Tahta Tanpa Restu

Tahta Tanpa Restu
Sumber Foto : Pixabay

Di sebuah kerajaan yang megah bernama Arandra, ada seorang putra mahkota bernama Alaric. Sejak kecil, ia mempersiapkan diri untuk menggantikan ayahnya, Raja Ferros, sebagai penerus takhta. Namun, ada perbedaan mencolok antara mereka. Jika Raja Ferros memimpin dengan kebijaksanaan dan hati yang lembut, Alaric lebih tertarik pada kekuasaan absolut.

Alaric melihat takhta bukan hanya sebagai warisan, tetapi sebagai simbol kekuasaan tak terbatas. Selama bertahun-tahun, ia membentuk jaringan sekutu di balik layar, merangkul para bangsawan yang tamak dan jenderal yang berambisi. Tanpa memedulikan nilai-nilai moral, Alaric membuat kesepakatan kotor dan menyingkirkan orang-orang yang menghambatnya, dengan menggunakan cara-cara licik seperti fitnah, ancaman, hingga pembunuhan.

Ketika Raja Ferros jatuh sakit, saat penantian Alaric pun berujung. Persiapan penobatannya dengan megah, para pejabat, bangsawan, serta rakyat berkumpul di istana untuk menyaksikan peristiwa penting itu. Namun, ada satu sosok yang tak tampak di sana—Yasir, penasihat kerajaan yang bijaksana dan sahabat setia Raja Ferros. Yasir menolak menghadiri penobatan Alaric.

Pada pagi penobatan, Raja Ferros memanggil Alaric ke samping tempat tidurnya. Dengan suara lemah tapi penuh makna, sang raja berkata, “Alaric, hari ini kau akan menjadi raja. Tapi ingat, menjadi pemimpin bukan tentang berapa banyak kekuasaan yang kau miliki, melainkan seberapa besar pengabdianmu kepada rakyat.”

Alaric hanya menunduk, mengabaikan nasihat ayahnya. Baginya, kekuasaan adalah segalanya.

Sesaat sebelum mahkota diletakkan di atas kepalanya, Yasir tiba-tiba hadir di tengah aula. Semua mata tertuju padanya. Dengan suara lantang, ia berkata, “Rakyat Arandra, dengarkan aku! Putra mahkota ini telah menghalalkan segala cara untuk mencapai takhta. Dia telah mencemarkan kehormatan keluarga dan kerajaan kita!”

Kerumunan mulai resah, perasaan takut dan ragu menyebar. Alaric berusaha membela diri, tapi Yasir melanjutkan, “Seorang pemimpin yang berkhianat sebelum memegang kekuasaan hanya akan membawa kehancuran. Mungkin kau bisa merebut takhta, Alaric, tapi kau tak akan pernah mendapatkan restu.”

Raja Ferros, dengan kekuatan terakhirnya, menatap putranya dan berkata, “Restu dari kerajaan dan rakyat tak bisa dipaksakan, Alaric. Takhta itu harus diraih dengan kebijaksanaan, bukan tipu muslihat.”

Alaric pun terguncang. Semua rencananya yang dibangun selama bertahun-tahun seakan runtuh di depan mata. Yasir, rakyat, bahkan ayahnya sendiri tak mendukung penobatannya. Meski akhirnya menjadi raja, Alaric merasa kehampaan yang mendalam. Tanpa restu dari orang-orang terdekat dan rakyatnya, kekuasaannya terasa hampa. Kesalahan-kesalahannya terus menghantui.

Pada akhirnya, Alaric menyadari bahwa cara-cara liciknya telah menghancurkan hal yang paling berharga—kepercayaan, cinta, dan kehormatan. Ia duduk di atas takhta, tetapi tak pernah benar-benar menjadi seorang raja.

Setelah dinobatkan, Alaric mulai memimpin Kerajaan Arandra dengan kekuasaan mutlak. Ia menerapkan berbagai aturan yang keras, menekan kebebasan rakyat, serta menggunakan kekayaan kerajaan demi kepentingan dirinya dan sekutunya. Alaric yakin bahwa menunjukkan kekuatan akan membuat rakyat tunduk dan menghormatinya. Namun, keyakinannya keliru. Perlahan, rakyat kehilangan kepercayaan. Mereka melihat Alaric bukan sebagai pemimpin yang bijak, melainkan sebagai tiran yang hanya mencari kekuasaan.

Seiring berjalannya waktu, protes mulai bermunculan. Pemberontakan meletus di desa-desa perbatasan, dan perdagangan yang dulunya berkembang mulai merosot. Para bangsawan yang sebelumnya mendukung Alaric mulai meragukan keputusan mereka. Mereka sadar bahwa Alaric memimpin dengan rasa takut, bukan dengan hati yang bijaksana.

Suatu malam, Alaric duduk sendirian di ruang takhta yang megah. Kesunyian menghantui pikirannya. Mahkota yang ia kenakan terasa semakin berat, bukan karena materialnya, melainkan karena beban yang ia tanggung. Tak ada kehangatan, cinta, atau dukungan. Bahkan sekutunya mulai menjauh setelah melihat ketidakmampuannya menjaga kestabilan kerajaan.

Saat Alaric merenung, Yasir memasuki ruangan. Alaric memandangnya dengan tatapan lelah, tetapi tetap berusaha terlihat dingin.

“Kau datang untuk menghakimi lagi?” tanya Alaric dengan nada berat.

Yasir menggeleng perlahan. “Aku bukan datang untuk menghakimi. Aku ingin mengingatkanmu bahwa masih ada jalan keluar, meskipun itu mungkin sulit untuk kau terima.”

Alaric terdiam. Yasir mendekat dengan langkah tenang. “Kekuasaanmu tak akan bertahan lama jika kau terus memerintah dengan rasa takut. Tak ada pemimpin yang bisa selamanya bertahan di atas reruntuhan kepercayaan. Kau masih punya kesempatan, Alaric. Turunlah dari tahta, akui kesalahanmu, dan mulailah membangun kembali kepercayaan rakyatmu.”

Alaric menunduk, merenungi nasihat Yasir. Selama ini, ia berusaha menguasai takdir dengan segala cara, tetapi justru menghancurkan hal yang paling berharga. Kini, ia menyadari bahwa takhta tanpa restu hanyalah beban yang tak tertahankan.

Malam itu, Alaric memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan. Ia turun dari takhta dan dengan rendah hati meminta maaf kepada rakyatnya. Meski langkah ini menyakitkan, itu adalah awal yang penuh harapan untuk memulihkan kehormatan yang hilang.

Pesan Moral:

Kekuasaan yang diperoleh tanpa restu dan kepercayaan adalah kekuasaan yang kosong. Seorang pemimpin sejati harus memerintah dengan kebijaksanaan dan ketulusan hati, bukan hanya kekuatan.