Pagi itu, kabut lembut masih menggantung di atas perairan Pelabuhan Belawan. Laut tampak tenang, namun aktivitas kapal yang bersiap berlayar menciptakan kesibukan yang khas. Di antara barisan kapal, MT Ocean Grace tengah bersiap untuk lepas tambat menuju pelabuhan berikutnya di Singapura. Di anjungan, Kapten Milan, nakhoda berkebangsaan Kroasia, memimpin pengarahan sebelum manuver keberangkatan kapal.
Tak lama, pintu anjungan terbuka. Seorang pria berseragam biru tua dengan helm putih di tangan melangkah masuk dengan langkah mantap. Ia adalah Kapten Rafi, Pandu senior yang bertugas mendampingi kapal dalam proses olah gerak.
“Selamat pagi, Kapten,” sapa Rafi ramah sambil berjabat tangan.
“Selamat datang, Pilot,” balas Kapten Milan sambil tersenyum.
Setelah perkenalan singkat, Kapten Rafi bergabung dalam tim anjungan, berdiri di samping sang nakhoda. Bersama-sama, mereka meninjau layar navigasi, radar, dan pemandangan pelabuhan dari balik jendela anjungan. Inilah detik-detik ketika prinsip Bridge Resource Management (BRM) benar-benar berproses.
***
Dalam praktik BRM, setiap personel di anjungan memiliki peran yang saling menunjang. Nakhoda memegang otoritas tertinggi, namun Pandu memainkan peran vital sebagai pakar lokal. Pandu mengenali liku-liku alur pelayaran, kekuatan arus, batas aman kecepatan, hingga karakteristik kapal tunda yang beroperasi di sekitar pelabuhan.
Kapten Rafi pun segera melakukan briefing. Ia memaparkan strategi manuver, posisi kapal tunda, area putar, arah keluar alur, hingga potensi hambatan yang akan muncul. Uraiannya lugas namun terbuka terhadap diskusi. Setiap poin ia konfirmasi kepada Officer of the Watch (OOW), juru mudi, dan tentunya kepada Kapten Milan sendiri.
“Kapal ini tetap di bawah komando Anda, Kapten. Saya hanya memberikan saran berdasarkan kondisi pelabuhan,” ucap Rafi, tenang dan bersahabat.
Kapten Milan mengangguk mantap. “Kita bekerja sebagai tim. Terima kasih atas pengarahan yang jelas.”
***
Saat olah gerak kapal, anjungan menjadi pusat koordinasi yang aktif namun terkendali. Rafi, sebagai Pandu, tak pernah mengambil alih kemudi, tetapi menjadi pengarah strategis berdasarkan pengalaman dan pengetahuan lokal. Ketika satu kapal tunda mengalami keterlambatan, ia segera menyesuaikan taktik dan memberi pembaruan kepada seluruh tim.
Kapten Milan menghargai kehadiran Rafi sebagai mitra sejajar. Dalam sistem BRM yang sehat, tak ada tempat bagi ego. Kecuali, keterbukaan, kejelasan komunikasi, dan ketepatan informasi dalam mengambil keputusan di bawah tekanan waktu. Dan pagi itu, Ocean Grace berhasil meninggalkan pelabuhan tanpa hambatan. Setiap awak di anjungan menjalankan tugasnya dengan harmonis, seperti satu unit yang kompak. Pandu memimpin orkestrasi lokal, sembari mengikuti irama komando Nakhoda.
Di era pelayaran modern, keselamatan bukanlah hasil dari kerja individu, melainkan buah dari kerja sama. Bridge Resource Management bukan sekadar metode, melainkan filosofi. Yaitu, bahwa koordinasi, komunikasi, dan kepercayaan adalah fondasi dari setiap gerak kapal.
Di tengah padatnya aktivitas pelabuhan, kehadiran Pandu bukan untuk menggantikan, tapi untuk memperkuat. Di atas anjungan, siapa yang paling ahli bukanlah soal utama, terpenting adalah siapa yang paling siap untuk bekerja bersama. Dan hari itu, seperti hari-hari lainnya, kolaborasi menjadi arah, lalu keselamatan pun menjadi pencapaian.
***
Kolaborasi harmonis yang terjadi antara Kapten Rafi dan Kapten Milan di atas anjungan bukanlah sesuatu yang terjadi secara spontan. Di balik keharmonisan itu, terdapat dasar kuat berupa profesionalisme. Kemudian, komunikasi lintas budaya yang terbuka, serta kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.
Dalam pelayaran internasional, kapal kerap berawak dari berbagai latar belakang bangsa, bahasa, dan budaya kerja. Di sinilah peran Bridge Resource Management (BRM) menjadi sangat vital. BRM bukan hanya metode kerja, tetapi sebuah pendekatan terpadu untuk menyatukan keragaman menjadi kekuatan kolektif.
Seorang Pandu, meskipun bukan bagian permanen dari kru kapal, penting segera menyesuaikan diri dengan dinamika kerja di anjungan. Thus, kehadiran pandu tanpa menimbulkan tumpang tindih peran. Ia membawa keahlian lokal, namun bersikap inklusif dan adaptif terhadap sistem kerja di kapal.
Lebih dari sekadar membagi tugas, BRM adalah tentang menciptakan kesadaran situasional bersama. Semua elemen di anjungan, dari Pandu, OOW, juru mudi hingga Nakhoda perlu saling melengkapi dalam membaca kondisi sekitar. Contohnya, cuaca, arus, hingga keberadaan kapal lain.
Pandu memberikan arahan tentang jalur dan kecepatan. OOW memastikan alat bantu navigasi berjalan dengan baik. Juru mudi mengeksekusi instruksi kemudi. Dan, Nakhoda tetap bertindak sebagai pengendali akhir kapal.
Semua itu hanya bisa berjalan efektif jika ada kepercayaan yang saling dibangun, atau mutual respect. Saling menghargai posisi dan keahlian masing-masing adalah inti dari sistem ini.
Kapten Rafi menyadari bahwa perannya bukan untuk mengambil alih komando, tetapi menjadi bagian dari keberhasilan manuver kapal. Di sisi lain, Kapten Milan pun memahami bahwa menerima saran dari Pandu bukanlah menurunkan otoritasnya, melainkan bentuk kolaborasi dalam kepemimpinan.
***
Kesimpulan
Bridge Resource Management menekankan bahwa keselamatan pelayaran tak hanya bertumpu pada keahlian individu. Melainkan pada bagaimana setiap anggota tim anjungan berdaya dan berperan secara aktif.
Pandu bukanlah pengganti, melainkan rekan strategis. Nakhoda bukan aktor tunggal, tapi pemimpin orkestrasi. Dan keselamatan bukan hasil kerja seorang, tapi buah dari harmoni bersama.
Dalam setiap manuver pelabuhan, tersimpan pelajaran bahwa keberhasilan hanya bisa diraih ketika semua pihak saling percaya dan bekerja selaras. Dari ruang sempit anjungan itulah, budaya keselamatan terbangun. Yaitu, adalah komunikasi, kolaborasi, dan komitmen sebagai arah, serta kepercayaan sebagai kompas utamanya.















1 Comment