbangan. Saya meyakini bahwa selepas pensiun, peluang untuk tetap berkarya tidaklah seragam di setiap bidang. Di sektor manajerial, kompetisi pasca-pensiun sangat tinggi. Bukan hanya soal pengalaman, tetapi juga soal relevansi, usia, dan ruang yang terbatas. Sementara itu, pada profesi teknis yang berbasis keahlian khusus, seperti pemanduan kapal, ruang pengabdian tetap tersedia. Terutama, bagi mereka yang kompetensinya terjaga dan teruji.

Atas dasar itulah saya memilih untuk kembali ke akar profesi saya. Tidak semata untuk bernostalgia, melainkan sebagai bentuk kesiapan menghadapi fase hidup berikutnya. Saya percaya, meskipun telah berpindah jalur selama bertahun-tahun, saya bisa mengasah ulang keahlian dasar tersebut. Tentu, melalui dorongan tekad dan kemauan belajar.

Bagi saya, ini adalah tanggung jawab personal. Saya tidak ingin hanya mengandalkan pengalaman masa lalu tanpa validasi kompetensi saat ini. Jika kelak saya ingin kembali berperan sebagai pandu profesional pasca pensiun, maka saya harus siap bersaing secara kualitas. Serta, bukan sekadar mengandalkan riwayat jabatan.

Lebih jauh lagi, saya memaknai masa menjelang pensiun bukan sebagai akhir yang pasif, tetapi sebagai masa transisi yang perlu perencanaan. Menghidupkan kembali keahlian inti menjadi bagian dari strategi transisi tersebut. Mereka yang memiliki keunggulan teknis dan menjaganya tetap tajam, saya yakin akan memiliki peluang kontribusi yang lebih konkret. Hal ini, karena berharap pada posisi struktural di luar sana, sudah sangat terbatas jumlahnya.

Bagi siapa pun yang pernah menjadi pelaku langsung di lapangan, akan memahami bahwa keterampilan teknis tidak mudah luntur oleh usia. Syaratnya, kalian harus terus memelihara dan mengasah secara konsisten. Dalam pengalaman pribadi saya, setelah lebih dari dua dekade menjalani tugas struktural, saya menyadari bahwa kompetensi sebagai pandu penting. Profesi ini bukan hanya berlandaskan pada aspek motorik atau ketepatan teknis semata, tetapi juga terbangun dari naluri profesional. Naluri tersebut tumbuh melalui akumulasi jam terbang serta keberanian menghadapi keputusan krusial di lapangan.

Di sinilah letak nilai tambah dari para profesional, saat menjelang atau bahkan telah memasuki masa purna tugas. Yakni, kebijaksanaan dari pengalaman panjang. Di tengah derasnya arus digitalisasi sistem pelabuhan, mulai dari navigasi berbasis teknologi, sistem pemantauan canggih, hingga otomatisasi layanan. Saya melihat satu hal yang tetap esensial, pengambilan keputusan manusia yang lahir dari pengalaman nyata dan kepekaan situasional.

Saya tidak menempatkan diri sebagai pesaing generasi muda. Sebaliknya, saya berharap bisa menjadi penghubung lintas generasi. Selama beberapa bulan terakhir berlatih bersama para pandu muda, saya merasakan antusiasme mereka yang besar. Selain itu juga sekaligus kegamangan yang kadang muncul ketika berhadapan dengan tanggung jawab besar di lapangan. Dalam situasi seperti inilah saya merasa ada peran baru yang patut kujalani. Yaitu, bukan semata kembali menjadi pandu kapal, melainkan juga pemandu generasi muda agar dapat lebih percaya diri dalam menjalankan tugas.

Sebagian mungkin mempertanyakan keputusan saya. “Mengapa tidak memilih jalur manajerial yang lebih bergengsi atau mapan menjelang masa pensiun? Jawaban saya sederhana, karena pada usia ini, peluang di posisi manajerial jauh lebih terbatas. Sebaliknya, ruang untuk berkontribusi sebagai praktisi berpengalaman masih terbuka luas. Tentu, selama saya bersedia menyesuaikan diri, membuka diri untuk belajar, dan kembali turun ke lapangan.

Saya memaknai masa menjelang pensiun bukan sebagai waktu menepi, melainkan momentum untuk kembali ke akar profesi yang membentuk identitas diri. Aku tidak ingin melewati purna tugas dengan menjadi pengamat pasif. Saya ingin menutup perjalanan ini dengan tetap berdiri teguh di dek kapal. Meskipun hanya sebagai penasehat, pembimbing, atau penjaga nilai-nilai profesi. Saya percaya, masa kerja tidak membatasi dedikasi, selama semangat memberi tetap hidup dalam diri kita.

Penutup

Menjelang pensiun, kembali menekuni keahlian dasar bukan hanya sebuah pilihan taktis, tetapi juga wujud tanggung jawab dan ketulusan profesi. Di tengah iklim kerja yang makin kompetitif, kerendahan hati untuk belajar ulang, bahkan dari rekan-rekan muda, justru menjadi kekuatan. Pensiun bukanlah garis akhir peran, tetapi kesempatan baru untuk melanjutkan pengabdian melalui jalur yang paling otentik. Yaitu, kembali menyapa laut, sebagai pandu dalam makna yang sesungguhnya.

(*) Bio penulis singkat:

Wahyu Agung Prihartanto adalah pejabat struktural di lingkungan Pelindo dengan latar belakang sebagai pandu kapal. Menjelang pensiun, ia aktif kembali di lapangan untuk mengasah keahlian teknis sebagai bentuk kesiapan dan strategi kontribusi pasca purna tugas.