Refleksi pensiun, pilihan mengajar, dan tanggung jawab memandirikan generasi di tengah krisis keteladanan pendidikan.
Adanya anggapan bahwa “pensiun” adalah akhir produktivitas. Seolah-olah, ketika melepaskan diri dari jabatan sekaligus menanggalkan kartu identitas, daya guna seseorang ikut berakhir. Logika ini keliru, lagi berbahaya. Ia mereduksi manusia sebatas struktur, bukan pengalaman, dan saya menolak cara pandang seperti itu.
Justru setelah pensiun, saya merasa tanggung jawab saya sebagai warga dan manusia menjadi lebih jujur. Target institusi dan kepentingan jabatan tak lagi mengikat. Di titik inilah saya bertanya dengan serius: apakah pengalaman panjang ini akan saya simpan sendiri, atau saya wariskan dengan sadar?
Saya memilih mengajar, tetapi tidak dengan cara lama. Aku tidak tertarik menjadi pendidik yang hanya memproduksi lulusan rapi secara administratif, namun rapuh secara mental. Abdi tidak ingin ikut melanggengkan pendidikan yang sibuk mengejar akreditasi, tetapi abai pada kemandirian berpikir. Ana memilih jalan yang lebih sepi, mendidik untuk memerdekakan.
Di ruang-ruang belajar, terlalu sering saya melihat murid diposisikan sebagai objek. Mereka harus patuh bukan kritis, menghafal lain menimbang, dan mengikuti tidak boleh menyimpang meski berargumen. Pola ini tidak netral, karena hanya melahirkan generasi yang cakap secara teknis, tetapi gamang ketika harus berdiri sendiri.
Saya tidak ingin menjadi bagian dari masalah itu. Sebagai orang yang tumbuh di dunia maritim, saya tahu satu hal. Bahwa, tidak ada pelaut tangguh yang lahir dari instruksi satu arah. Laut tidak tunduk pada modul, gelombang tidak peduli pada sertifikat. Di sana, seseorang hanya selamat jika ia mampu membaca situasi, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas risikonya sendiri.
Prinsip itu saya bawa ke kelas. Saya sengaja tidak selalu memberi jawaban. Aku sengaja membiarkan kebingungan tumbuh. Ana memilih bertanya balik daripada menjelaskan panjang lebar. Bagi sebagian orang, cara ini dianggap “tidak membantu”. Tetapi justru di situlah pendidikan bekerja, bukan sebagai penopang permanen, melainkan sebagai latihan melepaskan sandaran.
Pendidikan yang memandirikan memang tidak populer. Ia tidak menjanjikan kenyamanan instan. Ia bahkan bisa memicu resistensi, baik dari murid maupun dari sistem. Tetapi saya percaya, pendidikan yang hanya membuat murid merasa aman hari ini sedang menyiapkan kegagalan esok hari.
Saya sadar, banyak pendidik termasuk saya di masa lalu tergoda untuk tampil sebagai pusat. Ada kepuasan ketika banyak orang membutuhkan saya. Ada rasa berkuasa ketika murid bergantung. Namun, ketergantungan adalah bentuk kegagalan yang sering disalahpahami sebagai keberhasilan.
Di laut, nakhoda yang terlalu sering mengambil alih kemudi awaknya sedang menyiapkan bencana. Di pendidikan, pendidik yang enggan melepaskan muridnya sedang menghambat kedewasaan. Pensiun memberi saya keberanian untuk berkata ini dengan jujur.
Saya tidak lagi mengejar popularitas kelas. Aku tidak lagi khawatir dinilai “keras” atau “kurang ramah”. Abdi justru lebih takut jika murid saya lulus tanpa keberanian mengambil sikap. Lebih baik mereka mengingat saya sebagai pendidik yang menantang, ketimbang sebagai pengajar yang meninabobokan.
Kini saya melihat diri saya bukan sebagai pemilik kebenaran, tetapi sebagai penjaga proses. Aku tidak berdiri di anjungan utama. Saya berada di buritan, mengamati, mengingatkan, sesekali menegur. Ana tahu, laut di depan mereka jauh lebih ganas daripada yang pernah saya hadapi. Tugas saya sederhana namun berat, karena memastikan mereka tidak tumbuh sebagai pelaut manja.
Pada akhirnya, mengajar setelah pensiun bukan soal melanjutkan karier. Ini soal sikap. Ini soal keberanian untuk berkata bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada kepatuhan. Ia harus berakhir pada kemandirian. Jika suatu hari murid-murid saya melampaui saya, tidak lagi membutuhkan saya, bahkan berani mengoreksi saya. Dari sanalah saya tahu, pensiun saya tidak sia-sia. Saya tidak hanya mengajar, melainkan telah memerdekakan.
Dan bagi saya, di usia ketika banyak orang memilih diam, saya akan berjuang mematahkan pendapat tersebut. Di usia ketika banyak orang memilih memperlambat langkah, saya justru merasa perlu menajamkan arah. Pensiun memberi saya kemewahan waktu, tetapi juga menghadirkan tuntutan batin. Apa yang saya lakukan dengan kebebasan ini akan menentukan nilai dari perjalanan panjang sebelumnya. Saya tidak ingin pengalaman puluhan tahun hanya menjadi cerita yang berhenti di meja kopi atau forum nostalgia.















Tinggalkan Balasan