SDM Manual Hambat Smart Port

SDM Manual Hambat Smart Port
Sumber Gambar Ilustrasi: OpenAI

SDM Manual Hambat Smart Port. Crane otomatis miliaran rupiah terhenti di dermaga Tanjung Priok. Bukan mesin rusak, tapi operator gagal input TOS. Fakta pahit transformasi pelabuhan Indonesia hari ini, infrastruktur canggih, SDM masih manual. Dwelling time nasional 2025 catat 3,02 hari (DDTCNews), jauh dari target 2 hari, sementara Belawan terbaik 2,52 hari. Inaportnet dan NLE sudah jalan, tapi operator crane pedestal overload tugas manual.

Pelindo kelola 69 pelabuhan, 95 terminal. Kemenhub targetkan biaya logistik turun 23% ke 17% PDB. Realitanya? Kompetensi TI operator skor 3,6/5, kesenjangan 42%. Di Makassar, clearance lambat karena tenaga ahli minim. Sebagai praktisi pelabuhan dan pengembang kurikulum literasi TI, saya mendengar operator crane overload tugas manual, data TOS real-time terbuang.

Port Academy adakan SAT/IMSBC Code, tapi fragmentasi tinggi. Kesiapan SDM kontribusi cuma 56,4% transformasi digital. Resistensi, ego Pelindo-BUP daerah, minim sertifikasi. Dampaknya, antrean kapal panjang, ekspor terhambat (Kompas Money, Feb 2026). Singapura 1 hari, kita tertinggal karena prioritas infrastruktur > SDM.

Solusi Konkret dan Terukur

Pertama, kita butuh kurikulum literasi TI pelabuhan nasional yang wajib di semua politeknik maritim dan Pelindo Academy. Seperti buku ajar yang saya kembangkan bersama rekan dosen, “Literasi Teknologi Informasi: Pendekatan Manajemen Kepelabuhanan”, materi integrasikan TOS Navis, Inaportnet, cybersecurity dasar, dan data analytics praktis untuk taruna maupun operator berusia 25–55 tahun. Ini bukan teori saja, ada modul simulasi virtual crane operation dan gamification input data yang sudah dites di 3 politeknik Jatim.

Kedua, luncurkan sertifikasi nasional berjenjang melalui konsorsium Pelindo-Kemenhub-perguruan tinggi. Target realistis: 10.000 operator tersertifikasi tahun pertama lewat blended learning (online 40%, praktik lapangan 60%). Mulai dari level dasar (TOS input, cybersecurity hygiene) sampai advance (predictive maintenance, AI berth planning). Akreditasi Kemenhub wajib, biaya ditanggung CSR Pelindo + voucher APBN Rp5 juta/orang. Pilot di 5 pelabuhan utama: Priok, Belawan, Perak, Makassar, Bitung, dengan matriks talenta real-time terhubung INAPORTNET.

Ketiga, metodologi training harus revolusioner, tinggalkan ceramah PowerPoint, adopsi 70% praktik berbasis teknologi. Simulator VR crane operation (seperti Rotterdam), gamification data analytics (seperti Singapura), augmented reality maintenance checklist. Benchmark Tanjung Pelepas jelas. Investasi US$50 juta training 8.000 operator potong dwelling time 1,4 hari, throughput naik 28%. Indonesia dengan 7 pelabuhan utama bisa capai ROI lebih besar dalam 24 bulan.

Realitas Lapangan lebih Kompleks

Pengalaman 26 tahun di Pelindo Grup tunjukkan pola berulang. Manajer senior paham Excel tapi takut TOS, operator muda jago TikTok tapi gaptek cybersecurity. Di Tanjung Perak, saya pernah dengar 20 kontainer delay 3 hari gara-gara input manual salah di sistem berbasis cloud. Biaya? Rp150 juta/hari throughput hilang.

Hambatan sistemik bukan cuma skill teknis. Budaya “senioritas manual” masih kuat, operator muda tak berani koreksi kesalahan manajer TOS. Pelindo Regional 4 baru gelar MCU karyawan Januari 2026, tapi medical check-up tak gantikan digital literacy test. BUP daerah lebih parah, 70% operator usia 45+ tak pernah sentuh komputer sebelum Inaportnet wajib.

Biaya pelatihan jadi momok. Sertifikasi TOS Navis internasional Rp25–35 juta/orang. Pelindo CSR training terbatas, APBN Kemenhub fokus infrastruktur fisik. Bandingkan Malaysia, voucher digital pelabuhan subsidi pusat-daerah, hasilkan 15.000 operator tersertifikasi 3 tahun. Return on investment? Dwelling time Tanjung Pelepas turun 1,4 hari, throughput +28%.

Metodologi Training Kuno

Ceramah-slide PowerPoint dominan, padahal operator butuh 70% praktik. Simulator VR crane operation, gamification data analytics, AR maintenance—standar Rotterdam/Singapura. Indonesia? Simulator canggih hanya 2–3 pelabuhan utama. Sisanya “learning by doing” ala trial-error yang mahal.

Maritime Digital Academy jadi solusi arsitektur. Konsorsium Polimarin-STIP-ITS sediakan kurikulum, Pelindo simulator+mentor lapangan, Kemenhub akreditasi, swasta (KADIN/ASPEKINDO/INSA) biaya CSR. Tahap I: 5.000 operator tahun pertama fokus TOS-cyber-data analytics. Tahap II: skalakan 25.000 dalam 3 tahun.

Leadership mindset harus berubah. Direktur pelabuhan anggap SDM cost center, padahal profit center. Di pelabuhan saya dulu, manajer investasi 6 bulan TOS training potong overtime 40%, crane productivity +22%. Pelabuhan hemat budget training justru dwelling time membengkak, biaya total lebih mahal.

Regulasi mendesak

PM 9/2023 progresif tapi generik. Butuh PM Smart Port 2026 wajibkan 80 jam training digital semua jabatan operasional, sanksi administratif BUP tak patuh. Framework Maritime Digital Competency terintegrasi INAPORTNET, direktur pelabuhan lihat real-time gap kompetensi timnya.

Kolaborasi lintas sektoral kunci. KADIN, ASPEKINDO, INSA, GAPRI, perguruan tinggi maritim susun road map talenta nasional. Output bukan cuma sertifikat, tapi peta talenta pelabuhan live dashboard. Setiap direktur tahu, berapa operator TOS-certified, cybersecurity-ready, data analytics-capable.

Benchmark jelas dan terukur. Pelabuhan Tanjung Pelepas investasi US$50 juta training 8.000 operator 18 bulan, biaya logistik turun 12%, throughput naik 28%. Indonesia 7 pelabuhan utama potensi dampak lebih besar. ROTI (Return on Training Investment) jadi KPI wajib direktur pelabuhan.

Timeline realistis tapi mendesak:

  • Q2 2026: Luncur pilot Digital Academy 5 pelabuhan
  • Q4 2026: 5.000 operator tersertifikasi, dwelling time target 2,8 hari
  • 2027: Skala nasional, 15 pelabuhan, 15.000 operator
  • 2028: Dwelling time 2,2 hari, masuk top 15 global

Tanpa transformasi SDM ini, visi Indonesia Emas 2045 di maritim hanyalah slogan. Smart port bukan beli crane termahal atau software tercanggih, tapi manusia di balik layar TOS. Kita sudah punya infrastruktur kelas dunia—tinggal SDM kelas dunia untuk mengoperasikannya. Pemerintah, Pelindo, perguruan tinggi, swasta: kolaborasi sekarang. Jangan sampai generasi operator manual jadi penghambat revolusi digital terbesar di sejarah kepelabuhanan Indonesia.