Karya: NN (*)
Nada yang Menyala di Balik Redup. Ruangannya sempit. Satu lampu yang berganti warna, merah jambu, lalu biru menyinari panggung mungil. Mikrofon terasa hangat oleh sisa napas tamu sebelumnya, bercampur aroma alkohol yang pekat. Di udara, asap rokok menggantung berat, membungkus suara tawa dan lirik-lirik sendu yang nyaris selalu berisi kisah perpisahan.
Lela menarik napas dalam-dalam. Pukul delapan lewat sepuluh. Masih enam jam tersisa hingga lampu-lampu padam dan musik berhenti paksa. Seperti malam-malam sebelumnya, ia kembali naik ke panggung. Ia menyanyi bukan untuk kemewahan, tapi untuk bertahan. Untuk anak-anaknya. Bagi ibunya. Da, pada hidup yang tak pernah memberinya cukup waktu untuk patah.
Malam itu, dua pria hadir. Raka… dan Andre. Raka adalah wajah baru yang tenang dan mendengar. Ia duduk di sudut ruangan dengan teh manis dan senyum yang tidak menuntut. Raka tidak pernah memintanya bernyanyi lagu tertentu, tapi Lela merasa selalu bernyanyi untuknya.
Andre berbeda. Andre sudah lebih dulu mengenal Lela. Ia adalah manajer karaoke tempat Lela bekerja, lebih muda, lebih percaya diri, dan paham cara menguasai ruangan. Awal keduanya hanya sebatas profesional, tapi diam-diam, Andre menyimpan rasa. Ia tahu Lela tak mudah tersentuh. Tapi, semakin ia melihat kehadiran Raka yang konsisten dan tenang, semakin besar rasa tidak tenang dalam diri Andre.
Suatu malam, Andre memanggil Lela ke ruang staf, “Kamu dan dia… ada apa?”
Lela terdiam.
“Raka?” sahut Lela
Andre menyipitkan mata. “Iya. Dia bukan orang kita, Lela. Kamu tahu itu.”
“Aku juga bukan milik siapa-siapa, Dre,” jawab Lela datar.
Andre menatap lama. “Aku nggak pernah minta kamu jadi milik siapa-siapa. Tapi kalau kamu jatuh ke pelukan orang yang nggak ngerti kerasnya tempat ini, kamu bakal hancur. Dia hanya tahu kamu dari lagu-lagu yang kamu nyanyikan. Dan, Aku lihat kamu dari awal, dari tangismu di toilet waktu kamu nggak bisa bayar utang.”
Lela menggertakkan gigi. “Justru karena kamu tahu betapa hancurnya aku, seharusnya kamu nggak pake itu buat bikin aku merasa kecil.”
Andre diam.
***
Tak lama berselang, Raka datang. Ia tahu Andre. Ia tahu tempat itu penuh mata yang tak suka padanya. Tapi ia tak gentar.
“Aku datang bukan untuk mengubah kamu, Le,” katanya malam itu. “Aku datang karena aku tahu kamu bisa berubah, kalau kamu mau.”
Dan Lela? Ia menghadapi dilema. Andre adalah kenyataan. Raka adalah harapan. Andre tahu seluruh lukanya, tapi juga kerap membuatnya merasa bersalah atas luka itu. Raka menerima dirinya hari ini, tapi belum tentu siap dengan semua yang belum selesai di masa lalunya.
Suatu malam, Lela tak kuat. Ia berlari ke belakang setelah membawakan lagu yang terlalu menyentuh hatinya. Raka mengejarnya. Tapi Andre lebih dulu menemukan Lela di ruang ganti.
“Dengar, Le. Aku masih cinta kamu,” bisik Andre. “Aku tahu kadang-kadang aku kasar, tapi aku lihat kamu lebih dari siapa pun. Kamu nggak perlu topeng di depanku.”
Lela menangis. Tapi tak menjawab. Raka datang tak lama setelahnya. Ia melihat Andre menggenggam tangan Lela, dan berhenti di ambang pintu.
“Lela?”
Lela menoleh. Tangannya masih dalam genggaman Andre.
“Aku butuh waktu, Ka…”
Raka menunduk. “Ambil waktumu. Tapi jangan biarkan orang lain bicara untuk hatimu.”
Malam itu, Lela merasa hancur. Di antara dua pria yang sama-sama peduli, ia harus memilih. Antara, lelaki yang sudah lama ada di sisinya, menyaksikan tiap tetes keringat dan air matanya, tapi tak selalu tahu caranya mencintai tanpa mengendalikan. Atau, lelaki yang datang tanpa pamrih, menawarkan dunia baru, tapi belum tentu siap menghadapi luka yang belum sembuh.
***
Beberapa minggu berlalu. Andre tak lagi mengganggu, tapi selalu hadir di setiap sudut. Raka tetap datang, tapi tak pernah memaksa. Akhirnya, Lela mengambil keputusan. Ia meninggalkan tempat karaoke itu.
Di kafe kecil milik teman Raka, ia mulai menyanyi lagi. Lagu-lagu lama yang sama, tapi kali ini dalam suasana berbeda. Anak-anaknya kadang-kadang datang menonton. Ibunya tersenyum dari meja paling belakang.
