Lead Jurnalistik
Rawat Indonesia dari Hal Kecil. Di tengah meningkatnya ketegangan politik dan kaburnya arah kebijakan nasional pada dewasa ini. Telah terjadi rangkaian peristiwa kecil dalam keseharian, namun justru memberikan gambaran paling jujur tentang apa yang sedang terjadi di Indonesia. Dari secangkir kopi hingga penjual kelapa muda, kita melihat cermin retaknya kepemimpinan, lunturnya modal sosial, dan rapuhnya fondasi kehidupan publik.
Editorial
Indonesia tengah berada pada titik krusial ketika kegaduhan politik dan tarik-menarik kepentingan elit semakin menenggelamkan kebutuhan publik. Tetapi, jika kita memerhatikan lebih dekat, kondisi bangsa sebenarnya tercermin dari hal-hal kecil yang terlihat sepele. Meskipun demikian, hal itu justru paling signifikan dalam membaca arah masa depan negeri.
Pagi dimulai dengan secangkir kopi yang seharusnya memberi ruang untuk jernih berpikir. Akan tetapi, ruang untuk berpikir itu kian menyempit di tengah perdebatan publik yang penuh propaganda, bukan substansi. Dalam situasi ini, aroma kebijaksanaan sering menguap sebelum rakyat sempat mengenyamnya.
Ketika melangkah keluar rumah, sapaan orang asing yang sederhana mengingatkan bahwa modal sosial Indonesia masih hidup, meski mulai tergerus. Memproduksi polarisasi yang sistematis dari para elite politik membuat rasa percaya antar warga semakin menipis. Demokrasi tumbuh dari kepercayaan, namun retak oleh manipulasi.
Tidak lama kemudian, hujan dadakan turun seperti metafora kebijakan yang datang tanpa arah jelas. Tiba-tiba, tanpa kesiapan, dan bahkan sering tanpa kajian. Rakyat berkali-kali menjadi korban ketidakteraturan kebijakan. Mulai dari harga-harga yang melonjak, prioritas pembangunan yang berubah mendadak. Serta, hingga keputusan politik yang lebih mencerminkan kompromi elite ketimbang kebutuhan publik.
Di bawah kios rokok, seekor kucing liar berdiam diri. Ia adalah gambaran paling jujur tentang warga kecil Indonesia. Ia tak bersuara, rentan, dan kerap tak tersentuh kebijakan perlindungan sosial. Negara sering memuji pencapaian makro, sementara yang mikro kian terdesak.
Dari dermaga, kapal-kapal yang merapat mengingatkan bahwa negara membutuhkan arah. Tetapi hari ini, Indonesia tampak seperti kapal besar yang kehilangan kompas moral. Banyak mengambil keputusan strategis tanpa mendasari pada peta masa depan. Ironisnya, justru menitikberatkan pada angin kepentingan politik jangka pendek. Jika kita tidak membenahi arah, kapal sebesar apapun tak selamanya mampu menghindari karang.
Ketika kita menemukan buku lama di rak yang berdebu, kita teringat masa ketika pengetahuan mendapat penghormatan tertinggi. Kini, ruang diskusi publik banjir dengan misinformasi dan retorika dangkal. Kebijakan yang seharusnya berbasis data sering terjungkal oleh skenario drama untuk mengamankan elektabilitas.
Di pagar rumah, seekor burung hinggap sebentar lalu terbang pergi. Harapan rakyat kini tampak seperti burung tersebut. Ia datang sesaat, namun tak bisa menetap karena tidak merasa aman. Ketika stigma mengalahkan kritik, transparansi memburam, dan ruang publik terbatas, maka burung-burung harapan enggan kembali.
Pada senja hari, lampu jalan menyala otomatis, hanya bekerja, bahkan tidak butuh tepuk tangan. Sistem sederhana itu menampar kesadaran kita, bahwa birokrasi dan kepemimpinan negeri ini justru jarang bekerja dengan konsistensi yang sama. Banyak program besar tersaji, meski sedikit yang berjalan tanpa hambatan, namun justru kebocoran.
Di ujung gang, seorang anak kecil terus berusaha mengayuh sepeda meski berkali-kali jatuh. Itulah potret Indonesia sejati. Sebuah bangsa yang ingin tumbuh dan belajar, meski lingkungan politik dan birokrasi tidak selalu memberi ruang untuk jatuh dan bangkit. Kita sering menyalahkan rakyat, padahal sistemlah yang gagal memfasilitasi pertumbuhan.
Sementara itu, penjual kelapa muda yang selalu hadir pada jam yang sama. Tanpa di sadari, mengingatkan kita tentang etos kerja yang seharusnya menjadi teladan. Ia bekerja tanpa retorika, tiada kamera, bahkan bebas pencitraan. Ia hadir tidak demi pujian, tetapi demi tanggung jawab. Keteladanan seperti itulah yang hilang dari kepemimpinan kita.
Kesimpulannya jelas dan tajam:
”Bangsa ini tidak kekurangan program besar. Kita kekurangan perhatian pada hal-hal kecil yang justru menentukan masa depan Indonesia.”
Kopi yang kehilangan aroma, sapaan yang semakin jarang. Hujan kebijakan tanpa payung, kucing yang tak terlindungi. Dermaga tanpa arah, buku yang berdebu, burung tanpa tempat hinggap. Lampu yang bekerja tanpa perlu pujian, anak yang terus jatuh, dan penjual yang terus bekerja. Keseluruhannya adalah cermin dari Indonesia yang sedang menguji dirinya sendiri.
Editorial ini mengajak kita untuk kembali belajar. Bahwa hal-hal kecil bukan sekadar dekorasi kehidupan, melainkan fondasi bagi bangsa besar. Karena, dari sanalah kita mulai membangun Indonesia kembali.













Tinggalkan Balasan