Secercah Harapan di Balik Jejak Dinosaurus

Secercah Harapan di Balik Jejak Dinosaurus
Menonton Bioskop (Sumber Foto : Pinterest)

Refleksi Naratif Usai Menyaksikan Jurassic World: Rebirth Bersama Keluarga

Sore itu, awan tebal menggantung di langit seperti tirai besar yang siap membuka. Kami sekeluarga melangkah pelan menuju gedung bioskop. Di deret duduk anak, istri, dan saya, popcorn bergeser-geser, berpindah cepat dari mulut ke mulut yang tak sabar. Di antara langkah dan canda, ada rasa penasaran yang sama. Bukan hanya tentang filmnya, tapi tentang waktu berkualitas yang terasa makin langka di tengah kesibukan.

Kami duduk bersebelahan dalam gelap yang perlahan menyelimuti ruangan. Denting musik pembuka mengalun, dan layar menampilkan judul besar, Jurassic World: Rebirth.

Sesungguhnya, film ini lebih dari sekadar kisah tentang kebangkitan makhluk purba. Namun, ia menyajikan pesan mendalam, bagaimana manusia memilih untuk memperbaiki kerusakan, bukan hanya memperkuat kekuasaan. Akhirnya melalui Rebirth, film mengajak merenung ulang hubungan manusia dengan alam semesta. Dan, juga mahalnya harga atas ambisi yang tak mengenal batas.

Paling membekas, bukan pada aksi menegangkan atau kehebatan teknologi di layar, melainkan momen sederhana alur ceritanya. Adalah, seorang ilmuwan muda menyelamatkan seekor Velociraptor yang terluka. Bukan karena nilai ilmiahnya, melainkan karena ia percaya, bahwa kita pantas mencintai setiap makhluk hidup. Kalimat itu menggema dalam keheningan bioskop, merayap masuk ke relung hati.

Pandangan mataku menyapu ke arah istri dan anakku. Di sebelahku persis, istriku yang sudah kian menua. Dan di samping istri, anak remajaku yang mulai beranjak dewasa. Dulu, kedua anak perempuanku duduk berdampingan menonton Jurassic Park, berseru saat T-Rex muncul. Kini, si kecil hadir kembali tanpa kehadiran sang kakak yang sedang sibuk menggendong generasi berikutnya. Waktu berlalu, namun cerita terus menjalin benang merah antar generasi.

Usai film, Feby memandangku dan bertanya, “Yah, kalau dinosaurus hidup lagi, ayah takut nggak?”
Aku tertawa kecil. “Yang ayah takutkan bukan itu. Ayah lebih takut kalau manusia kehilangan rasa sayangnya.”

Ia tak berkata apa-apa, hanya memelukku erat. Di tengah keramaian lobi mal, aku tersenyum dalam hati. Film ini berhasil menyentuh, bukan karena efek visual semata. Tapi, karena ia mengingatkan, setiap kebangkitan, baik itu peradaban, hubungan, atau bahkan dinosaurus, selalu harus berawal dari kepedulian hati.

Kami melangkah pelan keluar dari ruang bioskop, masih terhanyut dalam cerita yang baru saja kami saksikan. Di antara keramaian pengunjung lain, aku bisa merasakan keheningan yang sama di antara kami, bukan hampa. Melainkan, justru karena hati kami tengah penuh oleh emosi, makna, dan kebersamaan yang begitu berharga.

Di halaman parkir, semilir angin malam menyentuh wajahku. Istriku memecah sunyi, “Bagus ya filmnya, Yah. Tapi beda banget dari yang dulu-dulu. Lebih dalem gitu.”
Aku mengangguk perlahan. “Iya. Sekarang bukan cuma soal dinosaurus yang kabur. Tapi soal manusia yang akhirnya belajar bersikap lebih bijaksana.”

Dan memang, benang merah itu terasa kuat. Film ini tak lagi menggambarkan manusia sebagai penguasa mutlak yang bisa menaklukkan alam sesuka hati. Adanya kesadaran, penyesalan, perbaikan, bahkan keberanian untuk merelakan, meskipun itu berarti kehilangan kendali atas sesuatu yang luar biasa.

Hal itu menggugah pikiranku. Sebagai seorang ayah, kakek, dan lelaki yang sedang bersiap menapaki masa pensiun, aku merasakan refleksi yang kuat. Rebirth bukan sekadar tentang hidupnya kembali makhluk prasejarah, tetapi juga tentang peluang untuk memulai kembali kehidupan kita sendiri. Tentu, dengan cara yang lebih utuh, lebih jujur, dan lebih berempati.

Tokoh-tokoh berusia lanjut dalam film ini, pernah melakukan kesalahan besar di masa lalu, dan mendapat kesempatan untuk memperbaiki. Dan itu terasa sangat personal. Karena dalam hidup nyata pun, tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah. Bahkan di usia senja, kita masih bisa belajar, bertumbuh, dan menjadi lebih baik.

Saat kami berjalan menuju mobil, anak-istriku menggenggam tanganku erat. “Yah, minggu depan kita nonton lagi, ya?”
Aku tertawa kecil. “Iya, selama ayah masih kuat jalan, kita terus nonton bareng.”

Dan dalam hati, aku sadar. Barangkali, yang akan ia kenang nanti bukanlah plot filmnya. Tapi tawa kami di ruang gelap bioskop. Momen saat ia duduk di pangkuanku karena kursinya kebesaran. Percakapan kecil yang berisi kasih sayang tak terlihat.
Malam itu, Jurassic World: Rebirth menyampaikan lebih dari sekadar hiburan. Ia menawarkan ruang untuk merenung. Yaitu, mengajak kita menyentuh sisi terdalam sebagai manusia, dan membuka jalan bagi kebangkitan pribadi di tengah perubahan dan tantangan dunia.

Refleksi Akhir:

Jurassic World: Rebirth bukan sekadar tontonan penuh aksi atau fantasi ilmiah. Ia adalah undangan bagi kita semua untuk lahir kembali, menjadi pribadi yang lebih peduli. Selain itu, memperbaiki hubungan yang renggang, dan menanamkan empati dalam kehidupan. Karena masa lalu yang kita pelajari, bisa menjadi jalan menuju masa depan yang lebih bijak.