Made

Made
Sumber Foto : Pixabay

Langkah Made Menembus Dunia Ganda

Di sebuah sore menjelang senja, semarak daun kelapa melambai perlahan di halaman rumah sederhana. Berkelindan aroma dupa dari rumah tetangga menyatu dengan bau tanah basah usai hujan. Kemudian, di serambi yang sudah mulai lapuk, seorang bocah laki-laki duduk bersila, membuka Al-Qur’an lusuh peninggalan ayahnya. Namanya Sutrisno Made Pradnyana, namun dalam keseharian, teman-teman memanggilnya “Made”.

Selain Made, rumah tersebut dihuni oleh dua orang. Ayah Made bernama Pak Tris, seorang pria muslim asal Jawa, merantau di Bali sebagai buruh bangunan. Sementara ibunya, bernama Ni Wayan Sari. Seorang perempuan Bali yang lembut, yang awalnya memeluk agama Hindu, kemudian memilih mengikuti keyakinan suaminya saat keduanya menikah. Mereka tinggal di sebuah gubuk kayu berdinding anyaman bambu, berdiri di tepi Denpasar. Tak jauh dari sana, vila-vila mewah menjulang, tempat Pak Tris bekerja setiap hari.

“Kita mungkin nggak punya banyak, Le,” ujar Pak Tris suatu malam, memperbaiki sandal jepitnya. “Tapi jangan sampai miskin doa. Itu bekal paling berharga.”

Setiap pagi buta, Pak Tris membangunkan Made untuk salat bersama. Ibunya selalu duduk di belakang mereka, menangkupkan tangan, meski masih terbata dalam membaca doa. Selepas salat, mereka kadang berbagi cerita, tentang nabi, tentang pekerjaan, tentang hidup.

Namun, masa tenang itu tak bertahan lama. Saat Made menginjak SMP kelas dua, rumah kecil itu mulai diliputi ketegangan. Pak Tris makin sering pulang larut, dan kata-katanya kian sedikit. Sampai suatu malam, Made melihat ayahnya berkemas.

“Bapak mau ke mana?” tanya Made, cemas.
“Bapak harus balik ke Jawa, Made. Kerjaan makin sulit. Tolong jaga ibumu di sini, ya.”

Made mengangguk, walau hatinya bergemuruh. “Kenapa kami nggak ikut?”
Ayahnya memandang dalam. “Kadang, rumah itu bukan tempat, tapi pilihan untuk bertahan. Ibumu lebih kuat di tanah kelahirannya.”

Setelah kepergian ayahnya, perubahan pelan-pelan datang. Awalnya, ibu mulai melepas kerudung. Lambat laun, ia kembali menjalani tradisi Bali, membuat canang, mengenakan kebaya, dan mengikuti melasti.

“Ibu beda sekarang?” tanya Made pelan.
“Saya nggak berubah, Nak. Ibu cuma kembali,” jawab perempuan paruh baya lembut. “Bukan karena benci agama kita dulu. Tapi Bali ini keras bagi janda muslim miskin. Ibu harus bertahan, harus diterima agar bisa terus kerja.”

Identitas Siti Sariyah pun ia tinggalkan. Ia kembali menjadi Ni Wayan Sari.

Made terjebak antara dua dunia. Ia tetap salat, tapi sembunyi-sembunyi. Ia juga ikut menyiapkan sesajen, bahkan membantu saat ibunya menari pada upacara adat. Di sekolah, ia dijuluki “anak bingung”. Di lingkungan banjar, ia dianggap setengah hati.
Pernah, saat ia menari dalam upacara odalan, seorang tetua desa bertanya pada ibunya, “Anakmu belum ke pura tiap purnama, ya?”

Ibunya menjawab dengan senyum. “Dia anak yang hormat pada siapa pun. Itu lebih penting daripada sekadar hadir.”

Akhirnya, Made makin menghargai ibunya. Meskipun tubuh sang ibu mulai melemah. Kemudian, saat Made duduk di kelas tiga SMA, ibunya didiagnosis gagal ginjal. Pengobatan seadanya ditanggung oleh bekas majikannya yang masih peduli.

Suatu malam, dalam derasnya hujan, ibunya memanggilnya. “Kalau Ibu nggak sanggup bertahan, kamu boleh pilih jalanmu sendiri, Made. Jangan cari restu dari yang sudah pergi. Tapi satu yang Ibu minta, jangan pernah lupakan cinta. Karena kamu lahir dari cinta, bukan dari perbedaan.”

Malam itu, Made menangis tanpa suara. Ia mendekap ibunya lama, sembari melafalkan doa dalam hati.

Beberapa bulan kemudian, hujan kembali turun ketika ibunya pergi untuk selamanya. Sebelum fajar, Made menyolatkan jenazah ibunya dalam diam, lalu bersiap menyambut upacara adat yang akan dilakukan keluarga besar. Kemudian, Ia ingin ibunya berpulang dengan tenang, dalam keimanan yang pernah ia peluk dan budaya yang ia cintai.

“Ibu, semoga dua langit menaungimu,” bisiknya lirih.

Setahun berselang, kabar duka dari Jawa datang, ayahnya wafat karena stroke. Tak sempat ia berziarah, tapi di hatinya, cinta kepada ayah dan ibu tak pernah pudar.

Made dewasa dalam keterbatasan. Ia bekerja di toko bangunan, belajar menggambar dari tukang senior, lalu ikut kursus malam teknik sipil. Ia menabung diam-diam, mengejar harapan kecil.

Hingga suatu hari, di pelatihan gambar teknik, ia bertemu Putu Ayu, gadis Bali berwajah teduh, anak seorang guru SD.

“Namamu panjang sekali,” ucap Ayu sambil tersenyum. “Sutrisno Made Pradnyana?” Made tertawa kecil. “Nama dari dua dunia. Aku tidak bisa memilih satu.”

Dari obrolan ringan, tumbuhlah kasih. Mereka saling berbagi luka, saling menyembuhkan. Saat melamar Ayu, Made berkata,

“Aku tidak janji jadi pasangan paling sempurna. Tapi aku bisa janji, tidak akan ada batas antara cinta dan rasa hormat dalam rumah tangga kita.”

Mereka menikah secara sederhana. Dua keluarga saling memberi restu, masing-masing dengan cara mereka.
Kini, Made tinggal bersama Ayu dan dua anak mereka, Kadek Lintang dan Komang Praba, di rumah kecil dua lantai hasil kerja kerasnya. Di meja kerjanya berdiri dua bingkai foto, satu foto ayahnya yang memanggul batu, satu lagi ibunya saat menari Rejang di pura.

Setiap kali Made menatap kedua foto itu, ia tersenyum haru.

“Ayah, Ibu… terima kasih sudah menunjukkan bahwa cinta bukan soal agama atau asal-usul. Tapi soal bagaimana tetap manusiawi di tengah dunia yang tak selalu adil.”

Meskipun langit terus berganti warna. Namun Made tahu, bahwa ia bukan bagian dari satu langit saja. Tetapi, ia adalah penghubung dua cakrawala, jembatan di antara cinta, akar, dan jiwa.