Navigasi Nalar Maritim (Serial 6)

Navigasi Nalar Maritim (Serial 11)
Lampu Penuntun (Sumber Foto : Pixabay)

Menyusuri Ombak Waktu

“Pasang surut bukan tanda akhir, melainkan undangan untuk memahami irama.”

Di laut, jarum jam bukan satu-satunya pengukur waktu. Ia hadir dalam denting gelombang, desau angin, dan aroma asin yang menguar. Pelaut tidak hanya melihat kalender atau jam tangan, tapi membaca tanda-tanda. Layaknya, kilau air di cakrawala, irama pasang surut, bahkan perilaku burung camar. Waktu di laut adalah tarian antara matahari, bulan, dan bumi, sebuah siklus yang memanggil kita untuk mengerti, bukan sekadar menghafal.

Saya selalu percaya, laut adalah guru sabar yang mengajarkan dua hal. Bahwa, semua datang pada waktunya, dan setiap datang pasti akan pergi. Ombak tidak pernah bertanya apakah kita siap atau tidak. Ia tetap bergulung sesuai irama kosmiknya. Persis seperti kehidupan dan sejarah bangsa.

Ombak sebagai Jam Abadi

Suatu saat kapal akan merapat di pelabuhan kecil di Nusa Tenggara. Saya dan kru harus menunggu air pasang cukup tinggi agar kapal aman memasuki dermaga. Satu jam terlalu cepat, kapal bisa kandas di mulut pelabuhan. Satu jam terlambat, arus sudah berubah, menyulitkan olah gerak. Di sini, waktu bukan sekadar angka, melainkan memanfaatkan peluang seakurat mungkin.

Begitulah hidup. Kadang kita tergesa, kadang kita lalai, padahal yang menentukan keberhasilan sering kali adalah ketepatan membaca momen. Sejarah maritim Nusantara penuh dengan contoh ini. Sebutlah, kejayaan Sriwijaya yang memanfaatkan jalur perdagangan saat laut sedang “ramah”, hingga VOC yang memetakan musim angin untuk menguasai pelayaran.

Pasang Surut Kehidupan

Laut punya bahasa yang jujur, ia memberi tanda sebelum berubah wajah. Tarikan halus selalu mendahului pasang, sementara suara riak berbeda mengiringi surut. Namun, tak semua nakhoda peka terhadap tanda itu. Ada yang tetap memaksa berlayar, lalu terjebak badai. Ada pula yang memilih berlabuh, menunggu musim tenang, meski kapal lain menertawakannya sembari melaju cepat.

Bangsa juga begitu. Ada masanya kita berada di puncak pasang, mendapat kepercayaan dunia, memimpin perdagangan, atau menjadi poros kebudayaan. Tapi ada pula masa surut, terpinggirkan, terpecah, atau kehilangan arah. Menyadari bahwa pasang surut adalah siklus alami membuat kita tidak jumawa di masa jaya, dan tidak putus asa di masa terpuruk.

Menunggu dengan Kesadaran

Banyak orang mengira menunggu adalah tindakan pasif. Di laut, menunggu adalah strategi. Saat angin kencang di selatan, kapal yang bijak tidak memaksakan diri menembus gelombang. Ia akan memanfaatkan waktu untuk memperbaiki mesin, memeriksa tali, dan melatih kru. Menunggu berarti mempersiapkan diri untuk saat yang tepat.

Demikian pula dalam membangun bangsa. Ketika situasi belum kondusif, kita bisa memperkuat sumber daya manusia, menata pendidikan, atau membenahi sistem. Saat peluang datang, kita sudah siap berlayar penuh keyakinan. Menunggu dengan kesadaran adalah investasi waktu yang tak terlihat, namun berdampak besar.

Kesalahan Membaca Waktu

Saya pernah menyaksikan kapal asing yang nekat masuk ke perairan sempit meski arus sedang deras. Mereka percaya pada jadwal di atas kertas, tapi abai pada kenyataan lapangan. Akibatnya, kapal itu nyaris menabrak dermaga, hanya selamat karena bantuan pandu lokal. Pelajaran yang saya petik, teknologi dan rencana hanyalah alat, bukan kebenaran mutlak. Mata, telinga, dan intuisi tetap tak tergantikan.

Dalam kehidupan sosial-politik, kesalahan membaca “ombak waktu” bisa fatal. Meluncurkan kebijakan terlalu cepat berpeluang penolakan publik, namun pembaruan yang terlambat bisa membuat kita tertinggal. Jadi, waktu bukan hanya soal cepat atau lambat, tapi soal tepat.

Irama Kosmik dan Nalar Strategis

Pelaut tradisional mengenal Pranoto Mongso, sistem kalender musim yang mewaris secara turun-temurun. Mereka tahu kapan ikan tertentu bermigrasi, kapan badai besar datang, dan kapan laut “mengundang” perahu layar. Pengetahuan ini lahir dari pengamatan panjang, dari kesediaan mendengar bisik alam.

Bangsa yang ingin bertahan lama juga harus punya “Pranoto Mongso” menurut versinya. Pranata tanda-tanda ekonomi, politik, budaya, dan lingkungan. Nalar strategis lahir dari kesadaran bahwa kita bagian dari irama kosmik, bukan penguasa tunggal atasnya.

Menghargai Setiap Ombak

Tidak ada dua ombak yang persis sama. Bahkan di laut yang sama, gelombang hari ini tidak identik dengan kemarin. Artinya, setiap peluang dan tantangan dalam hidup adalah unik. Ombak kecil bisa jadi pemanasan sebelum badai besar. Dan, badai besar bisa membersihkan perairan untuk musim yang lebih tenang.

Menghargai setiap ombak berarti menghargai setiap fase hidup dan sejarah bangsa, bahwa semuanya punya makna, meski tak selalu langsung terlihat.

Penutup: Menyusuri Waktu dengan Arif

Menjadi pelaut berarti belajar berdamai dengan waktu. Kita tidak bisa mempercepat pasang, tidak bisa menghentikan surut, tetapi kita bisa memilih kapan berlayar, kapan berlabuh, kapan mengubah haluan. Inilah kebijaksanaan yang laut tawarkan, jangan hanya menghitung jam, tapi bacalah irama.

Di daratan pun, kita sedang menyusuri ombak waktu bersama sebagai bangsa. Kita bisa memilih menjadi penumpang pasif yang pasrah pada arus. Dan, atau menjadi nakhoda yang tahu kapan harus menunggu dan kapan harus mengangkat layar. Waktu, seperti laut, tidak pernah memihak. Tapi ia selalu memberi tanda. Tinggal kita mau membaca atau tidak.