Hormat Sejati Bukan Karena Jabatan

Hormat Sejati Bukan Karena Jabatan
Sumber ILustrasi: OpenAI

“Kehormatan sejati tidak datang dari kursi yang Anda duduki, tapi dari cara Anda duduk di kursi itu.”

Ketika Hormat Itu Ikut Pensiun

Ada hal lucu sekaligus tragis yang sering terjadi di negeri ini. Begitu seseorang pensiun dari jabatan, tiba-tiba dunia seperti berhenti memberi hormat. Telepon yang dulu berdering tiap jam, kini sunyi. Undangan yang dulu datang bertubi-tubi, kini tak lagi mampir. Bahkan, kursi barisan depan di acara-acara resmi mendadak bukan lagi miliknya.

Lalu muncullah keluhan lirih, “Kenapa mereka tidak menghormati saya seperti dulu?”

Jawabannya sederhana: karena selama ini, mereka tidak menghormati Anda, melainkan jabatan Anda.

Di negeri ini, kita masih sering keliru menempatkan rasa hormat. Kita menunduk bukan karena kagum pada keteladanan, tapi karena takut pada kekuasaan. Anda menyalami bukan karena hormat pada kemanusiaan, tapi karena berharap ada proyek, tanda tangan, atau menyelipkan sesuatu saat jabatan kecil.

Kita Hidup dalam Republik Jabatan

Budaya “asal bapak senang” masih beranak-pinak di segala lini. Di kantor pemerintahan, di kampus, di lembaga keagamaan, bahkan di acara keluarga besar. Kursi terdepan selalu disiapkan untuk pejabat, meski yang bersangkutan datang terlambat. Sementara orang-orang yang benar-benar berkontribusi diam-diam berdiri di belakang, menunggu giliran yang tidak pernah datang.

Kita hidup dalam republik jabatan, di mana mengukur rasa hormat bersumber dari embel-embel di belakang nama. Begitu embel itu hilang, maka hilang pula wibawa sosialnya. Maka tak heran, begitu pensiun, banyak mantan pejabat kehilangan arah eksistensial. Mereka kehilangan penghormatan karena sejak awal, yang dihormati hanyalah kursi, bukan isi.

Feodalisme yang Tak Pernah Selesai

Mungkin kita memang sudah merdeka secara politik, tapi belum merdeka secara mental. Feodalisme masih menjadi “agama sosial” yang turun-menurun secara lintas generasi. Sejak awal, kita tunduk pada status, bukan pada nilai. Maka kita sibuk berebut kehormatan simbolik, gelar, pangkat, posisi, seragam, plakat, atau tanda jasa.

Sementara integritas, hal paling mahal dalam kepemimpinan, sering tertinggal di ruang rapat, di antara notulensi dan stempel basah. Dan ketika masa pensiun datang, semua kemewahan simbolik itu lenyap. Barulah tersisa pertanyaan paling jujur: Siapa saya tanpa jabatan itu?

Rasa Hormat yang Salah Arah

Ada perbedaan mendasar antara rasa hormat dan rasa takut. Rasa hormat tumbuh dari ketulusan dan teladan. Rasa takut lahir dari kuasa dan jarak sosial. Sayangnya, selama ini masyarakat kita lebih banyak terpengaruh oleh yang kedua.

Kita takut, orang tidak menyapa, tidak mengundang, karier tersendat, dan orang tidak lagi menganggapnya. Akibatnya, hubungan antar manusia menjadi transaksional. Kita menghormati bukan karena seseorang pantas menerimanya, tapi karena dia bisa memberi manfaat, atau ancaman. Begitu kekuasaan itu hilang, manfaat pun lenyap. Dan, hilang pula “hormat palsu” yang dulu menebar kemana-mana.

Menjadi Manusia, Bukan Mantan

Mungkin sudah saatnya kita belajar menghormati bukan karena jabatan, tapi karena kebaikan. Menghormati bukan karena kekuasaan, tapi karena kemanusiaan.

Kita lebih layak menghormati seorang guru yang tulus mengajar di desa, daripada pejabat yang hanya pandai berbicara di podium. Masyarakat lebih pantas menghargai seorang nelayan yang bekerja keras menafkahi keluarganya, ketimbang pejabat yang sekadar sibuk mencari panggung.

Sebab ketika jabatan selesai, yang tersisa bukanlah tanda tangan di dokumen, melainkan jejak perilaku dan kenangan manusia lain terhadap kita. Dan di situlah, kehormatan sejati tidak akan pernah pensiun.

Penutup: Cermin untuk Kita Semua

Tulisan ini bukan sindiran bagi siapa pun, melainkan cermin kecil bagi diri saya sendiri. Jika suatu hari nanti dunia berhenti memberi hormat kepada Anda, jangan buru-buru marah. Mungkin bukan dunia yang berubah, tapi jabatan yang dulu menghormati Anda.

Dan untuk kita, rakyat biasa yang masih suka tunduk pada simbol kuasa, mari perlahan belajar menghormati mereka yang benar-benar pantas. Meskipun, mereka jarang sekali mendapat kesempatan duduk di barisan depan. Karena hormat sejati tidak butuh pangkat, podium, atau kursi empuk. Ia tumbuh dari ketulusan hati, dan hidup jauh lebih lama daripada masa jabatan.

Namun, di balik semua itu, pensiun seharusnya bukan akhir dari penghormatan, melainkan ujian tentang nilai sejati seseorang. Jika selama menjabat ia membangun hubungan yang tulus, bersikap adil, dan rendah hati. Maka, niscaya hormat itu akan tetap hidup, tanpa perlu tanda pangkat, seragam, atau kursi empuk. Sebaliknya, jika menjadikan kekuasaan sebagai alat menundukkan orang lain, maka begitu ia turun, hormat itu pun ikut lenyap. Pensiun hanyalah cermin, dan pantulan, yang tampak di sana adalah hasil dari kehidupan yang pernah dijalani.