Navigasi Nalar Maritim (Serial 8)

Navigasi Nalar Maritim (Serial 11)
Lampu Penuntun (Sumber Foto : Pixabay)

Pelabuhan sebagai Cermin Peradaban

“Pelabuhan bukan hanya tempat kapal singgah, melainkan wajah pertama sebuah bangsa di mata dunia.”

Malam itu, kapal yang saya pandu perlahan memasuki dermaga. Lampu-lampu pelabuhan berkelip, terdengar suara derek baja beradu, dan aroma asin laut bercampur dengan bau solar. Setiap kali kapal merapat, saya selalu merasakan sensasi yang sama. Seolah-olah kita tidak hanya tiba di sebuah tempat, tetapi juga memasuki denyut nadi peradaban.

Pelabuhan selalu menjadi wajah pertama yang menyapa para pendatang. Apa yang mereka lihat, keteraturan, keramahan, kebersihan, atau justru kekacauan? Hal ini sering kali membentuk persepsi awal tentang negeri yang disinggahi. Bagi saya, pelabuhan ibarat cermin. Ia memantulkan siapa kita, sejauh mana kita menghargai laut, dan bagaimana kita menata masa depan.

Jejak Sejarah di Dermaga

Sejarah dunia mencatat, pelabuhan adalah titik awal lahirnya kota-kota besar. Venesia tumbuh menjadi pusat perdagangan Eropa karena pelabuhannya yang sibuk. Malaka menjadi rebutan bangsa-bangsa karena posisinya sebagai simpul jalur rempah. Begitu pula Ternate dan Tidore, yang keharumannya mengundang bangsa asing berbondong-bondong menjejakkan kaki.

Pelabuhan bukan hanya pintu ekonomi, melainkan juga panggung pertemuan budaya. Dari pelabuhanlah musik, bahasa, makanan, bahkan ide-ide politik menyebar melintasi samudra. Di dermaga yang ramai, kita bisa menemukan pedagang Arab, saudagar Cina, pelaut Portugis, hingga penjelajah Nusantara duduk semeja. Peradaban lahir dari perjumpaan, dan pelabuhan adalah tempat di mana perjumpaan itu selalu mungkin.

Cermin Wajah Bangsa

Saya sering berpikir, bila ingin tahu keadaan sebuah negeri, cukup lihat pelabuhannya. Pelabuhan yang bersih dan tertib menandakan masyarakat yang menghargai keteraturan. Pelabuhan yang sibuk dan ramai menunjukkan roda ekonomi yang hidup. Sebaliknya, pelabuhan yang kumuh, semrawut, dan penuh pungutan liar memberi kesan bangsa yang abai pada dirinya sendiri.

Di era globalisasi ini, kapal-kapal asing singgah bukan hanya membawa barang, tetapi juga menilai siapa kita. Awak kapal akan kembali ke negerinya sambil bercerita, apakah pelabuhan kita ramah atau kasar, efisien atau berbelit-belit. Maka tak berlebihan, bila pelabuhan adalah duta bangsa yang sesungguhnya.

Refleksi dari Laut

Sebagai seorang pelaut, saya sudah singgah di banyak pelabuhan. Ada pelabuhan yang menyambut dengan senyum, ada pula yang membuat penat karena birokrasi yang panjang. Ada yang rapi, teratur seperti orkestra, ada pula yang kacau seperti pasar malam. Semua itu membuat saya belajar satu hal, bahwa kita tidak bisa memisahkan wajah pelabuhan dengan mentalitas bangsa yang membangunnya.

Suatu saat saya menyaksikan kunjungan kapal pesiar di pelabuhan besar di luar negeri tempat saya belajar. Begitu tiba, alunan musik lokal, bunga segar, dan layanan yang ramah menyambut para penumpang. Bandara mungkin jadi tempat pertama wisatawan singgahi, tetapi pelabuhan, dengan nuansa laut yang khas memberikan kesan yang tak kalah kuat. Sekembali saya dari pelabuhan ke penginapan, muncul pertanyaan di hati. Sudahkah pelabuhan di tanah air kita mampu meninggalkan kesan yang sama?

Menata Pelabuhan, Menata Nalar

Jika pelabuhan adalah cermin, maka menata pelabuhan berarti menata diri. Bukan hanya soal membangun infrastruktur megah, tetapi juga menanamkan etos pelayanan, budaya tertib, dan sikap ramah. Saya percaya, kita tidak bisa memandang pelabuhan hanya sebagai urusan teknis logistik. Ia adalah titik temu ekonomi, budaya, bahkan moralitas bangsa. Bila pelabuhan kita tertib, bersih, dan ramah, maka wajah bangsa pun akan terlihat berwibawa. Sebaliknya, bila pelabuhan kita kumuh dan semrawut, bangsa ini akan sulit meyakinkan dunia bahwa ia siap menjadi poros maritim.

Penutup: Cermin yang Harus Dijaga

Laut telah lama menjadi saksi perjalanan bangsa kita. Ia membawa kapal, perdagangan, sekaligus cerita peradaban. Pelabuhan adalah pintu masuk semua itu. Maka menjaga pelabuhan sama artinya dengan menjaga wajah bangsa di mata dunia.

Saya teringat ucapan seorang nakhoda tua yang pernah saya temui:

“Kapal boleh berbeda bendera, tapi dermaga selalu jadi tempat yang menentukan apakah mereka ingin kembali lagi atau tidak.”

Kalimat itu sederhana, tetapi sangat dalam.

Jika ingin bangsa ini dihormati di samudra global, mulailah dengan merawat pelabuhan. Sebab pelabuhan bukan sekadar tempat kapal merapat, melainkan cermin yang memantulkan siapa kita sesungguhnya.