“Sejarah selalu berulang, namun kedewasaan kita dalam menyikapi perulangan itu menentukan arah masa depan bangsa.”
Saya masih ingat betul bagaimana suasana 1998 itu. Usia saya kala itu baru 29 tahun. Jalanan penuh mahasiswa dengan spanduk, suara toa menggema di antara gedung-gedung tua, dan wajah-wajah muda yang memandang masa depan dengan keberanian bercampur cemas. Negeri ini sedang bergejolak, dan semua orang tahu, perubahan besar sedang menunggu di tikungan sejarah.
Kata kunci waktu itu adalah bosan. Bosan terhadap sebuah pemerintahan yang terlalu lama berkuasa, bosan dengan cerita korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menjadi makanan sehari-hari. Gelombang protes pun datang bertubi-tubi, seperti badai yang akhirnya tak terbendung lagi. Reformasi pun lahir, dengan segala janji dan harapan yang kita titipkan padanya.
Lompatlah ke tahun 2025. Usia saya kini 56 tahun. Jalanan sekali lagi ramai. Hanya saja kali ini nuansanya berbeda. Anak-anak muda tetap berdiri di depan barisan, membawa poster, menyuarakan tuntutan. Tapi inti keresahannya bukan lagi soal menggulingkan kekuasaan yang sudah terlalu lama bercokol. Justru kali ini, protes lahir dari rasa kecewa terhadap pemerintahan baru yang diharapkan memperbaiki keadaan, namun dinilai tak kunjung menunjukkan perubahan berarti.
Ada satu hal yang paling terasa berbeda, “media sosial”. Jika di 1998 kabar gerakan hanya beredar lewat selebaran, radio, atau berita televisi yang sering terkena sensor. Di 2025, justru semua berloncatan di layar ponsel kita. Video demonstrasi, opini bersahutan, hoaks bercampur fakta, semuanya masuk begitu cepat, bahkan sebelum asap gas air mata hilang dari udara. Di sinilah kelebihan sekaligus kelemahan zaman ini, arus informasi begitu deras, namun sulit membedakan mana kebenaran, mana manipulasi.
Dari Jalanan ke Layar Ponsel
Sebagai seseorang yang pernah melihat dua era gejolak itu, saya merasakan ironi. Tahun 1998, rakyat melawan rezim yang sudah terlalu lama bercokol dengan segala penyimpangan. Tahun 2025, rakyat menganggap pemerintahan baru tidak menjawab atas kekecewaan masa lalu. Dua-duanya bersumber dari ketidakpuasan, tapi jalurnya berbeda.
Dulu, satu-satunya cara menyuarakan aspirasi adalah turun ke jalan, berteriak, menulis spanduk, menghadapi risiko fisik yang nyata. Kini, cukup dengan menekan tombol share, seseorang bisa ikut menyulut gelombang besar opini publik. Namun, semakin mudah sesuatu menyebar, semakin tipis pula saringan kebijaksanaan. Kata-kata yang seharusnya membangun sering kali berubah menjadi bara yang membakar.
Saya sering merenung, apakah bangsa ini sedang mengulang lingkaran yang sama? Ataukah ini fase alami dari sebuah demokrasi muda yang masih terus belajar?
Perubahan inilah yang membuat demonstrasi masa kini memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia lebih cepat mengumpulkan massa dan memperluas gaung tuntutan rakyat. Namun di sisi lain, ia rentan bias menjadi ajang saling serang yang justru mengaburkan substansi perjuangan. Jalanan kini bukan hanya aspal tempat kaki menapak, melainkan juga layar digital yang menyatukan sekaligus memecah belah. Tantangan kita adalah bagaimana menjaga semangat protes tetap sehat, kritis namun elegan. Sehingga, bukan sekadar terjebak dalam hiruk-pikuk viral, melainkan benar-benar mendorong perbaikan bangsa.
Menyikapi dengan Kedewasaan
Lantas, apa yang harus kita lakukan agar negeri ini kembali stabil, damai, dan mampu membangun? Saya bukan politisi, bukan pula akademisi yang punya jawaban teknis detil. Saya hanya seorang warga negara yang pernah menyaksikan sejarah berulang di depan mata. Dari pengalaman itu, ada beberapa sikap yang menurut saya penting:
- Belajar dari Luka Lama
Reformasi 1998 memberi kita banyak pelajaran. Tentang, pentingnya perubahan, bahaya keserakahan kekuasaan, dan sebuah harga mahal ketika abai atas suara rakyat. Jangan sampai pengalaman itu hanya menjadi catatan buku sejarah, tanpa pernah kita jadikan cermin. - Bijak dalam Arus Medsos
Media sosial bisa menjadi alat kontrol kekuasaan yang hebat, tapi juga bisa berubah jadi senjata perpecahan. Kuncinya ada pada literasi kita sebagai bangsa. Masyarakat perlu belajar membedakan kritik yang membangun dengan provokasi yang menghancurkan. Pemerintah pun harus hadir bukan dengan membungkam, melainkan dengan membuka ruang dialog yang sehat. - Kepemimpinan yang Mau Mendengar
Di tengah gejolak, rakyat membutuhkan pemimpin yang mendengar, bukan hanya bicara. Rakyat tidak menuntut kesempurnaan, tapi setidaknya mereka ingin melihat arah yang jelas. Yaitu, langkah-langkah yang tulus, dan kesediaan untuk memperbaiki kesalahan. - Kesabaran dan Harapan
Tidak mungkin membangun bangsa dalam semalam. Butuh kesabaran, kerja sama, dan semangat kolektif. Namun kesabaran tidak berarti pasif. Pengawasan dan kritik konstruktif selalu mengiringinya, agar jalannya pembangunan tetap di rel yang benar.
Menutup dengan Harapan
Kini, di usia yang lebih matang, saya melihat anak-anak muda kembali turun ke jalan seperti yang dulu pernah saya saksikan di usia 29 tahun. Ada rasa dejavu, tapi juga ada harapan. Karena meski caranya berbeda, semangat untuk memperbaiki negeri tetap menyala.
Yang saya rindukan hanyalah satu, yaitu bangsa yang belajar lebih cepat dari masa lalunya. Jangan sampai kita terus terjebak dalam siklus kecewa, marah, protes, lalu lupa, kemudian mengulang lagi.
Kita butuh ruang damai untuk berdialog, bukan sekadar ruang gaduh untuk saling serang. Rakyat perlu kesadaran bahwa bangsa ini milik bersama, bukan milik kelompok tertentu. Masyarakat ingin sikap rendah hati dari para pemimpin, dan kedewasaan dari rakyatnya.
Jika itu bisa terwujud, saya yakin gejolak 2025 tidak akan menjadi luka baru, melainkan batu pijakan menuju Indonesia yang lebih dewasa. Seperti pelaut yang belajar dari badai, kita pun sebagai bangsa bisa belajar dari gelombang sejarah yang datang silih berganti. Karena pada akhirnya, negeri ini hanya bisa maju jika kita mampu mengarungi ombak dengan kepala dingin, hati jernih, dan tujuan bersama.















3 Comments