Sekitar tahun 1982, di sebuah fase kehidupan yang masih labil namun penuh rasa ingin tahu. Sebuah fase peralihan dari SMP menuju SMA, saya pertama kali mendengar sebuah lagu berjudul “I Love You”. Lagu itu populer oleh seorang penyanyi bernama Sofie, yang konon meraih posisi kedua dalam ajang Eurosong Contest.
Pertama, bagi sebagian orang, ‘mungkin’ lagu tersebut hanya lagu biasa. Kedua, ia adalah salah satu dari sekian banyak lagu cinta yang lahir dan tenggelam mengikuti zaman. Namun bagi saya, lagu itu tidak pernah benar-benar pergi. Akhirnya, ia tinggal, lalu menetap, lalu diam-diam menjadi bagian dari diri saya.
Saya masih ingat, bagaimana melodi itu terasa begitu asing sekaligus akrab. Ada sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Semacam getaran yang menyentuh bagian paling dalam, dan saat itu mungkin belum saya pahami seutuhnya. Saya hanya seorang remaja, belum banyak tahu tentang cinta, apalagi tentang kehilangan. Tapi lagu itu seperti membawa sesuatu yang lebih besar dari sekadar liriknya.
Lalu, satu fakta kecil membuat semuanya terasa berbeda. Pencipta lagu itu ternyata seorang pelaut Belanda, bernama Roan Malister. Sejak saat itu, lagu itu tidak lagi sekadar lagu. Ia menjadi cerita.
Seorang pelaut, yang hidupnya akrab dengan laut, jarak, dan kesendirian. Namun, ia mampu menciptakan sebuah lagu yang justru begitu dekat dengan perasaan manusia. Ada paradoks yang indah di sana. Laut yang luas, yang sering dianggap memisahkan, justru melahirkan karya yang mampu menyatukan rasa.
Mungkin, dalam kesunyian perjalanan di atas gelombang, lahirlah kejujuran yang tidak bisa aku temukan di daratan. Dan mungkin, tanpa saya sadari saat itu, saya sedang mendengarkan suara seseorang yang berbicara dari kejauhan. Ia melintasi samudra, waktu, dan batas-batas kehidupan.
Tahun demi tahun berlalu. Banyak lagu datang dan pergi. Teknologi berubah, cara kita menikmati musik pun ikut berubah. Dari radio, kaset, CD, hingga kini digital yang serba instan. Namun di tengah semua perubahan itu, lagu “I Love You” tetap berada di tempatnya, tidak tergeser, tak tergantikan. Dan setiap kali lagu itu kembali terdengar, sesuatu dalam diri saya ikut kembali. Bukan hanya ingatan, tetapi juga rasa.
Aneh rasanya. Lagu yang sama, lirik yang seirama, melodi yang senada, tetapi air mata selalu menemukan jalannya. Seolah ada pintu yang terbuka, membawa saya kembali pada versi diri saya yang dulu. Seorang remaja yang berdiri di persimpangan hidup, dengan mimpi yang masih samar, tetapi hati yang begitu peka.
Di titik ini, saya mulai memahami sesuatu. Bahwa tidak sekadar mendengar musik. Ia adalah ruang. Ia adalah waktu. Dan bagi sebagian dari kita, dia adalah pelabuhan.
Pelabuhan tempat kita berlabuh sejenak dari riuh kehidupan. Tempat kita bisa kembali tanpa harus benar-benar pergi. Kenangan yang tidak menghakimi tempat, dan perasaan tidak perlu penjelasan.
Dalam dunia yang terus bergerak cepat, musik memberi kita kesempatan untuk berhenti. Untuk merasakan kembali apa yang mungkin telah lama kita simpan. Dan bagi saya, lagu itu adalah pelabuhan yang selalu terbuka.
Ia tidak bertanya mengapa saya datang. Ia tidak menuntut kapan saya harus pergi. Dia hanya ada, setia, sederhana, dan jujur.
Mungkin itulah keajaiban musik. Ia tidak mengenal batas geografis. Seorang pelaut di Belanda bisa menciptakan lagu yang menyentuh hati seorang remaja di Indonesia. Ia tidak mengenal batas waktu. Lagu yang lahir puluhan tahun lalu masih bisa terasa relevan hari ini. Dan yang paling penting, ia tidak mengenal batas usia. Apa yang kita rasakan di masa muda bisa tetap hidup, bahkan ketika usia terus bertambah.
Di tengah perjalanan hidup yang panjang, dengan segala suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan, kita semua membutuhkan sesuatu untuk kembali. Sesuatu yang tidak berubah, tetap setia, serta bisa menjadi jangkar ketika kita mulai kehilangan arah.
Bagi sebagian orang, itu mungkin tempat. Bagi yang lain, mungkin seseorang. Namun bagi saya, itu adalah sebuah lagu. Sebuah lagu yang lahir dari laut, seorang pelaut yang menulisnya, dan entah bagaimana menemukan jalannya ke dalam hidup saya.
Kini saya menyadari, bahwa pelaut itu mungkin tidak pernah tahu sejauh mana lagunya akan berlayar. Ia mungkin hanya menulis dari kesunyian, dari kerinduan, atau pengalaman pribadinya. Namun karyanya telah melampaui batas yang mungkin tidak pernah ia bayangkan.
Ia telah berlayar lebih jauh dari kapalnya. Dan di salah satu sudut dunia, di hati seorang pendengarnya, ia menemukan pelabuhan. Atau mungkin, justru saya yang menemukan pelabuhan itu.















Tinggalkan Balasan