Ketika Keseruan Agustusan Mengorbankan Norma dan Etika

Ketika Keseruan Agustusan Mengorbankan Norma dan Etika
Balap Karung (Foto dari Penulis)

Ketika Keseruan Agustusan Mengorbankan Norma dan Etika. Setiap bulan Agustus, bangsa Indonesia larut dalam suasana meriah. Bendera merah putih berkibar di setiap sudut jalan, gapura berhias dengan kreatif, dan warga bersiap menyambut momen bersejarah, Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Bahkan seluruhnya telah ready sebelum masuk bulan Agustus. Seakan bersolek, nuansa merah putih mendominasi di setiap sudut kampung hingga perkotaan.

Salah satu tradisi yang tak pernah absen adalah perlombaan 17 Agustusan. Dari desa hingga kota, dari gang sempit hingga lapangan luas, deretan lomba menjadi magnet kebersamaan. Berbagai jenis perlombaan tergelar di bulan ini. Dari yang skala ringan anak kecil, remaja, dewasa, sampai manula. Kemeriahan ajang berbagai jenis lomba selalu membawa kesan tersendiri bagi warga. Akibatnya timbul semacam tuntutan harus ada perlombaan dan harus selalu seru dari tahun ke tahun.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena yang muncul mulai mengundang tanya. Banyak lomba yang terpapar hanya berorientasi pada “seru-seruan” tanpa mempertimbangkan kesesuaian dengan norma dan etika. Panitia sering beralasan bahwa semua berlangsung semata hiburan, padahal di balik tawa, ada nilai yang tergerus. Alih-alih menjunjung moralitas tinggi, yang terjadi justru imoral.

Di sejumlah tempat, lomba yang berlangsung justru memunculkan gerakan atau interaksi yang kurang pantas, apalagi oleh anak-anak. Misalnya, lomba-lomba yang membuat peserta harus melakukan aksi yang memancing tawa dengan cara yang menjatuhkan martabat. Ironisnya, perlombaan semacam ini justru paling ramai penontonnya dan viral, lalu beredar di media sosial.

Ada lagi sejumlah perlombaan yang hanya mengandalkan seru dan lucu tanpa mengindahkan nilai-nilai edukatif dan kesantunan yang berlaku. Jika kita cermati terdapat kekhawatiran berdampak buruk pada generasi penerus yang menonton yaitu anak-anak. Hal ini karena, tidak semua warga yang menyaksikan punya kemampuan memilah dan memilih atas tontonannya.

Satu di antaranya perlombaan tukar busana, bapak-bapak yang mengenakan daster, jarit, dan lain-lain. Bukankah ini sedikit menyerempet sesuatu yang sensitif? Masih banyak kok, jenis lomba yang seru dan kocak lainnya jika kita mau menggali. Apalagi di zaman serba canggih, untuk mencari contoh-contoh jenis lomba lebih terbuka, mudah, dan lebih variatif yang sarat akan nilai-nilai positif.

Hampir di semua tempat perlombaan 17-an, kemasan yang semenarik mungkin, seseru mungkin dan memancing gelak tawa, karena lucu. Meski tawa pecah di setiap sudut arena perlombaan, sebagian warga memilih menonton dari jauh atau bahkan tidak datang jika kemasan lombanya kurang mengena di hati. Mereka khawatir anak-anak akan meniru tingkah yang kurang pantas, atau menganggap hal-hal tersebut lumrah. Inilah yang perlu kita waspadai, karena yang ada di benak sebagian dari mereka adalah yang penting seru dan menghibur.

Agar tak terjadi adanya pergeseran makna, perayaan HUT RI seharusnya menjadi momentum menanamkan nilai-nilai kebersamaan, persatuan, dan sportivitas. Lomba adalah sarana membangun semangat juang, melatih kerja sama, dan menghargai lawan. Ketika pilihan jenis lomba hanya berdasarkan potensi mengundang tawa tanpa mempertimbangkan nilai pendidikan dan moral, maka tujuan awalnya menjadi kabur.

Dengan melihat kenyataan di lapangan, berharap panitia lomba di mana pun sebaiknya lebih bijak dalam memilih jenis perlombaan. Kreativitas tetap bisa berjalan seiring dengan norma dan etika. Justru dengan lomba yang mendidik, menghibur, dan tetap menjaga martabat, kemeriahan HUT RI akan semakin bermakna dan mematri bersama rasa bangga, bukan sekadar tertawa.

Keseruan itu bisa menjadi penting karena bagian dari hiburan rakyat, tetapi hiburan yang sehat seharusnya membangun, bukan merusak. Kita tentu tidak ingin anak-anak meniru gerakan atau sikap yang mereka lihat di lomba tanpa memahami konteksnya. Kita juga tidak ingin masyarakat terbiasa menertawakan sesuatu yang secara etika patut dihindari.

Sesungguhnya hakikat lomba HUT RI bukan hanya soal siapa yang menang atau siapa yang paling kocak. Perayaan ini adalah momen untuk mengajarkan kebersamaan, sportivitas, dan rasa syukur atas kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata para pahlawan. Mengabaikan nilai-nilai itu demi hiburan singkat sama saja dengan mereduksi makna kemerdekaan itu sendiri

Sebagian warga mungkin menganggap kritik ini terlalu kaku, tetapi justru di sinilah letak tanggung jawab kita sebagai bagian dari bangsa. Kemerdekaan yang kita rayakan bukan sekadar bebas melakukan apa saja, melainkan kebebasan yang disertai kesadaran menjaga nilai dan harga diri. Para pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan mengorbankan jiwa raga demi kehormatan bangsa, bukan demi lomba-lomba yang hanya mengejar sensasi

Perayaan HUT RI akan jauh lebih bermakna jika tawa yang kita hadirkan tidak mengorbankan martabat. Hiburan yang sehat bukan berarti membosankan, justru di situlah tantangan bagi kita untuk berkreasi tanpa meninggalkan etika. Sebab, kemerdekaan sejati adalah ketika kita mampu bersuka cita sambil tetap menjaga nilai-nilai luhur yang memperkuat persatuan bangsa.