Fajar menyingsing di atas pelabuhan saat Pak Rahman berdiri diam di dermaga. Helm putihnya yang mulai pudar menjadi saksi perjalanan panjangnya. Tak ada suara radio di pundaknya hari itu, tak ada kapal yang menanti arahannya. Hari itu bukan hari kerja biasa. Sebuah hari, saat ia resmi mengakhiri pengabdiannya sebagai pandu aktif.
Lebih dari 30 tahun ia telah mengarahkan kapal dalam berbagai kondisi. Badai, kabut tebal, atau ketika kapal penumpang kehilangan kendali. Ia menjalani semuanya dengan satu keyakinan, keselamatan harus menjadi prioritas utama.
Bagi sebagian orang, pandu hanyalah pekerjaan. Namun bagi yang benar-benar menghayatinya, ini adalah panggilan. Meski begitu, apakah pandu profesi seumur hidup? Secara jiwa, mungkin iya. Tapi secara praktik, ada batasnya.
“Jadi pandu itu soal ketelitian dan pengalaman,” ujarnya lembut. “Tapi juga tentang memahami kapan saatnya menyerahkannya pada yang lebih muda.”
Faktor usia tak bisa dihindari. Tubuh lambat laun memberi sinyal, mata mulai kabur, respons tak lagi secepat dulu, tenaga pun tak seperti saat muda. Aturan keselamatan mengharuskan pemeriksaan kesehatan berkala, dan kondisi medis sekecil apa pun bisa membuat seorang pandu “tidak fit” untuk bertugas.
Selain faktor fisik, aturan usia pensiun juga menjadi penentu. Batas waktu ini bukan bentuk akhir pengabdian, melainkan ruang bagi generasi baru untuk tumbuh dan meneruskan tongkat estafet.
Meski telah pensiun, semangat dan pengetahuan para pandu tidak lantas hilang. Banyak di antara mereka yang tetap terlibat sebagai pembimbing, pengajar, atau evaluator teknis. Pengalaman mereka menjadi warisan yang sangat berharga.
Pak Rahman kini kerap hadir dalam pelatihan dan seminar. Ia bercerita dengan semangat tentang berbagai kapal dan kondisi yang pernah ia temui. Ia ingin melukiskan besarnya tanggung jawab dalam setiap tugas.
Menutup kisahnya, ia menatap horison dan berkata pelan, “Pekerjaan ini mungkin ada batasnya. Tapi semangatnya, biarlah tetap mengalir di generasi berikutnya.”
Di tengah suasana pelatihan calon pandu muda, Pak Rahman berdiri di depan layar presentasi. Bukan dengan gaya formal seperti dosen, melainkan dengan pendekatan naratif yang hangat, membuat seluruh peserta menyimak dengan saksama. Ia membuka ceritanya dengan satu pertanyaan sederhana namun penuh makna, “Apa yang kalian bawa saat menjejakkan kaki di kapal?”
Beberapa peserta menjawab dengan menyebut radio komunikasi, peta navigasi, hingga perlengkapan keselamatan. Pak Rahman mengangguk pelan, lalu menambahkan, “Kalian juga membawa harapan. Harapan agar pelayaran berlangsung aman, agar kalian kembali ke rumah tanpa luka, dan agar operasional pelabuhan berjalan lancar.”
Baginya, menjadi pandu bukanlah sekadar soal keahlian teknis, tapi menyangkut tanggung jawab moral. Memandu kapal adalah keterampilan membaca alur perairan, menghitung kecepatan yang tepat, memahami karakter nahkoda, dan yang paling utama. Dan, terpenting menjaga kendali dalam tekanan.
Saat masih aktif bertugas, Pak Rahman tak hanya menangani kapal modern dengan teknologi canggih. Kadang ia harus menaiki kapal tua dengan instrumen seadanya, atau menghadapi kendala bahasa dengan awak kapal dari negara jauh. Tapi bagi Pak Rahman, satu hal tetap sama, tidak boleh ada kapal yang celaka hanya karena pandu ragu mengambil tindakan.
Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam ingatannya terjadi pada suatu malam. Saat itu, ia harus menavigasi kapal tanker besar dalam kondisi berkabut dan pasang yang ganas. Tidak ada alat bantu visual, hanya mengandalkan naluri, jam terbang, dan sinergi dengan kru kapal.
“Malam itu, saya merasa seluruh pelabuhan bersandar pada keputusan saya,” katanya pelan.
Kini setelah pensiun, Pak Rahman merasa pengabdiannya belum selesai. Ia memposisikan diri sebagai penjaga nilai, bukan dalam bentuk gelar atau piagam, tetapi dalam sikap, prinsip, dan kebijaksanaan.
“Kalian boleh kuasai teknologi terbaru, tapi tanpa karakter dan hati, kalian bukan pandu sejati, hanya pengendali alat,” tegasnya.
Salah satu peserta bertanya, apakah berat meninggalkan dunia yang telah menjadi bagian hidupnya begitu lama. Pak Rahman tersenyum, lalu menjawab.
“Berat, tentu. Tapi cinta yang sejati juga tahu kapan waktunya berhenti. Bukan karena menyerah, tapi karena sadar bahwa tongkat estafet harus berpindah.”
Menutup sesi, ia menyampaikan kalimat yang menjadi semacam pegangan batin bagi para pandu, “Kita tidak hanya mengarahkan kapal. Kita menjaga kepercayaan.”
Epilog
Pandu bukanlah pekerjaan yang dijalani hingga akhir hayat secara harfiah. Namun semangat, integritas, dan cintanya pada laut akan terus hidup melalui orang-orang yang meneruskan peran tersebut. Sebab, menjadi pandu sejati bukan soal berapa lama mengabdi, tapi bagaimana semangatnya tetap menyala meski tak lagi naik ke anjungan.
Setiap pandu, cepat atau lambat, akan sampai pada saat untuk menepi. Tapi api semangat mereka terus menyala melalui para penerus. Sebab menjadi pandu sejati bukan sekadar masa tugas. Tetapi, warisan nilai yang terus bergema dalam setiap keputusan dan arah kapal yang mereka bimbing.















Tinggalkan Balasan