Langkah Perempuan di Lautan Dalam

Langkah Perempuan di Lautan Dalam
Praktik Memandu (Koleksi Foto Pribadi)

Fajar menyingsing di pelabuhan Tanjung Perak ketika Kapten Fara berdiri di atas geladak kapal. Seragam putihnya tampak kontras dengan langit kelabu, dan epaulet emas di pundaknya memantulkan cahaya pagi. Laut yang terbentang di hadapannya bukan sekadar tempat kerja, ia adalah cermin perjalanan hidupnya.

Langkah Perempuan di Lautan Dalam
Steady As She Goes (Koleksi Foto Pribadi)

Sebagai salah satu perwira kapal wanita di Pelindo Marine, nama Fara sudah tak asing lagi. Ia pernah menghadapi gelombang ganas, menavigasi kapal tunda di tengah badai, dan memimpin kru dengan wibawa. Namun, di balik segala pencapaian itu, tersimpan cita-cita lama, menjadi seorang pandu kapal.

Menapaki jalan untuk menjadi pandu bukan perkara mudah. Dunia pemanduan terkenal dengan tingkat akurasi tinggi, risiko besar, serta tanggung jawab yang berat. Terlebih lagi, perempuan belum banyak menembus jalur ini. Tetapi Fara tak gentar. Ia mendaftar ke pelatihan calon pandu, menanggalkan sejenak posisinya sebagai pemimpin untuk kembali belajar dari awal.

Masa pendidikan berlangsung intens. Ia mempelajari teori-teori penting seperti hidrografi, hukum pelayaran, teknik manuver kapal besar, hingga komunikasi internasional. Di ruang simulasi, ia berkali-kali mencoba skenario yang menantang, kadang gagal, kadang berhasil. Namun ia terus melangkah, mengingat bahwa pelaut tangguh lahir dari badai, bukan dari laut yang tenang.

Saat giliran praktik lapangan tiba, Fara naik ke kapal niaga besar sebagai calon pandu. Berdiri di samping nahkoda kapal asing, ia memberikan masukan teknis, menganalisis arus, angin, serta kondisi pelabuhan. Prinsip internasional “under master command and pilot advice” menjadi panduan utama. Dan, ia bertugas sebagai penasihat, bukan pengambil alih.

Ujian sesungguhnya datang pada malam penuh badai, ketika ia harus memandu kapal kontainer besar menuju dermaga sempit. Dalam tekanan yang tinggi, Fara tetap fokus, memberikan arahan presisi, dan akhirnya membawa kapal merapat sempurna.

“Menjadi pandu bukan cuma soal navigasi, tapi juga soal menjaga kepercayaan,” ucapnya.

Beberapa bulan kemudian, perjuangannya berbuah hasil. Ia lulus dan diangkat sebagai Perwira Pandu Indonesia. Hal ini sekaligus mencatatkan namanya sebagai salah satu pionir perempuan di bidang ini dari Pelindo Marine.

Kini, setiap kali ia melangkah ke kapal dengan helm putih pandu, Fara bukan hanya membawa pengalaman, tetapi juga semangat perjuangan. Ia menggenggam dedikasi tinggi, bahwa perempuan pun layak dan mampu memimpin di dunia maritim yang menantang.

Sejak resmi menyandang gelar Perwira Pandu Indonesia, Kapten Fara tidak sekadar menjalankan peran sebagai pengarah kapal, melainkan juga sosok inspiratif. Inspirasi bagi generasi pelaut masa depan, terutama para perempuan yang masih bimbang melangkah ke dunia maritim. Setiap kali ia menaiki kapal lewat tangga pilot di tengah ombak dan terpaan angin, ia kobarkan semangat berkompetisi dengan pria. Laut juga menyambut perempuan yang siap memegang peran penting dalam menjamin keselamatan pelayaran.

Tugas pandu tidak mengenal batas waktu. Baik siang maupun malam, ketika kapal-kapal raksasa mulai memasuki jalur pelabuhan, Fara harus dalam kondisi siaga penuh. Dalam satu malam, ia bisa membimbing beberapa kapal sekaligus, masing-masing punya tantangan tersendiri. Ada kapal tanker yang lambat bermanuver, kapal peti kemas dengan dek menjulang, hingga kapal pesiar berisi ribuan penumpang. Setiap proses pemanduan menuntut presisi tinggi dan kesigapan maksimal.

Namun bagi Fara, semua itu bukan beban, melainkan pengabdian. Baginya, profesi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa.

“Saat kapal berhasil saya pandu hingga bersandar aman, di situlah letak tanggung jawab saya terhadap keselamatan manusia, muatan, dan harapan yang mereka bawa.” Tuturnya dalam suatu malam saat hujan rintik-rintik mengiringi kepulangannya.
Yang menjadikan kisah Fara lebih bermakna adalah keinginannya untuk berbagi. Ia mulai diundang dalam diskusi kemaritiman, seminar profesional, hingga kuliah umum di sekolah pelayaran. Ia hadir bukan sebagai tokoh yang merasa sudah mencapai puncak, melainkan sebagai pelaut yang terus menyelami makna laut. Pesannya selalu konsisten, jangan takut menembus batas. Meski medan tampak eksklusif, dedikasi akan menemukan jalannya.

Kini, Kapten Fara telah membuktikan bahwa peralihan dari perwira kapal menjadi pandu bukan sekadar transformasi profesi. Yaitu, sekaligus memperluas ruang bagi perempuan di sektor maritim Indonesia. Ia menunjukkan bahwa keberanian, komitmen, dan ketulusan adalah penunjuk arah paling andal, meski dalam kabut yang paling pekat sekalipun.

Sehingga, setiap langkah Kapten Fara tak hanya mengarahkan kapal menuju dermaga, melainkan peluang bagi mereka yang asing terhadap dunia pelayaran. Baginya, perjalanan ini bukan sebuah akhir, melainkan awal dari banyak kisah lain yang akan lahir. Di ruang rapat kecil sebelum tugas dimulai, ia kerap menyemangati juniornya, “Laut tak peduli siapa kita. Yang penting, kita siap menghadapinya.”

Kehadirannya di bidang pemanduan menjadi representasi perubahan, bahwa yang terpenting adalah kemampuan, bukan jenis kelamin. Dalam setiap laporan, setiap percakapan dengan nahkoda asing melalui radio komunikasi, Fara memperlihatkan kelas dan ketangguhan sebagai profesional sejati.

Dan saat malam kembali senyap, di sela rutinitas pemanduan berikutnya, ia memandang laut yang membentang luas. Dulu, hanyalah impian, kini menjadi panggung tempat keberanian dan dedikasinya bersuara paling nyaring.

Langkah Perempuan di Lautan Dalam
Kanan Cikar (Koleksi Foto Pribadi)

Penutup

Kapten Fara membuktikan bahwa laut tak membeda-bedakan siapa yang berlayar di atasnya. Dengan hati yang tulus dan tekad yang kuat, siapa pun bisa menjadi pelita di antara gelombang. Ia adalah inspirasi bagi generasi baru, bahwa keberanian merintis jalan akan selalu menemukan dermaganya sendiri.