Sinopsis
Arumi adalah seorang Talent di dunia hiburan malam. Ia berjuang menjaga martabat profesinya di tengah stigma tamu-tamu yang usil menyamakannya dengan LC. Dalam gemerlap cahaya neon, ia menemukan cinta terlarang dengan seorang pria beristri. Arumi terseret ke dalam badai perselingkuhan, pertengkaran, hingga ancaman pembunuhan. Kisahnya adalah potret getir tentang perempuan yang terjebak antara label sosial dan pencarian cinta. Melalui narasi reflektif, cerita ini menyingkap rapuhnya batas antara kebanggaan dan kehancuran, serta betapa berbahayanya sebuah kata ketika berubah stigma.
“Di balik cahaya neon yang gemerlap, selalu ada hati yang meredup dalam sepi.”
Lampu-lampu neon berpendar di sepanjang dinding, menari mengikuti dentuman musik yang menghentak. Asap rokok menggantung di udara, bercampur dengan aroma parfum mahal dan alkohol. Suara tawa tamu-tamu pria pecah di meja VIP, seakan dunia di luar klub tidak pernah ada.
Di tengah semua itu, berdiri seorang perempuan berbalut gaun hitam sederhana, tubuhnya ramping, matanya sendu namun tajam. Namanya Arumi. Baginya, dunia malam adalah panggung. Ia menyebut diri seorang Talent—bukan sekadar pendamping, bukan sekadar pemanis. Ia bernyanyi, ia menari, ia menghibur. Itulah yang membuatnya berbeda.
Namun, tak semua orang mau memahami perbedaan itu.
“Kadang luka paling dalam lahir dari kata-kata bernada canda.”
“Arumiii… ayo temanin kita nyanyi!” teriak seorang tamu mabuk sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.
Arumi tersenyum, menahan rasa enggan. Ia tahu apa yang akan terjadi. Begitu ia duduk, gelas berisi minuman keras akan tersodor, lalu komentar-komentar usil akan mengiringi setiap senyum yang ia berikan.
“Talent, LC, sama aja kan?” gumam tamu itu sambil terkekeh, membuat kawan-kawannya tertawa terbahak.
Arumi menarik napas panjang. Kata-kata itu seperti jarum halus yang menusuk harga diri. Ia ingin berteriak, ingin menjelaskan, ingin mengatakan bahwa menjadi Talent adalah profesi—dengan seni, dengan harga diri. Namun ia tahu, di tengah dentuman musik dan gelak tawa, suaranya hanya akan tenggelam.
Malam-malam semacam ini membuatnya pulang dengan perasaan kosong. Di balik senyum manis yang ia jual, hatinya berkali-kali retak.
“Cinta tak pernah memilih tempat tumbuh; ia datang bahkan di tanah yang tandus.”
Di antara ratusan wajah yang datang dan pergi, ada satu yang membuat Arumi percaya bahwa ia berbeda. Pria itu bernama Dimas—seorang pengusaha yang sering datang bersama koleganya. Berbeda dari tamu lain, Dimas memperlakukan Arumi dengan hormat.
“Suaramu indah sekali malam ini,” ucap Dimas suatu ketika, tanpa embel-embel godaan murahan.
Kalimat sederhana itu membuat hati Arumi bergetar. Malam demi malam, percakapan mereka semakin dalam. Dimas bercerita tentang bisnis, tentang kesepian, tentang mimpi-mimpi yang tak sempat ia kejar. Arumi merasa Dimas untuk pertama kalinya, memandangnya bukan hanya sebagai pemanis meja.
Perlahan, hubungan itu berubah jadi sesuatu yang lebih. Mereka mulai bertemu di luar klub. Makan malam, jalan-jalan singkat, bahkan saling bertukar pesan larut malam.
Namun, kebahagiaan itu rapuh.
Suatu malam, Dimas berbisik dengan suara berat.
“Aku sudah beristri, Arumi. Tapi bersamamu, aku merasa hidup lagi.”
Kata-kata itu menghantam hati Arumi. Ia tahu ia seharusnya mundur, tapi sudah terlalu jauh. Perasaan yang tumbuh bukan sesuatu yang mudah padam begitu saja. Ia memilih bertahan, dengan keyakinan naif bahwa cinta akan menemukan jalannya sendiri.
“Menjaga rahasia sebesar apa pun, selalu mencari jalan untuk terbuka.”
