Ketika Laut Menguji Pelajaran Lama

Ketika Laut Menguji Pelajaran Lama
Sumber Foto : Pixabay

Oleh: Wahyu Agung Prihartanto (*)

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, guru saya pernah menjelaskan mengapa kapal yang menjauh di laut tampak perlahan menghilang. Menurutnya, kapal akan “tenggelam” dari bawah ke atas karena bumi berbentuk bulat. Penjelasan itu masuk akal kala itu, terlebih disertai ilustrasi sederhana di papan tulis dan globe plastik di sudut kelas.

Namun, belasan tahun kemudian, ketika saya bekerja sebagai pandu kapal dan berulang kali melihat kapal datang dan pergi di cakrawala, saya justru menyaksikan hal yang berbeda. Badan kapal tak pernah hilang dari bawah lebih dulu. Ia hanya mengecil secara proporsional hingga akhirnya menghilang dari pandangan.

Sebagai pelaut, saya terbiasa mengamati. Ketika saya menyadari bahwa apa yang saya lihat tidak sejalan dengan apa yang saya pelajari. Dalam hati saya mulai bertanya, “Benarkah bumi melengkung seperti yang diajarkan?”

Keresahan ini bukan tentang menolak sains, tapi tentang keberanian berpikir jujur. Kita sering menganggap pelajaran lama sebagai “kebenaran mutlak”, tanpa lagi mengujinya lewat pengalaman langsung. Padahal, di lapangan, kenyataan tak selalu sesuai dengan teori.

Saya tahu, banyak orang akan langsung melabeli pandangan seperti ini sebagai sesat, konspiratif, atau anti-sains. Tapi, apakah mempertanyakan sesuatu yang tidak kita temui dalam realitas adalah kesalahan?

Antara Sains dan Pengalaman Langsung

Dalam dunia pemanduan kapal, ketepatan dan insting bekerja beriringan. Kami tak hanya bergantung pada radar dan peta elektronik, tapi juga pada feeling. Sebuah rasa yang berasal dari ribuan jam mengamati ombak, arus, suara mesin, bahkan perubahan warna langit dan air.

Feeling itu terbentuk bukan dari ruang kelas, tapi dari jam terbang. Maka ketika mata saya berkali-kali menangkap kapal yang mengecil secara utuh, bukan “menghilang dari bawah”. Saya tak kuasa mengabaikan pengalaman itu begitu saja.

Beberapa fenomena lain juga membuat saya berpikir ulang. Saat berdiri di puncak mercusuar atau di atas kapal besar di laut terbuka, horison tetap tampak datar. Pengamatan visual tak pernah menunjukkan lengkung yang nyata, meskipun secara teoritis katanya ada.

Apakah mata saya keliru? Mungkin saja. Meskipun begitu, tidakkah penting juga untuk membuka ruang diskusi tentang kemungkinan lain, tanpa langsung menutupnya dengan dogma lama?

Pelaut yang Bertanya, Bukan Menentang

Saya tidak menyatakan bahwa bumi datar. Saya pun tidak menyangkal teori gravitasi, rotasi bumi, atau hukum Newton. Tapi saya percaya bahwa sains yang sehat tidak takut dipertanyakan. Justru dari pertanyaan-lah ilmu berkembang.

Sebagai pelaut, saya percaya pada satu prinsip, jangan terlalu percaya pada satu peta. Laut selalu berubah. Karang bisa berpindah. Dan kompas bisa goyah tanpa kalibrasi. Maka demikian juga dengan pengetahuan, kita perlu menguji, meninjau, jika perlu menyesuaikan dengan kenyataan.

Mungkin, selama ini kita terlalu sibuk menghafal, hingga lupa mengamati. Terlalu cepat percaya, tanpa memberi waktu bagi pengalaman untuk bicara.

Pentingnya Ruang Bertanya dalam Pendidikan

Keresahan saya adalah cermin dari bagaimana pendidikan sering kali mencetak kepatuhan, bukan kepekaan. Kepercayaan tertanam pada anak-anak, bukan untuk mengamati ulang. Dan, ketika seseorang bertanya dengan sudut pandang berbeda, sekelilingnya menilai sebagai penyimpangan. Padahal, bukankah pertanyaan adalah pintu awal penemuan?

Alih-alih memusuhi mereka yang mempertanyakan hal-hal mendasar, sedangkan hal tersebut berpotensi membuka ruang dialog. Tentu, melalui diskusi yang sehat, adil, jujur, dan tidak memvonis sejak awal. Jika memang bumi itu melengkung, mari kita tunjukkan dengan cara kita mampu mengamati langsung. Thus, bukan sekadar merujuk dari buku cetak atau citra satelit.

Penutup: Dunia yang Layak Dipertanyakan

Saya menulis ini bukan untuk mengajak Anda mempercayai bahwa bumi datar. Saya menulis ini untuk menunjukkan bahwa dalam dunia yang terus berubah, pengalaman langsung tetaplah penting. Bahwa kadang, di antara ombak yang bergulung dan kapal yang perlahan menghilang di kejauhan. Dari sanalah menyimpan pertanyaan-pertanyaan kecil yang layak kita dengarkan kembali.

Karena mungkin, masalahnya bukan pada bentuk bumi, tetapi pada bentuk pikiran kita. Apakah masih terbuka untuk mempertimbangkan ulang, atau sudah mengeras oleh kepastian yang tak pernah kita lihat sendiri? Dan sebagai pelaut, saya hanya ingin tetap melihat, dan bertanya.

Kita hidup di zaman ketika teknologi mampu memperlihatkan bumi dari luar angkasa, meskipun keingintahuan manusia tetap tak boleh padam. Kamera dan satelit mungkin merekam gambaran besar, tapi pengalaman konkret di lapangan memberi kita sudut pandang yang lebih manusiawi. Pengalaman yang lebih terasa, dan kita tak bisa mengabaikannya.

Saya percaya bahwa pengalaman empirik, berulang, serta dalam waktu panjang, layak dipertimbangkan sebagai bagian dari pengujian pengetahuan. Apalagi jika datang dari profesi yang sangat dekat dengan fenomena tersebut. Dalam hal ini, pelaut dan pandu kapal bukan sekadar pekerja logistik, kami adalah pengamat alam terbuka, setiap hari.

Pertanyaan saya mungkin sederhana, bahkan mungkin sepele bagi orang lain. Tapi seringkali, justru pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itulah yang menggugah perubahan besar dalam sejarah ilmu pengetahuan.

Apakah bumi benar-benar melengkung seperti yang saya pelajari dulu, ataukah saya hanya belum cukup tinggi untuk melihatnya? Apakah mata saya tertipu, ataukah ada ruang pemahaman yang belum aku jelajahi?

Saya tak meminta Anda menjawab sekarang. Saya hanya berharap tulisan ini membuka satu paradigma berpikir. Karena, jika kita berhenti bertanya, kita sebenarnya sedang berhenti belajar. Dan bagi pelaut, berhenti belajar adalah cara paling cepat untuk tersesat di lautan luas bernama kenyataan.

(*) Penulis

Adalah pandu kapal senior yang telah lebih dari tiga dekade mengabdi di dunia kepelabuhanan dan maritim Indonesia. Ia juga penulis buku Menavigasi Lautan Pemikiran, yang memuat esai-esai reflektif tentang profesi pemanduan dan kehidupan pelaut. Ia percaya bahwa laut bukan hanya medan kerja, tetapi juga ruang kontemplasi dan pencarian makna hidup.