Navigasi Nalar Maritim (Serial 9)

Navigasi Nalar Maritim (Serial 11)
Lampu Penuntun (Sumber Foto : Pixabay)

Nasib Bangsa di Ujung Ombak

“Bangsa ibarat kapal: bendera boleh lusuh, tiang boleh miring, tetapi tekad para awak menentukan apakah ia karam atau tetap berlayar.”

Lukisan yang Bicara

Suatu sore saya menatap sebuah lukisan imajiner, kapal tua, benderanya merah putih, lusuh, robek-robek, tiangnya miring, dan haluannya menantang ombak raksasa. Di depan, dua sosok pucat pasi berdiri—Presiden dan Wakil Presiden—berusaha menghalau gelombang. Bayangan itu bukan sekadar imajinasi, namun sekaligus refleksi, beginilah wajah bangsa ketika badai zaman mengguncangnya.

Kapal itu adalah Indonesia. Benderanya merah putih, lambang kehormatan yang tak boleh jatuh. Tiangnya yang miring melambangkan fondasi negara yang goyah oleh korupsi, politik transaksional, dan lemahnya arah pembangunan. Ombak ganas adalah metafora arus global, rivalitas Amerika, Cina, Rusia yang memukul-mukul badan kapal kita.

Ombak Ganas, Haluan Rapuh

Dalam perjalanan bangsa, badai selalu datang tanpa undangan. Kadang dalam wujud krisis ekonomi, kadang berupa pandemi, atau ancaman geopolitik. Gelombang itu mengguncang, membuat kapal terombang-ambing, bahkan menimbulkan kepanikan.

Bayangkan dua orang di haluan, Pemimpin dan Wakilnya sebagai simbol kepemimpinan. Wajah pucat pasi mereka menggambarkan beratnya tanggung jawab. Apakah keduanya akan kuat berdiri? Haruskah salah satunya memilih “terjun ke laut” karena tidak sanggup lagi menahan beban? Ataukah mereka justru saling berpelukan, seperti teletubies, untuk menenangkan ketakutan yang tak terucapkan?

Gambaran ini, meski satir, menyinggung kenyataan, bahwa bangsa ini sering menaruh seluruh harapan pada figur pemimpin. Padahal, penentuan arah kapal tidak hanya oleh nakhoda, melainkan juga para awak dan penumpangnya.

Bendera Lusuh, Tapi Masih Berkibar

Saya termenung pada bendera lusuh di puncak tiang. Meski robek, warnanya masih jelas, merah keberanian, putih kesucian. Bendera itu ibarat semangat rakyat yang tak pernah padam. Panas politik, hujan kebijakan, atau badai kepentingan global boleh merusaknya, tapi selama ia masih berkibar, kapal ini belum kalah.

Lusuhnya bendera menjadi pengingat bahwa perjuangan bangsa bukan lagi di medan perang. Tetapi, perjuangan dalam mempertahankan kedaulatan di tengah arus kapitalisme global, intervensi asing, dan melemahnya moral bangsa.

Awak Kapal yang Sering Lupa Diri

Masalah terbesar kadang bukan datang dari ombak, melainkan dari dalam kapal itu sendiri. Awak yang lebih sibuk berdebat soal jatah kamar, serta penumpang yang hanya ingin hiburan tanpa peduli arah pelayaran. Tak berhenti di situ, perwira kapal pun diam-diam membuat lubang di lambung untuk keuntungan pribadi.

Kapal bangsa ini tidak akan karam hanya karena ombak luar. Di dalam kapal pun sering lupa memperkuat persatuan, alpa memperbaiki tiang, dan sibuk menyalahkan nakhoda. Padahal kita mampu melalui badai bila semua awak bekerja bersama, bukan saling menjatuhkan.

Refleksi dari Geladak

Saya membayangkan berdiri di geladak kapal itu. Angin menerpa, ombak menghantam, bendera lusuh berderak. Saya bertanya dalam hati: “Apakah bangsa ini masih punya daya tahan?” Jawabannya: “Ya, selama kita tidak menyerah!”

Sejarah bangsa membuktikan, dari penjajahan, krisis moneter, hingga pandemi, Indonesia selalu bisa bangkit. Kapal ini memang tua, tapi membangunnya dengan kayu yang keras. Yaitu, keras gotong royong, persaudaraan, dan tekad yang para pendiri bangsa wariskan.

Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita. Bahwa, badai tidak hanya mengguncang kapal secara fisik, tetapi juga menguji isi hati para penumpangnya. Dalam setiap gelombang yang datang silih berganti, ujian tiba bukan semata dari derasnya arus, tetapi juga dari pilihan-pilihan moral. Apakah kita saling menyalahkan dan melemparkan satu sama lain ke laut, ataukah kita akan meneguhkan tekad untuk bersama melewati ombak?

Saya teringat satu pelayaran di laut selatan, ketika angin kencang menerjang kapal kecil yang saya tumpangi. Kala itu, bukan mesin atau navigasi elektronik yang paling menentukan, melainkan rasa percaya antar-ABK. Kami saling menatap, saling memberi isyarat, dan di sanalah saya belajar bahwa badai terbesar justru adalah badai ketidakpercayaan. Jika awak kapal kehilangan saling percaya, maka kapal sekuat apa pun pasti karam.

Begitu pula dengan bangsa ini. Ombak geopolitik, ekonomi, dan konflik internal akan selalu datang. Amerika, Cina, Rusia, atau siapa pun bisa saja menebar pengaruh. Namun, yang lebih menentukan adalah bagaimana kita menjaga bendera di atas tiang kapal tetap berkibar. Meski lusuh, walau robek, bahkan tiang miring sekalipun. Sebab, bendera itu adalah simbol persatuan yang tak boleh jatuh, walau para pemimpinnya lelah atau hampir menyerah.

Penutup: Ombak Tak Pernah Hilang

Kapal bangsa akan terus menghadapi ombak, dari kecil hingga setinggi gunung. Pertanyaannya, bukan apakah badai akan datang, melainkan apakah kita siap menghadapinya.

Lukisan imajiner itu menegur kita, jangan biarkan bendera merah putih hanya menjadi kain lusuh di tiang miring. Lalu, mengabaikan pemimpin pucat pasi tanpa dukungan. Dan, jangan pula kita sebagai awak, sibuk berebut ruang sambil melubangi kapal.

Akhirnya kita tiba pada kesimpulan, bahwa ombak tidak menentukan nasib bangsa, tetapi oleh keberanian untuk tetap berlayar.