Menjaga Integritas di Negeri BUMN

Menjaga Integritas di Negeri BUMN
Menara Suar (Sumber Foto Pixabay)

Di antara deretan meja yang penuh tumpukan dokumen dan raungan mesin fotokopi, Dian melangkah mantap ke ruang kerjanya. Sebagai pegawai muda di sebuah Badan Usaha Milik Negara, berkelindan dalam ingatannya akan AKHLAK, Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif. Namun, di setiap sudut koridor, terdapat bayangan beban yang kian berat, adanya tuntutan untuk benar-benar menghidupi nilai-nilai luhur. Alih-alih keteladanan, yang ada justru arus korupsi di puncak kian menderas.

Nilai-nilai yang Mengikis

Sebagai karyawan muda, ia mengelola bagian anggaran pengadaan alat. Dalam tekadnya, Dian bersumpah akan menjaga kepercayaan itu dengan teliti. Setiap angka dalam dokumen ia periksa berkali-kali. Suatu hari, Kepala Divisi memintanya “melonggarkan” anggaran demi “kelancaran proyek”. Di balik kata lembut itu, tersimpan ajakan gratifikasi. Dian terhenyak, apakah ia akan kukuh menolak demi amanah, atau menyerah pada tekanan atasan?

Dian bangga karena ahli mengoperasikan sistem e‑procurement dan selalu patuh pada prosedur. Namun, belakangan banyak pejabat tinggi memilih “jasa konsultasi” dari perusahaan yang nyaris tak pernah ia dengar. Desas-desus mengatakan, kompetensi hanyalah formalitas agar “alur” tetap mulus. Rapat resmi berubah panggung sandiwara, dan suara profesionalisme Dian perlahan teredam oleh keharusan proyek berjalan tanpa hambatan.

Dulu, kantin kantor ramai dengan canda tawa dan saling bertukar ilmu. Kini, suasana berubah tegang. Mereka yang berani mempertanyakan alur “untung-untungan” kerap dijauhi. Dian melihat rekan-rekannya memilih diam, takut terjebak gosip. Senyum pun terasa bias, bisa jadi tanda kedekatan pada praktik serong.

Keluhuran Senantiasa Tergerus

Loyal pada siapa? Pada institusi yang mulai ternoda korupsi, atau pada nilai-nilai AKHLAK? Dian teringat janjinya untuk melayani rakyat. Namun, jika ia tunduk pada atasan yang melanggar, ia merasa mengkhianati sumpah itu. Di sisi lain, memegang teguh prinsip bisa membuatnya terasingkan, atau lebih buruk lagi, ancaman sanksi karier.

BUMN kerap di cap lambat dan kaku. Dian selalu mengusulkan inovasi digital, lean management, pun juga pelatihan etika. Namun ketika ide-idenya tak sejalan “proyek strategis” yang tengah mendulang, ia justru terpinggirkan. Adaptasi yang ia tawarkan serasa berjuang sendirian melawan arus kepentingan.

Kolaborasi hanyalah slogan belaka, apalagi ketika rapat penting hanya berisi “orang dalam”. Keputusan vendor tercipta melalui balik pintu tertutup, dan tanpa catatan terbuka. Bagi Dian, kolaborasi sejati berarti transparansi, dan ruang diskusi, bukan rapat eksklusif yang menyuburkan korupsi.

Titik Balik

Suatu sore, Dian menelusuri proposal fiktif dengan nilai miliaran rupiah. Ia nyaris gentar, karena melaporkan berarti menantang arus, namun bungkam berarti berandil dalam kecurangan. Hatinya gelisah, namun suara AKHLAK memaksa ia bertindak. Dengan tangan bergetar, ia menyiapkan laporan pengaduan.

Laporan Dian memicu pemeriksaan internal. Banyak pihak mencoba menggagalkan, tetapi tak sedikit pula rekan sejiwa yang mendukungnya. Lambat laun, praktik gelap itu terkuak. Meskipun panjang dan melelahkan, keberanian satu orang menularkan semangat, membuktikan bahwa integritas kecil dapat memancarkan harapan besar.

Dampak laporan Dian tidak berakhir di situ, getarannya justru memantik semangat kecil yang kuat. Dalam beberapa minggu, terbentuklah forum rahasia antar pegawai yang haus akan perubahan. Mereka saling berbagi cara mengamalkan AKHLAK tanpa tawar-menawar. Dia dan rekan-rekan sejiwa secara bergiliran memeriksa proses hingga penyaluran “kode etik” lewat pesan singkat di meja kerja. Saat satu per satu keberanian itu muncul, kepercayaan pun perlahan tumbuh kembali.

Sinar Harapan

Di level manajemen menengah, sejumlah kepala divisi yang sebelumnya pasif mulai menyadari bahwa tak bisa membiarkan suasana ketakutan berkelindan. Mereka lalu memfasilitasi pembentukan tim tata kelola independent. Tim itu bertugas meninjau prosedur pengadaan dan melaporkan temuan tanpa campur tangan atasan. Ruang rapat yang dulu eksklusif kini terbuka untuk wakil staf, hingga “transparansi” tak lagi sekadar slogan di spanduk kantor.

Beban menjalankan AKHLAK tetap terasa berat, karena mengukur keberhasilan di tengah tekanan eksternal dan konflik batin yang meninggi. Namun saat pegawai baru bertanya mengapa Dian berani mengambil risiko. Dian hanya tersenyum dan berkata, “Karena kita punya dua pilihan, ikut memperparah masalah, atau menjadi solusi.” Ungkapan itu menyulut semangat banyak orang.

Beberapa bulan berselang, BUMN tersebut mendapat predikat “Zona Integritas” oleh Kementerian BUMN. Penghargaan itu bukan hadiah instan, melainkan hasil kolaborasi yang bermulai dari keberanian menentang arus. Meski korupsi belum sepenuhnya hilang, upaya reformasi telah menancapkan harapan, bahwa di balik beban berat, selalu ada celah untuk bangkit.

Saat lampu-lampu kantor mulai meredup di penghujung hari, Dian menatap lorong panjang dengan keyakinan bahwa perjalanan masih panjang. Namun langkah kecil yang ia ambil telah menyalakan secercah cahaya, harapan yang terus berkobar agar mampu menerangi seluruh institusi.

Penutup

Menjalankan AKHLAK sehari-hari di BUMN memang penuh beban, apalagi saat korupsi pejabat makin merajalela. Namun seperti Dian, setiap pegawai yang memilih jalan amanah dan kompeten, menjaga harmoni, menegakkan loyalitas bernilai, adaptif, dan kolaboratif, akan mampu memercik perubahan. Mungkin butuh waktu, tetapi sebutir keberanian adalah fondasi untuk memurnikan institusi demi masa depan bangsa.