Tak Pernah Benar-Benar Berhenti Berlayar

Tak Pernah Benar-Benar Berhenti Berlayar
Sumber Foto : Pixabay

Oleh: Wahyu Agung Prihartanto

Setiap pelaut sejati paham, suatu saat layar harus turun dan kapal tambat di pelabuhan terakhir. Bukan karena badai atau gelombang tinggi, melainkan karena perjalanan telah mencapai ujung. Begitu juga yang kini saya rasakan. Dalam hitungan sekitar lima bulan ke depan, saya akan mengakhiri masa pengabdian di Pelindo. Sebuah kapal raksasa tempat saya menambatkan jiwa dan tenaga selama hampir 26 tahun terakhir.

Meski berbagai persiapan telah saya lakukan, baik secara administratif, keuangan, maupun mental, tetap saja ada rasa gelisah yang menyelinap. Bukan karena saya tidak siap, melainkan karena saya mulai mempertanyakan. “Siapa saya nanti tanpa seragam dan tugas resmi?” Perjalanan panjang saya bukan hanya tentang profesi, melainkan juga pembentukan identitas.

Sebelum bergabung dengan Pelindo, saya adalah pelaut. Laut, angin, dan cakrawala adalah sahabat sunyi saya. Ketika kemudian Pelindo mempercayakan saya menjadi Pandu kapal, sebuah profesi penuh tanggung jawab dan kehormatan. Saat itu, saya merasakan peran tersebut benar-benar menyatu dengan jiwa. Menuntun kapal-kapal raksasa memasuki pelabuhan bukan sekadar urusan teknis, itu tugas membawa harapan dan keselamatan menuju dermaga yang aman.

Namun kini, saya seolah tengah menavigasi kapal terakhir saya, bukan kapal fisik, tapi perjalanan menuju babak baru kehidupan. Dan seperti banyak pelaut yang pernah menghadapi ketidakpastian, rasa takut pun menghantui saya. Rasa takut akan kehampaan. Kekhawatiran akan kehilangan arti. Kecemasan bahwa orang lain tak lagi membutuhkan saya.

Saya memiliki dua putri. Yang pertama telah menikah dan memberi saya cucu laki-laki dan 2 calon berikutnya, menjadi sumber keceriaan keluarga kami. Anak kedua kini duduk di bangku kelas tiga SMA, bersiap melanjutkan langkah ke dunia yang lebih luas. Keluarga adalah pelabuhan teraman dalam hidup saya. Namun tetap saja, ketika selama bertahun-tahun mengemban pekerjaan dan tanggung jawab publik, perlu proses untuk menemukan kembali rasa berharga di luar sana.

Dalam keheningan sore di teras rumah, saya kerap termenung. Memandang langit yang berubah warna sambil bergulat dengan satu pertanyaan: Apa makna menjadi Wahyu setelah pensiun?

Dalam momen-momen itulah, kenangan dari masa bertugas kembali mengalir, menguatkan batin saya. Salah satunya adalah saat saya memandu MV. Amadea, kapal pesiar berbendera Bahamas yang megah, memasuki Pelabuhan Benoa pada pagi hari berselimut kabut tebal. Kala itu jarak pandang hanya sekitar 300 meter. Awak kapal tampak cemas, dan kaptennya pun penuh keraguan.

Saya berdiri di anjungan, telinga siaga mendengar komunikasi radio, mata fokus menatap radar dan gerakan kapal tunda. Saya tahu, satu keputusan yang keliru bisa berakibat fatal. Namun saya tenang.

“Maintain heading… ten degrees starboard… slow ahead,” instruksi saya berikan dengan mantap. Dalam keterbatasan pandangan, saya tak hanya mengandalkan alat navigasi, tetapi juga naluri dan jam terbang.

Kapal itu akhirnya bersandar dengan sempurna. Kaptennya menghampiri saya, menjabat tangan dan berkata, “You’re a true pilot, Captain Wahyu.” Kalimat itu bukan sekadar pujian, melainkan pengakuan, bahwa apa yang saya lakukan bukan hanya pekerjaan, tapi panggilan jiwa.

Dari sanalah saya belajar, bahwa yang saya bangun selama ini lebih dari sekadar rutinitas, saya membentuk nilai. Ketegasan, ketelitian, keberanian mengambil keputusan, dan tanggung jawab adalah warisan yang tak lekang waktu. Dan saya tahu, nilai-nilai itu tak ikut pensiun bersama saya. Justru kini, saatnya saya menaburkannya kepada generasi baru.

Saya pun mulai menulis. Buku Menavigasi Lautan Pemikiran menjadi salah satu upaya saya mengabadikan pelajaran dan perjalanan dari dunia pemanduan kapal. Menulis menjadi pelampung spiritual saya, cara untuk tetap merasa hidup dan bermakna. Saya percaya setiap insan mampu berbagi cerita, dan inilah milik saya.

Saya membayangkan suatu hari nanti bisa menjadi pembicara, mentor, atau sekadar teman berdiskusi bagi para pandu muda. Bukan untuk menggurui, tetapi untuk menyampaikan hal-hal yang tidak tertulis dalam manual kerja. Intuisi di tengah badai, sikap hati dalam tekanan, dan bagaimana menjadikan profesi sebagai bentuk pengabdian.

Saya tahu saya tidak sendiri. Banyak orang di luar sana sedang bersiap menghadapi masa transisi seperti saya. Mereka yang pensiun, berpindah jalur hidup, atau kehilangan pekerjaan.

Untuk mereka, dan juga diri saya sendiri, saya ingin mengatakan:

Tak ada yang benar-benar berhenti berlayar. Kita hanya berganti haluan, mengganti layar, dan melanjutkan perjalanan dengan cara yang baru. Selama napas masih ada, selama hati masih berlayar, hidup akan tetap berdenyut.

Pensiun bukan membuat saya kecil. Justru ini momen untuk bertumbuh ke dalam. Untuk lebih hadir sebagai ayah, kakek, suami, dan sahabat. Untuk lebih jujur kepada diri sendiri, dan menjalani hari-hari dengan ringan dan bersyukur.

Kini, jika rasa cemas datang lagi, saya tak mengusirnya. Saya persilakan ia duduk di beranda, menemaniku minum teh sambil menatap langit. Sebab saya tahu, seperti dalam pelayaran, angin kencang bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipahami.

Saya siap menambatkan kapal. Ini bukan sebagai akhir dari cerita, melainkan permulaan perjalanan batin yang lebih dalam, menuju dermaga diri yang lebih utuh.

Catatan:

Tulisan ini adalah pengingat untuk diri sendiri. Hal ini semoga bisa menjadi penguat bagi siapa pun yang tengah bersiap menyambut perubahan besar dalam hidup. Karena esensi hidup bukan terletak pada lamanya kita bekerja, tapi dalam makna yang kita hadirkan sepanjang jalan.