Multinatural vs. Multikultural: Cara Laut Membaca Keberagaman
Pagi itu, cahaya merah muda mulai merayap di ufuk timur, tanda sang matahari akan segera menampakkan diri. Di sebuah dermaga kecil di Pantai Teleng Ria Pacitan, saya berbincang dengan dua nelayan sepuh. Yang satu berujar, “Hari ini arus timur kuat, sebaiknya kita melaut selepas dzuhur.” Nelayan satunya menimpali, “Tidak, arus timur justru akan melemah menjelang siang. Lebih baik kita berangkat sekarang, sebelum angin barat turun.”
Dua pendapat, dua keputusan, satu laut, satu waktu. Momen itu menjadi cermin bahwa kita tak pernah membaca laut dengan bahasa tunggal. Setiap orang menafsirnya lewat kacamata pengalaman, tradisi, dan alat ukur yang berbeda. Dari sinilah saya menyadari bahwa keberagaman bukan hanya milik budaya (multikultural) semata. Namun sekaligus cara manusia memahami alam, atau dalam istilah tertentu tersebut multinatural.
Memilah Makna Multikultural dan Multinatural
Kita sering mendengar multikultural sebagai istilah untuk keberagaman budaya, di mana berbagai bahasa, tradisi, dan nilai hidup berdampingan. Dalam dunia maritim Indonesia, ini tampak pada kekayaan etnik pesisir. Contoh, Bugis dengan pinisi, Mandar dengan perahu sandeq, Madura dengan lete-lete, dan banyak lagi.
Namun multinatural memberi lapisan pemahaman yang berbeda. Jika multikultural menekankan perbedaan antar manusia, multinatural menyoroti perbedaan “versi alam” yang manusia hadapi. Laut, dari perspektif nelayan Bugis tak sepenuhnya sama dengan sudut pandang nelayan Jawa. Hal ini bukan karena airnya berbeda, melainkan karena cara membacanya berbeda.
Konsep ini mengingatkan kita bahwa “alam” tidak pernah hadir sebagai realitas netral. Ia selalu datang melalui lensa bahasa, teknologi, sejarah, dan pengalaman. Maka, satu bentang laut dapat melahirkan banyak realitas yang sah secara bersamaan.
Kisah Nyata dari Perairan Nusantara
Di Flores, nelayan mengenal istilah bulan laut, yaitu saat situasi permukaan air memantulkan cahaya bulan secara khas. Masyarakat Flores meyakininya sebagai tanda datangnya ikan pelagis besar. Di pesisir Jawa beda lagi, di mana nelayan justru lebih memerhatikan fase bulan mati, sebuah media untuk memprediksi pasut ekstrem.
Di Ambon, rasi bintang Bintang Tiga masih menjadi penanda musim melaut. Sementara pelaut komersial di Surabaya mengandalkan Notices to Mariners dan data dari BMKG. Dua metode yang sahih, lahir dari sumber pengetahuan yang berbeda.
Saya sendiri pernah merasakannya saat memandu kapal di jalur padat dalam kabut tebal. Seorang kapten kapal Filipina langsung menurunkan kecepatan penuh dan sepenuhnya mengandalkan radar. Sebaliknya, kapten lokal tetap melaju perlahan sambil membaca gema suara peluit kapal. Mereka menghadapi laut yang sama, namun dengan “peta mental” yang tak identik.
Dampak pada Kebijakan Maritim
Sering kali, diskusi pembangunan maritim Indonesia berhenti di tataran simbolik, seperti festival laut, pakaian adat, dan kuliner pesisir. Semua itu penting, tetapi hanya mencerminkan multikultural di permukaan.
Kesadaran akan multinatural mengajarkan bahwa kebijakan kelautan tak bisa seragam di seluruh wilayah. Aturan penangkapan ikan, misalnya, harus memahami bahwa “musim paceklik” di Papua tidak sama dengan di Selat Malaka. Mitigasi bencana laut pun idealnya menggabungkan teknologi satelit dengan pengetahuan lokal tentang tanda-tanda alam.
Dalam pelayaran modern, memahami multinatural juga menghindarkan kita dari arogansi teknologi. Alat navigasi canggih bukanlah jaminan mutlak kebenaran. Karena, intuisi pelaut berpengalaman sering kali menjadi pelengkap yang tak tergantikan.
Laut dan Pelajaran tentang Keberagaman
Bagi laut, keberagaman adalah mekanisme bertahan. Ombak tak pernah datang dalam ritme yang seragam, arus bersilang, dan berbagai spesies hidup berdampingan. Tak ada satu “cara resmi” menjadi laut.
Bagi saya, ini pelajaran penting, merayakan multikultural secara layak, sembari menjaga multinatural. Kita bisa berbagi pantai tanpa harus membaca laut dengan cara yang sama.
Dua nelayan bisa pulang dengan hasil tangkapan setara meski berangkat di waktu berbeda. Dua kapten bisa tiba dengan selamat meski mengambil jalur yang berlainan. Kuncinya bukan keseragaman mutlak, melainkan saling menghormati perbedaan navigasi.
Penutup: Menjelajah Samudera Pemahaman
Serial Navigasi Nalar Maritim ibarat menyusun peta dari potongan-potongan pengalaman. Jika Serial 1 berbicara tentang menjaga nalar dari dogma tunggal, maka Serial 2 mengajak melihat keberagaman. Jadi, bukan hanya soal budaya, melainkan juga keragaman tafsir terhadap alam.
Menjadi bangsa maritim berarti siap hidup di tengah banyak versi kenyataan. Di laut, keseragaman justru berisiko menutup mata terhadap tanda-tanda yang tak kita kenal.
Menerima multinatural di samping multikultural adalah cara mempertajam nalar navigasi. Sebab pelayaran terpanjang bukanlah lintas samudera fisik, melainkan menyeberangi samudera pemahaman. Dan untuk itu, kita butuh lebih dari sekadar satu kompas. Kita perlu mata melihat bintang, telinga mendengar ombak, dan hati mendengarkan cerita nelayan yang tak tertulis di buku pelajaran.















Tinggalkan Balasan