Cinta Terbeli, Luka Tak Terobati

Cinta Terbeli, Luka Tak Terobati
Tatapan Pria Nakal (Sumber Foto : Pixabay)

Bagian 1: Diskon Cinta

Karya: NN (*)

Namaku Dion, pegawai rendahan di kantor outsourcing, bergaji pas-pasan. Tak banyak yang bisa kubanggakan, kecuali wajah yang lumayan menjual dan lidah yang tahu caranya membujuk. Dari hidup yang keras ini, aku belajar satu hal penting, jika tak sanggup membeli cinta, carilah potongan harga.

Aku mengenal Maya di sebuah tempat karaoke. Dia seorang Talent, pendamping nyanyi, pelipur lara. Suaranya merdu, tawanya menenangkan. Kami cepat akrab. Entah karena aku sering datang, atau karena Maya lelah menjalani malam sendirian. Walau dia tahu aku bukan siapa-siapa, matanya tetap memperlakukanku seolah aku lelaki paling berarti. Gajiku habis untuk membeli waktu bersamanya. Tapi kurasa saat itu, cintaku setimpal dengan pengorbananku.

Sampai aku bertemu Rani.

Dia resepsionis di tempat yang sama, murah senyum, mudah diajak bicara, dan yang terpenting, tidak berbayar. Tak perlu fee, tak perlu booking waktu. Dengan Rani, aku bisa tetap menikmati dunia malam tanpa takut dompet menangis. Dugem jalan terus, dan aku merasa hidup lebih ringan.

Lalu aku memutuskan, dengan logika keuangan, bukan hati, Maya harus kulepas.

“Maya, kita nggak bisa lanjut. Aku cuma bikin hidupmu tambah berat,” kataku, setelah malam itu dia mengantarku ke lobi.
Dia tersenyum tipis, matanya sembab. “Kalau rasa berat itu bahagiaku, kenapa harus kamu ambil dariku, Dion?” bisiknya pelan.
Aku tak membalas. Hanya berjalan pergi. Menuju pelukan yang lebih ‘efisien’.

Bagian 2: Pelukan yang Lebih Efisien

Rani menyambutku seperti biasa, hangat, tanpa tuntutan. Dengannya, cinta terasa seperti investasi minim risiko. Kami sering jalan malam, tertawa ringan, kadang saling sandar di parkiran, berbagi peluh dalam senyap. Aku yakin, aku telah memilih yang terbaik, untukku.

Tapi tak ada keputusan murahan tanpa konsekuensi.

Suatu malam, kabar datang: Maya ditemukan pingsan di kamar kosnya. Di antara tumpukan surat utang, ada secarik catatan kecil,
“Maafkan aku, Dion. Aku tahu aku terlalu mahal untukmu. Tapi cintaku… selalu murah untukmu.”

Dadaku sesak. Untuk pertama kalinya, aku merasa hina. Sebesar apa pun egoku, aku tak pernah layak dicintai seutuh itu.
Aku menjenguknya ke rumah sakit. Tapi yang lebih dulu menemuiku adalah Rani.

“Ngapain kamu di sini?” tanyanya tajam.

Aku terdiam. “Aku nggak tahu lagi harus ke mana…”

Dia menatapku datar, lalu berkata lirih, “Kalau alasanmu memilih aku hanya karena aku lebih murah, kamu nggak pernah cinta siapa pun. Kamu cuma cinta dirimu sendiri.”

Lalu dia pergi. Tanpa menoleh.

Bagian 3: Surat Utang dan Catatan Luka

Sejak malam itu, aku kehilangan dua perempuan yang pernah menaruh hatinya padaku. Maya sembuh, tapi tak pernah lagi menyapaku. Rani pindah, katanya bekerja di hotel berbintang. Entah sudah bertemu lelaki yang tahu caranya mencintai, bukan menghitung.

Dan aku?

Masih di sudut ruangan yang sama, memesan kopi sachet murahan. Tak lagi masuk ruangan karaoke, hanya mendengar lagu dari balik pintu. Sesekali kulihat Maya bernyanyi di atas panggung. Suaranya tetap indah. Senyumnya tetap menawan. Tapi tak lagi mengarah padaku.

Hari-hari berikutnya seperti tanpa arah. Aku hanya mengejar bayangan. Sampai malam itu…

Bagian 4: Tinju dan Tanah Merah

Seorang pria bertubuh besar menghampiriku. “Lo Dion, kan?”

Aku mengangguk pelan. Sebuah tinju menghantam wajahku. “Lo pikir lo siapa mainin dua cewek sekaligus?!”

Belakangan, aku tahu dia adalah mantan Maya. Lelaki yang dulu ditinggalkan, kini kembali saat Maya terpuruk. Dan rupanya, semua tentangku, kebohongan, ketamakan, dan keputusanku meninggalkan Maya, sudah jadi rahasia umum.

Tapi bukan pukulan itu yang paling menyakitkan. Justru kabar dari seorang kawan lama:

“Maya udah cabut, bro. Nggak tahan lagi kerja di sini. Semua sudut ngingetin dia sama lo.”

“Ke mana dia?”

“Balik kampung. Katanya mau mulai hidup dari awal.”

Tak lama setelah itu, berita duka datang: Rani meninggal dalam kecelakaan bus saat liburan kantor.

Aku datang ke pemakamannya, membawa bunga lili putih, bunga kesukaannya yang dulu ingin kuberikan tapi tak pernah sempat.

Aku tak tahu, air mata itu untuk siapa, Rani, atau untuk diriku sendiri yang gagal mencintai.

Bagian 5: Kopi Sachet dan Kalender Kosong

Malamnya, aku kembali ke kamar sempit. Meja kosong. Dompet menipis. Kalender penuh coretan tak berarti. Di cermin, aku hanya melihat bayangan seorang pengecut, laki-laki yang menyangka cinta bisa dihitung seperti tagihan listrik.

Seminggu setelah pemakaman, aku mengajukan surat resign. Tak banyak yang kutinggalkan di kantor selain reputasi yang memudar. Tapi ada satu tujuan jelas: alamat kampung Maya.

Bagian 6: Pelan Tapi Pulih

Sesampainya di desa itu, aku melihat rumah kayu kecil. Maya sedang menyiram mawar. Dia terdiam saat melihatku. Ember di tangannya gemetar.

“Maya…”

Dia tak menyahut.

“Aku nggak minta dimaafkan. Aku cuma… mau bilang maaf. Dan terima kasih, karena dulu kamu pernah percaya sama aku.”
Dia menangis. Tapi tak lari. Tak juga mengusirku.

Hari-hari di desa berjalan lambat. Tapi justru di sana aku mulai belajar mencintai… tanpa menuntut. Maya mulai membuka hati. Pelan. Tapi tak lagi membenci.

Bab 7: Ketika Hati Mulai Terbuka

Suatu pagi, di meja, ada nasi goreng dengan telur berbentuk hati dan secarik kertas:
“Kalau kamu masih di sini sampai musim panen nanti, mungkin kamu bisa bantu aku urus kebun bunga juga.”
Hari itu, cahaya pagi terasa berbeda. Tak menyilaukan. Hanya hangat dan cukup.

Penutup : Bukan Lagi Harga, Tapi Nilai

Cinta sejati tidak datang karena logika. Ia hadir saat dua luka memilih saling membalut.

 

(*) Kisah ini kiriman seorang teman yang tidak berkenan jatidirinya terpublikasi.