Suatu pagi di dermaga, ketika kapal besar bergerak perlahan mendekati tambatan, saya teringat pada satu kebenaran lama. Yaitu, bahwa di laut, tidak ada kepastian yang benar-benar mutlak. Peta bisa lengkap, radar bisa presisi, dan sertifikat bisa tergantung rapi di dinding anjungan. Namun, hakikinya keselamatan pelayaran tetap bergantung pada kebijaksanaan manusia yang membacanya.
Dari sanalah kegelisahan ini bermula. Ketika bangsa ini kembali menaruh harapan besar pada satu mekanisme bernama “Tes Kompetensi Akademik (TKA)“. Seolah-olah angka dapat meringkas masa depan pendidikan, dan skor mampu memastikan kecerdasan anak-anak bangsa.
Tidak ada yang sepenuhnya keliru dengan keinginan mengukur. Dalam pelayaran pun, kami mengukur kecepatan, jarak, dan kedalaman. Tetapi laut mengajarkan pelajaran yang lebih dalam. Bahwa, alat ukur tidak pernah lebih penting daripada kebijaksanaan dalam memaknainya. Maka, ketika ukuran berubah menjadi tujuan, di situlah bahaya sunyi mulai bekerja.
TKA hadir membawa janji keteraturan, standar yang seragam, seleksi yang dianggap adil, dan kepastian administratif. Ia menenangkan sistem, tetapi belum tentu menenteramkan jiwa pendidikan. Sebab pendidikan sejatinya bukan hanya tentang keteraturan, melainkan tentang pertumbuhan manusia yang tidak selalu linear dan tidak pernah seragam.
Di geladak kapal, soal pilihan ganda tidak menguji seorang perwira. Situasi nyata lah yang mengujinya, arus menyilang, cuaca yang berubah mendadak, dan hitungan detik untuk mengambil keputusan yang tepat. Pengetahuan teori penting, bahkan mutlak. Tetapi tanpa ketenangan batin, kepekaan membaca tanda, dan keberanian moral, semua pengetahuan itu akan kehilangan makna.
Begitu pula pendidikan. TKA mungkin mampu membaca kemampuan kognitif, tetapi ia tak pernah benar-benar menangkap ketekunan, empati, kejujuran, daya tahan, dan kebijaksanaan. Padahal, nilai-nilai tersebut justru menentukan kualitas manusia ketika berhadapan dengan kehidupan yang sesungguhnya.
Kita hidup di zaman yang terobsesi pada kepastian, angka memberi rasa aman, peringkat menghadirkan ilusi keadilan. Padahal kehidupan, seperti laut, tidak pernah adil secara matematis. Anak-anak tumbuh dalam latar yang berbeda. Antara pesisir dan pegunungan, kota dan kampung, serta keluarga mapan dan rumah sederhana. Namun alat yang sama menguji mereka, seolah garis awal mereka setara.
Di sinilah pendidikan berisiko kehilangan nuraninya. Bukan karena TKA ada, tetapi karena “kita terlalu percaya padanya”.
Tes akademik cenderung menguntungkan mereka yang memiliki akses: bimbingan, modul, teknologi, dan waktu. Sementara banyak anak menyimpan kecerdasan kontekstual, yaitu kecerdasan hidup yang tak pernah terjawab di lembar soal. Mereka paham kerja keras, solidaritas, dan tanggung jawab, tetapi tak selalu fasih dalam bahasa standar ujian.
Ketika pendidikan hanya memuliakan yang terukur, sesungguhnya kita sedang membangun eliteisme baru, cerdas secara akademik, tetapi rapuh secara empati. Pintar menjawab soal, namun gagap membaca realitas. Kita telah berkali-kali menyaksikan akibatnya, pemimpin kaya gelar tetapi miskin keteladanan, profesional unggul teknis namun abai pada dampak kemanusiaan.
Dalam tradisi pelayaran lama, para pelaut membaca bintang. Bintang tidak memberi jarak pasti atau waktu tiba, tetapi memberi arah. Begitulah seharusnya pendidikan. TKA idealnya adalah bintang penunjuk, bukan pelabuhan akhir. Ketika menjadikannya tujuan, maka ia akan berubah menjadi cahaya yang menyilaukan, terang tetapi membutakan.
Dalam perspektif sufistik, manusia bukan proyek yang harus diselesaikan, melainkan perjalanan yang harus disadari. Ilmu bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi jalan untuk mengenal diri dan Tuhan. Pendidikan yang kehilangan dimensi ini akan melahirkan manusia penuh isi, tetapi kosong makna.
Saya tidak sedang menolak TKA. Dalam pelayaran, kompas tetap dibutuhkan. Namun kompas bukan penentu tunggal keselamatan. Ia hanya alat bantu, bukan pengganti kebijaksanaan nahkoda. Bangsa besar bukan bangsa yang anti-ukur, tetapi bangsa yang tidak menyembah ukuran.
Pendidikan sejatinya adalah proses sunyi memanusiakan manusia. Ia bekerja pelan, dalam, dan sering tak terlihat. Buahnya mungkin tak segera tampak, tetapi akarnya menghunjam kuat. Ketika TKA terlalu dominan, ada risiko akar itu terpotong demi panen cepat.
Anak-anak kita kelak tidak hanya hidup di ruang ujian, tetapi di ruang kehidupan yang penuh ambiguitas, konflik nilai, dan pilihan moral. Maka pendidikan seharusnya melatih mereka membaca makna, bukan sekadar membaca soal.
Di laut, kapal yang selamat bukan selalu yang tercepat, melainkan yang paling bijak membaca keadaan. Begitu pula bangsa. Ia tidak ditentukan oleh skor rata-rata warganya, melainkan oleh kualitas nurani yang tumbuh dari pendidikannya.
TKA hanyalah alat. Dan seperti semua alat, ia harus tunduk pada tujuan yang lebih luhur. Ialah membentuk manusia yang utuh, cerdas pikirannya, halus perasaannya, dan jernih arah hidupnya.
Jika tidak, kita akan terus berlayar dengan peta yang rapi dan angka yang meyakinkan, tetapi lupa bertanya dengan jujur: “Ke mana sebenarnya pendidikan dan bangsa ini hendak berlabuh?”















Tinggalkan Balasan