Suatu malam, Andre datang. Ia duduk, diam, dan pergi setelah satu lagu. Tak ada kata. Tak ada amarah. Hanya sepasang mata yang saling menyoba melepaskan. Lela melihatnya pergi dengan hati berat, tapi yakin. Raka, yang duduk di pojok ruangan seperti biasa, menatapnya.
“Masih takut bahagia?” tanyanya pelan.
Lela menggeleng. “Masih takut kecewa. Tapi kali ini, aku siap kalau harus mulai dari luka lagi. Selama bukan luka yang sama.”
Raka menggenggam tangannya. “Bukan luka yang sama. Tapi kita bisa sembuh bersama.” Dan Lela percaya.
Seiring waktu berjalan, hubungan Lela dan Raka kian dekat. Tapi seperti semua cerita yang belum selesai, dunia tak membiarkan segalanya berjalan mulus.
***
Suatu sore di kafe tempat Lela kini menyanyi, seorang wanita datang. Rambutnya tertata rapi, pakaian sederhana namun berkelas, dan langkahnya mantap. Ia membawa dua gelas kopi dan langsung menuju meja tempat Raka duduk.
“Masih suka teh manis, Ka?”
Raka tersentak. “Siska?”
Wanita itu tersenyum. “Lama nggak ketemu. Aku dengar kamu sering ke sini. Kupikir, kenapa nggak sekalian mampir?”
Lela, yang tengah menyanyi, melihat interaksi itu dari atas panggung. Senandung lagunya pun sempat goyah nada. Ia menatap ke arah Raka dan perempuan itu. Ada sesuatu di dada yang mencubit. Perasaan tak bernama, tapi sangat mengganggu.
Siska adalah teman lama Raka. Mantan rekan kerja yang dulu sempat dekat, tapi tak pernah jadi pasangan. Mereka sempat menjauh karena perbedaan prioritas. Tapi kini Siska kembali, di saat Raka belum sepenuhnya menetapkan hati.
Beberapa hari kemudian, Siska datang lagi. Kali ini, dengan lebih percaya diri. Ia membawa bunga dan menyerahkannya di belakang panggung.
“Untukmu,” katanya pada Lela dengan senyum tipis. “Kamu hebat malam ini.”
Lela menerimanya, bingung. Siska menatap matanya, lembut tapi menusuk. “Aku tahu kamu dekat dengan Raka. Dan itu nggak salah. Tapi kamu tahu kan, ada orang yang lebih mengenal dia luar dan dalam?” Lela terdiam. Ia tahu maksudnya.
Siska melanjutkan. “Aku nggak datang buat bertengkar. Tapi kalau kamu belum yakin dengan dia, tolong jangan beri harapan. Raka bukan tipe yang main-main.”
Malam itu, Lela menangis kembali di kamar kecil. Dunia lama yang ingin ia tinggalkan, kini menyeretnya lagi lewat jalan yang berbeda cinta. Di sisi lain, Raka pun bimbang. Ia tahu Siska adalah masa lalu yang pernah membuatnya merasa utuh. Tapi sejak mengenal Lela, ia melihat sisi lain dari cinta, keberanian dalam luka, kekuatan dalam kelembutan.
***
Suatu malam, Andre, yang kini lebih diam, namun belum menyerah, bertemu dengan Siska secara tidak sengaja di area parkir.
“Kamu juga belum bisa lepasin dia?” tanya Andre tanpa basa-basi.
Siska tertawa pahit. “Lucu ya. Kita berdua berjuang untuk orang yang mungkin memilih jalan yang nggak kita suka.”
“Kamu tahu Lela bukan dari dunia Raka?”
“Dan kamu tahu Raka bukan dari dunia Lela?”
Mereka tertawa. Tapi tawa itu hambar, karena keduanya tahu, cinta tidak peduli dunia mana yang mereka pijak. Cinta kadang hanya memilih… tanpa alasan. Pada akhirnya, semua kembali pada Lela dan Raka.
Suatu saat Lela memutuskan untuk bicara. “Ka, kamu yakin ini jalan yang kamu pilih?”
Raka memegang tangannya. “Aku bukan lelaki tanpa masa lalu. Tapi sejak mengenalmu, aku tahu apa yang ingin kuperjuangkan.”
“Siska?” timpa Lela
“Dia bagian dari hidupku, tapi bukan masa depanku.”
Lela menunduk. “Aku bukan perempuan tanpa luka. Tapi kalau kamu bersedia, kita bisa jalan… pelan-pelan.”
Dan mereka berjalan. Tidak dengan janji besar. Tapi dengan niat yang tumbuh dari keberanian untuk saling mengenal, walau banyak yang menentang. Siska pergi dengan kepala tegak. Ia tak ingin menjadi bayang-bayang. Ia tahu kapan harus mundur.
Andre? Ia tetap menjadi saksi diam. Tapi suatu hari, ia tersenyum melihat Lela dari kejauhan. Bukan lagi sebagai miliknya yang hilang, tapi sebagai seseorang yang ia hormati karena keberaniannya bertahan.
SEKIAN
“Cinta tidak selalu memilih yang terbaik di atas kertas. Kadang, ia memilih siapa yang paling rela bertahan dalam luka, dan tetap melihat cahaya.”
(*) Kisah ini kiriman seorang teman yang tidak mau jatidirinya terekspos.















Tinggalkan Balasan