Kisah cinta rahasia itu tak bertahan lama. Istri Dimas menemukan pesan-pesan mereka. Huru-hara pun pecah.
“Perusak rumah tangga” pun tersemat pada diri Arumi, bahkan istri Dimas sempat mendatangi klub dengan kalap. Pertengkaran sengit meledak di depan umum, membuat semua mata tertuju pada Arumi.
“Perempuan murahan! Aku akan pastikan kau hancur!” teriak sang istri, suaranya menusuk di tengah musik yang masih berdentum.
Arumi tak mampu melawan. Air matanya jatuh di hadapan tamu-tamu yang bersorak, sebagian menyoraki, sebagian berbisik-bisik. Sejak malam itu, kabar buruk menyebar. Nama Arumi lekat dengan label LC murahan, bukan Talent berharga diri.
Dunia yang selama ini sudah abu-abu, kini semakin gelap.
“Terkadang, cahaya palsu menyembunyikan gelap yang lebih pekat dari malam itu sendiri.”
Suatu malam, ketika Arumi sedang bersiap pulang, seorang pria asing menghadangnya di lorong gelap klub. Matanya merah, nafasnya bau alkohol.
“Kau Arumi?” suaranya berat dan penuh amarah.
Arumi mengangguk dengan ragu.
“Karena kau, rumah tangga sahabatku hancur. Kau perempuan murahan, kau pantas mati!” teriak pria itu sambil mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya.
Darah Arumi berdesir. Kakinya gemetar, napasnya tercekat. Dalam sekejap, lampu-lampu neon yang biasanya terasa gemerlap berubah jadi cahaya palsu yang menyilaukan.
“Jangan! Aku… aku tidak seperti yang kalian kira…” suara Arumi bergetar.
Pisau itu nyaris menyentuh kulitnya sebelum beberapa satpam datang melerai. Pria itu telah aman, tapi ancamannya menggema di kepala Arumi berhari-hari.
“Label bisa lebih mematikan daripada luka, sebab ia menempel di jiwa, bukan di kulit.”
Di kamar kosnya yang sempit, Arumi menatap cermin. Wajahnya pucat, matanya bengkak. Ia mengambil buku harian, pena bergetar di tangannya.
“Mereka bilang aku LC, padahal aku Talent. Mereka bilang aku perusak rumah tangga, padahal aku hanya perempuan yang ingin dicintai. Kenapa dunia begitu mudah memberi label? Kenapa kata-kata bisa lebih tajam daripada pisau?”
Ia menulis, menulis, hingga air matanya mengaburkan huruf-huruf.
Dalam sunyi, Arumi sadar, perbedaan antara Talent dan LC bukan sekadar istilah. Itu soal martabat, soal identitas, soal hak seseorang untuk menentukan siapa dirinya. Namun dunia malam jarang memberi ruang untuk itu. Bagi banyak orang, semua perempuan yang menemani di meja hanyalah satu, aku mampu membeli senyum perempuan itu dengan mudah.
“Kadang, pergi adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup, meski harus mengubur nama sendiri.”
Beberapa bulan kemudian, Arumi menghilang dari klub. Tidak ada yang tahu pasti ke mana ia pergi. Sebagian bilang ia pulang ke kampung halaman. Sebagian bilang ia menikah dengan pria lain, sementara lainnya yakin ia masih ada di kota, menjalani hidup dengan nama baru.
Yang tersisa hanyalah bisikan tentang julukan perempuan yang bernama Talent, meski banyak tamu memperlakukan sebagai LC. Seorang perempuan yang pernah hampir kehilangan nyawanya hanya karena stigma dan cinta yang salah arah.
Arumi mungkin telah pergi, tapi kisahnya tetap hidup. Ia menjadi cermin tentang betapa rapuhnya garis pemisah antara profesi, stigma, dan harga diri seorang perempuan.
Refleksi
Dalam dunia yang gemerlap namun palsu, satu kata bisa mengubah nasib.
LC atau Talent.
Dua istilah yang tampak sederhana, namun bagi Arumi, keduanya adalah garis tipis antara kebanggaan dan kehancuran.
Dan, di balik semua cahaya neon, dunia malam hanyalah panggung. Sebuah tempat untuk membeli senyum dengan murah, membeli cinta meski palsu, dan dari kesemuanya berujung luka.
Itulah kondisi yang seringkali lebih dalam ketimbang tampak di permukaan.















Tinggalkan Balasan