Menarasikan tentang bakat sering berhubungan dengan nada pujian. Sejak kecil, banyak anak tumbuh dengan kalimat seperti, “Kamu memang pintar sejak lahir,” atau, “Dia anak yang cerdas, tak perlu belajar keras.” Awalnya terdengar manis, seolah memberikan pengakuan akan keistimewaan. Namun di balik itu, tersembunyi racun yang lambat laun membentuk keyakinan keliru tentang siapa diri kita sebenarnya dan bagaimana mencapai kesuksesan tersebut.
Anda bisa saja tumbuh dengan narasi semacam itu. Menyebutnya sebagai anak yang cerdas sejak dini, menganggap nilai ujian tinggi sebagai takdir, bukan kerja keras. Ketika anda menang, itu adalah hasil dari “bakat alami”, bukan usaha. Namun ketika gagal, anda merasa bersalah dua kali lipat. Anda tak hanya mengecewakan diri sendiri, tetapi juga merusak mitos tentang keunggulan yang selama ini orang-orang terdekat membanggakanmu. Kegagalan bukan sebagai bagian dari proses belajar, melainkan sebagai kegagalan jati diri. Bakat yang membanggakan, ternyata menjadi beban.
Berbeda halnya dengan anak-anak lain yang tidak berlabel “berbakat”. Seolah mereka memiliki ruang untuk gagal, untuk mencoba, untuk berkembang. Ketika mereka jatuh, orang akan berkata, “Tak apa, coba lagi.” Ketika mereka berhasil, pujian terarah pada kerja keras mereka: “Kamu gigih, kamu hebat karena tidak menyerah.” Di sinilah kita mulai melihat perbedaan besar antara pujian atas upaya dan pujian atas bakat. Yang satu memberi ruang untuk tumbuh, yang lain menempatkan anak dalam sangkar kaca yang tampak indah, tetapi membatasi geraknya.
Itulah inti dari apa yang disebut Carol Dweck sebagai “fixed mindset” atau pola pikir tetap. Dalam pola pikir ini, individu percaya bahwa kecerdasan, bakat, dan kemampuan adalah sifat tetap yang tidak bisa berubah. Jika Anda pandai, maka Anda akan berhasil. Jika Anda gagal, itu artinya Anda tidak sepandai yang dikira. Pola pikir ini menanamkan rasa takut terhadap kegagalan karena kegagalan berarti mengkonfirmasi bahwa Anda tidak cukup baik. Oleh karena itu, banyak anak yang tumbuh dalam pola pikir tetap akan cenderung menghindari tantangan dan memilih jalan yang aman demi menjaga citra diri.
Sebaliknya, “growth mindset” atau pola pikir berkembang menekankan bahwa kemampuan bisa dibentuk melalui usaha, latihan, dan ketekunan. Orang dengan pola pikir ini melihat kegagalan sebagai kesempatan belajar, bukan sebagai tanda kebodohan. Namun, seperti banyak hal lain yang populer dan viral, konsep pola pikir berkembang juga bisa dipelintir menjadi racun baru dalam bentuk tuntutan tak masuk akal: “Kamu gagal karena kamu tidak cukup berusaha.” Ini adalah jebakan baru yang tidak kalah menyakitkan dari narasi tentang bakat bawaan.
Mereka yang mengadopsi versi beracun dari pola pikir berkembang akan mulai melihat kegagalan sebagai kesalahan moral, bukan bagian dari proses belajar. Jika Anda tidak berhasil, maka itu artinya Anda malas. Anda kurang kerja keras. Tidak ada ruang untuk mempertimbangkan faktor eksternal, struktur sosial, atau ketidaksetaraan sistem. Semua kembali ke individu. Dalam versi ini, pola pikir berkembang justru bisa berubah menjadi bentuk baru dari meritokrasi ekstrem yang menyalahkan korban dan melupakan konteks.
Kita lupa bahwa perubahan pola pikir bukan soal mengganti satu narasi tunggal dengan narasi tunggal lainnya. Ini adalah soal membebaskan diri dari ketergantungan pada label, baik label “berbakat” maupun “berusaha keras” dan mulai menerima kompleksitas perkembangan manusia. Terkadang, seseorang bisa berusaha sangat keras dan tetap gagal. Terkadang, seseorang bisa berhasil dengan sedikit usaha karena memang ia memulai dari tempat yang lebih menguntungkan.
Maka, berhati-hatilah saat kita mengadopsi atau menyebarkan narasi tentang pola pikir berkembang. Jangan sampai kita hanya mengganti beban satu jenis (bakat) dengan beban lain (usaha tanpa henti). Tidak semua hal bisa dipelajari dengan kecepatan yang sama. Tidak semua kegagalan adalah tanda kurang usaha. Kadang kita perlu berhenti, mengevaluasi, dan menerima bahwa proses tumbuh itu tidak linear, tidak adil, dan tidak selalu menghasilkan hasil yang indah.
Apa yang seharusnya kita tanamkan kepada anak-anak bukanlah narasi tentang keunggulan mutlak, melainkan kejujuran dan kasih sayang terhadap proses belajar itu sendiri. Bahwa mereka boleh gagal. Atau, mereka boleh berhenti sebentar. Bahkan mereka tidak harus sempurna untuk bisa tumbuh. Bahwa nilai bukan ukuran harga diri. Dan bahwa usaha itu penting, tetapi usaha saja tidak selalu cukup dan itu bukan kesalahan mereka.
Kita belajar terlalu lambat tentang hal ini. Butuh banyak kegagalan yang menyakitkan dan refleksi yang melelahkan sebelum muncul kesadaran bahwa kita bukan “produk gagal” hanya karena tidak setara dengan ekspektasi orang-orang terhadap kecerdasan. Justru kita belajar untuk mulai mencintai proses, bukan hasil. Mencintai diri yang mencoba, bukan diri yang sempurna. Dan itu adalah bentuk keberhasilan yang sesungguhnya.
Kini, anda percaya bahwa pendidikan sejati bukan soal menanamkan rasa malu saat gagal atau menempelkan label terlalu cepat. Pendidikan adalah soal menciptakan ruang aman bagi anak-anak untuk mengenal dirinya sendiri, bereksperimen, dan tumbuh dengan cara yang unik, bukan seragam. Tidak ada pola pikir yang universal atau formula sukses yang berlaku sama bagi semua orang. Yang ada adalah keberanian untuk terus belajar, mengakui keterbatasan, dan tetap bergerak ke depan dengan welas asih terhadap diri sendiri dan orang lain.
Jangan biarkan narasi tentang pola pikir berkembang berubah menjadi alat penghakiman baru. Jangan ajarkan bahwa setiap kegagalan adalah kesalahan pribadi. Dunia ini sudah cukup keras bagi banyak orang. Marilah kita ciptakan ruang-ruang baru untuk tumbuh bersama dengan kejujuran, dengan empati, dan dengan pengakuan bahwa menjadi manusia berarti belajar tanpa henti untuk mencintai proses, bukan sekadar hasil.
________
* Penulis adalah Guru Purna Karya Yayasan Pangudi Luhur Semarang















Tinggalkan Balasan