Ruby dan Jubah Merah

Oleh : Muhammad Ali Ridho

Part 1

Warisan dari Ayah

Aku masih mengingat dengan jelas suara ayah saat memanggil namaku, nada lembutnya yang selalu berhasil membuatku tenang. Namun, sejak tiga bulan lalu, suara itu tak lagi terdengar. Ayah pergi meninggalkan dunia ini, dan aku hanya bisa menyimpannya dalam kenangan.

Sore ini, aku duduk di meja makan bersama Ibu. Kami menikmati makan malam sederhana—sup ayam dan nasi hangat. Aroma rempah menguar di udara, tetapi rasanya ada sesuatu yang hilang. Biasanya, Ayah yang selalu mengisi meja makan dengan cerita-cerita menarik tentang dunia psikologi dan misteri kehidupan.

“Bagaimana sekolahmu hari ini, Ruby?” tanya Ibu, berusaha mencairkan suasana.

“Baik,” jawabku singkat, menyendok sup tanpa banyak bicara.

Ibu menatapku sejenak sebelum kembali makan. Aku tahu dia khawatir, tapi aku juga tahu dia tidak ingin memaksaku bicara. Setelah kehilangan Ayah, suasana rumah kami menjadi lebih sepi dari biasanya.

Setelah makan, aku berjalan menuju ruang kerja Ayah. Sudah lama aku tidak ke sini, mungkin karena aku belum siap menghadapi perasaan kehilangan yang kembali menyeruak setiap kali melihat barang-barangnya. Namun, sore ini, ada sesuatu yang menarik perhatianku.

Lemari tua di sudut ruangan tampak sedikit terbuka. Aku ingat betul, Ayah selalu menguncinya. Rasa penasaran menggelitik, dan aku pun mendekat. Dengan hati-hati, aku menarik pegangan lemari hingga pintunya terbuka lebar.

Di dalamnya, ada berbagai buku tua, beberapa catatan tangan, dan… sesuatu yang langsung membuat mataku terpaku.

Sebuah Jubah merah

Aku menelan ludah. Kainnya tampak begitu indah, dengan sulaman emas di tepiannya. Aku mengulurkan tangan, menyentuh permukaannya yang lembut. Entah mengapa, ada perasaan hangat yang menjalar dari ujung jari hingga ke dadaku.

Jubah ini… milik Ayah.

Aku mengambilnya dengan hati-hati, lalu membawanya ke ruang makan, tempat Ibu masih duduk sambil menikmati teh hangatnya.

“Ibu,” panggilku.

Ibu menoleh, lalu matanya membulat saat melihat apa yang kubawa. Aku bisa melihat ada kesedihan di sorot matanya, tetapi juga sesuatu yang lain… kebanggaan?

“Ini jubah Ayah, kan?” tanyaku, meski aku sudah tahu jawabannya.

Ibu mengangguk pelan. “Ya, Ruby. Itu jubah milik Ayah.”

Aku duduk di hadapannya, menggenggam jubah itu dengan erat. “Kenapa Ayah menyimpannya di lemari terkunci?” tanyaku lagi.

Ibu menghela napas panjang sebelum menjawab. “Jubah itu bukan sembarang jubah, Nak. Itu adalah peninggalan Ayah yang seharusnya diwariskan kepadamu.”

Dahiku berkerut. “Maksud Ibu?”

Ibu meletakkan cangkir tehnya, lalu menatapku dalam. “Kamu tahu kalau Ayah bukan hanya seorang psikolog biasa, bukan?”

Aku mengangguk. “Ayah sering bilang kalau dia bisa merasakan emosi orang lain dengan sangat kuat. Bahkan, kadang dia tahu apa yang kupikirkan sebelum aku mengatakannya.”

Ibu tersenyum tipis. “Bukan hanya itu, Ruby. Ayah memiliki kekuatan supranatural, dan jubah itu adalah bagian dari kekuatannya.”

Aku menatap jubah di tanganku dengan perasaan campur aduk. “Apa maksud Ibu? Kekuatan supranatural seperti apa?”

Ibu terdiam sejenak sebelum menjawab, suaranya penuh kehati-hatian. “Ayah memiliki kemampuan untuk membaca pikiran, merasakan energi seseorang, bahkan… mengendalikan ilusi.”

Aku tersentak. “Mengendalikan ilusi?”

Ibu mengangguk. “Jubah merah itu adalah medium kekuatannya. Tanpa jubah itu, Ayah tetap memiliki kemampuan dasarnya, tapi dengan jubah itu, kekuatannya bisa berkembang lebih jauh.”

Aku menggigit bibir. Ini terdengar seperti sesuatu yang hanya ada dalam cerita fantasi, tapi aku tahu Ibu tidak bercanda.

“Kenapa diberikan kepadaku?” tanyaku pelan.

Ibu tersenyum lembut. “Karena kamu adalah satu-satunya penerus gen Ayah. Kemampuan itu ada dalam dirimu juga, Ruby.”

Jantungku berdebar lebih cepat. Aku tidak pernah merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Aku hanya gadis biasa, seorang siswi kelas 8 di SMPN 15 Jakarta. Bagaimana mungkin aku memiliki kekuatan seperti Ayah?

“Aku tidak punya kemampuan apa pun,” kataku ragu.

Ibu menatapku dengan penuh keyakinan. “Belum, Ruby. Tapi suatu hari nanti, kamu akan menyadarinya. Dan jubah itu… akan membantumu menemukan siapa dirimu sebenarnya.”

Aku menatap jubah merah itu sekali lagi. Ada sesuatu yang menggelitik di dalam diriku, seolah-olah jubah ini memang memanggilku sejak awal.

Aku menarik napas dalam. Jika ini adalah warisan Ayah, aku akan menerimanya. Bahkan jika aku belum memahami semuanya sekarang, aku yakin Ayah pasti memiliki alasan mengapa jubah ini diberikan kepadaku.

Dan mungkin, inilah awal dari petualanganku sendiri.***

Kota Mojokerto, 21 Maret 2025

Penulis merupakan siswa SMP Islam Brawijaya, Kota Mojokerto