Pukul enam pagi, ketika embun menyelimuti Bali, sepuluh orang karyawan SPJM Unit dan Area Bali Nusra hendak melaksanakan “employ gathering”. Mereka beranjak dari rumah masing-masing bertolak menuju Pelabuhan Sanur. Udara belum benar-benar hangat, tetapi semangat kami sudah lebih dulu bertolak. Hari itu, satu hari penuh akan menjadi ruang bernapas bersama. Sebuah jeda kecil dari dinamika operasional, namun tetap sarat makna tentang kebersamaan.

Fast Boat yang kami sewa bergerak meninggalkan Sanur sekitar pukul 06.30. Laut pagi hari tenang, sesekali bergelombang kecil, seolah mengingatkan bahwa kami adalah keluarga besar yang bekerja di sektor maritim. Bahwa, tempat laut bukan hanya ruang kerja, melainkan ruang untuk bertumbuh. Tiga puluh menit kemudian, Jungut Batu (Nusa Lembongan) menyambut kami dengan pasir terang dan deretan perahu nelayan yang terikat rapi.

Belum sempat sepenuhnya meregangkan kaki di dermaga, rombongan kembali menuju fiber boat kecil untuk melanjutkan agenda utama pagi itu. Yaitu, “snorkeling” di Gamat dan Crystal Bay. Di titik inilah catatan perjalanan menjadi sedikit lebih seru. Dua karyawan perempuan (malu namanya tertera) kami tampak memeluk pelampung seolah itu harta karun terakhir di dunia. Satu dari mereka bahkan berdiri di tepi perahu sambil menatap laut dengan ekspresi “membagongkan”. Antara, takut, kagum, atau sedang menghitung berapa banyak ikan yang mungkin menyenggol kakinya. Beberapa rekan mencoba menenangkan, namun justru semakin memancing tawa. Pada akhirnya keduanya tetap turun ke laut, pelan-pelan, hati-hati, dan dengan syarat mendekam pada pelampung seperti sahabat lama.

Menjelang siang, setelah tubuh kembali bersih dari garam dan mental kembali pulih dari degup snorkeling pertama, kami menuju Sea Breeze untuk makan siang. Kapal bergerak perlahan, melewati hamparan rumput laut milik warga setempat. Dari kejauhan, petak-petak itu tampak seperti mozaik hijau yang membelah permukaan biru. Sebuah pengingat halus bahwa laut bukan hanya tempat wisata, tetapi juga sumber nafkah yang menghidupi banyak keluarga di Nusa Lembongan.
Usai makan dan istirahat singkat, perjalanan darat menanti. Moda transportasinya cukup ikonik, yaitu mobil pikap dengan bak sebagian tertutup dan sebagian terbuka. Duduk berdempetan, terbuai angin, dan sesekali terguncang kecil, perjalanan menuju Blue Lagoon menjadi pengalaman sederhana yang menghangatkan. Mahana Point kemudian menghadirkan suasana berbeda. Sebuah tempat bagi para pemberani melompat dari tebing, meski kami sepakat cukup menjadi penonton bijak saja hari itu.
Setibanya di Devil’s Tear, matahari sore yang terik langsung menyapa dengan garangnya. Angin laut memang kencang, tetapi panasnya cukup membuat kami berkeringat sekaligus kehausan. Di tengah suara ombak besar yang memecah tebing, hadir satu momen kecil yang—entah bagaimana—terasa sangat menyegarkan. Akhirnya kami pun perlu menyeruput air kelapa muda dari warung kecil di sekitar area itu. Bunyi krek ketika kelapa terbelah, dinginnya daging buah, dan aliran air kelapa yang manis serta sejuk membuat kerongkongan hidup ulang. Bukan sekadar minum; rasanya seperti jeda alam yang memulihkan, menghadirkan energi baru sebelum perjalanan pulang.
Sekitar pukul 16.00, kami kembali tiba di Jungut Batu dan bergabung dengan antrean wisatawan lainnya yang menunggu Fast Boat kembali ke Sanur. Perjalanan sore hari itu terasa lebih tenang, mungkin karena tubuh mulai lelah, mungkin karena hati mulai penuh. Pukul 16.30 kapal bergerak, membelah laut yang warnanya mulai menguning ditimpa matahari senja. Setengah jam kemudian, kami sudah menjejak kembali Pelabuhan Sanur, menutup satu hari penuh kebersamaan.
Menjelang pukul lima sore, semua kembali ke rumah masing-masing. Namun sesungguhnya, perjalanan itu tidak benar-benar selesai. Ia menyisakan sesuatu kesadaran baru. Bahwa, di balik rutinitas yang padat, kita tetap butuh ruang untuk tertawa, meringankan beban, dan memperkuat simpul-simpul kerja sama. Laut hari itu bukan sekadar destinasi, ia menjadi cermin sederhana tentang bagaimana kita ingin melangkah sebagai satu tim.
Dan mungkin, dari semua tempat yang kami kunjungi, yang paling berharga adalah ruang yang tidak terlihat. Yaitu, ruang kebersamaan yang berhasil kita bangun bersama.













Tinggalkan Balasan